Etika Politik Nabi Muhammad SAW (60) Mempersiapkan Khaira Ummah (3) .

Meskipun pem­binaan budaya dan peradaban harus di­anggap sebagai ses­uatu yang on-going process, tetapi bang­sa ini memerlukan dasar pijakan strategi pengembangan bu­daya yang diformulasikan di dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Ini penting demi viabilitas dan sustain­abilitas kebudayaan Indonesia sebagai warisan luhur bangsa.

Pertanyaan paling awal harus dijawab ketika berbicara tentang pembinaan umat ialah wujud umat dan masyarakat Indonesia seperti apa yang akan disiapkan di masa depan, tanpa harus mengutak-atik negara Pancasila yang sudah establish. Tema ini menjadi sangat penting karena dari sudut pandang pendidikan, berangga­pan bahwa wujud masyarakat masa depan dapat diorder melalui kulrikulum. Dengan kata lain, peran kurikulum sangat penting di dalam mempersiapkan umat sebagai warga bangsa masa depan. Tentu saja kita tidak menafikan peran faktor lain di dalam mewujudkan gagasan dimaksud.

Indonesia memiliki posisi penting di dalam mensponsori wacana ini. Bukan hanya untuk bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga oleh negara-negara lain. Indonesia bukan hanya sebagai negara muslim terbesar di dunia, tetapi juga mampu menampilkan diri sebagai con­toh yang dapat memadukan antara “masyarakat umat”, “masyarakat global”, dan “negara modern” sebagaimana dika­takan oleh Hillary R. Clinton: “If you want to know Islam, democracy, moder­nity, and women’s rights can coexist, go to Indonesia” (Jika engkau ingin melihat Islam, demokrasi, modernitas, dan hak-hak asasi perempuan hidup selaras, maka datanglah ke Indonesia).

Harapan itu juga terungkap langsung oleh Pangeran Ghazy, keluarga dan pe­nasehat senior Raja Abdullah, Yordania, bahwa Indonesia saat ini paling strat­egis memerankan diri sebagai negara model yang mampu menyandingkan antara modern state dan muslim society. Indonesia juga bebas dari pusat konflik konvensional, yaitu kawasan Israel dan Palestina, penduduk muslimnya terbe­sar, potensi dan sumber daya alamnya melimpah, penerapan sistem demokras­inya sudah selesai, dan didukung posisi geografis yang paling strategis. “Do for the new world!”, katanya.

Indonesia pasca Covid 19 sudah se­harusnya memiliki strategi pengemban­gan umat jangka panjang. Bangsa yang tidak menyiapkan generasi selanjutnya maka terancam akan menggadaikan negerinya kepada sebuah negeri yang maju. Apa jadinya masa depan sebuah desa/kelurahan tanpa memiliki kader keumatan yang baik?

]]> .
Meskipun pem­binaan budaya dan peradaban harus di­anggap sebagai ses­uatu yang on-going process, tetapi bang­sa ini memerlukan dasar pijakan strategi pengembangan bu­daya yang diformulasikan di dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Ini penting demi viabilitas dan sustain­abilitas kebudayaan Indonesia sebagai warisan luhur bangsa.

Pertanyaan paling awal harus dijawab ketika berbicara tentang pembinaan umat ialah wujud umat dan masyarakat Indonesia seperti apa yang akan disiapkan di masa depan, tanpa harus mengutak-atik negara Pancasila yang sudah establish. Tema ini menjadi sangat penting karena dari sudut pandang pendidikan, berangga­pan bahwa wujud masyarakat masa depan dapat diorder melalui kulrikulum. Dengan kata lain, peran kurikulum sangat penting di dalam mempersiapkan umat sebagai warga bangsa masa depan. Tentu saja kita tidak menafikan peran faktor lain di dalam mewujudkan gagasan dimaksud.

Indonesia memiliki posisi penting di dalam mensponsori wacana ini. Bukan hanya untuk bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga oleh negara-negara lain. Indonesia bukan hanya sebagai negara muslim terbesar di dunia, tetapi juga mampu menampilkan diri sebagai con­toh yang dapat memadukan antara “masyarakat umat”, “masyarakat global”, dan “negara modern” sebagaimana dika­takan oleh Hillary R. Clinton: “If you want to know Islam, democracy, moder­nity, and women’s rights can coexist, go to Indonesia” (Jika engkau ingin melihat Islam, demokrasi, modernitas, dan hak-hak asasi perempuan hidup selaras, maka datanglah ke Indonesia).

Harapan itu juga terungkap langsung oleh Pangeran Ghazy, keluarga dan pe­nasehat senior Raja Abdullah, Yordania, bahwa Indonesia saat ini paling strat­egis memerankan diri sebagai negara model yang mampu menyandingkan antara modern state dan muslim society. Indonesia juga bebas dari pusat konflik konvensional, yaitu kawasan Israel dan Palestina, penduduk muslimnya terbe­sar, potensi dan sumber daya alamnya melimpah, penerapan sistem demokras­inya sudah selesai, dan didukung posisi geografis yang paling strategis. “Do for the new world!”, katanya.

Indonesia pasca Covid 19 sudah se­harusnya memiliki strategi pengemban­gan umat jangka panjang. Bangsa yang tidak menyiapkan generasi selanjutnya maka terancam akan menggadaikan negerinya kepada sebuah negeri yang maju. Apa jadinya masa depan sebuah desa/kelurahan tanpa memiliki kader keumatan yang baik?
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories

Generated by Feedzy