Epidemiolog: Kasus Antigen Bekas Cuma Ada Di Indonesia, Pemerintah Harus Segera Turun Tangan

Epidemiolog Griffith University, Australia Dicky Budiman menyesalkan penggunaan alat test antigen bekas yang baru-baru ini terjadi di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Diingatkannya, praktik menyimpang semacam ini akan berdampak serius pada penanganan pandemi.

“Ini akan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penanganan pandemi, setidaknya di wilayah tersebut,” kata Dicky dalam keterangannya kepada RM.id, Kamis (29/4).

Bicara pandemi, lanjut Dicky, jika satu kasus saja salah penanganan, akan berdampak amat serius. Pandemi ini, bermula dari kasus satu orang terinfeksi yang tidak terdeteksi cepat. Sehingga, Dicky mengingatkan, adanya praktik korup, pengabaian, dan perilaku sejenis lainnya, jangan dianggap enteng.

“Satu saja sangat berdampak. Dalam epidemiologi itu ada namanya index case, itu satu kasus. Jadi dari satu itulah menjadi 100 juta di dunia. Sangat jelas ada dampaknya dan amat sangat serius,” ingatnya lagi.

Dicky meminta, pemerintah serius menuntaskan kasus ini. Harus ada langkah, respon cepat dan tepat dari pemerintah yakni dengan audit menyeluruh.

Tidak hanya soal testing saja, lanjut Dikcy, perlu evaluasi jenis strategi testing hingga karantina. “Kita sudah salah strategi, dampaknya amat serius. Lolosnya kasus baik WNI dan WNA, akan memperburuk pandemi. Semuanya harus dilihat, dari quality control, intervensi di tracing, isolasi, hingga karantina. Harus dievaluasi menyeluruh,” pintanya.

Apakah praktik semacam ini pernah berlangsung di negara lain? Dicky menyebut, ini baru kali pertama terjadi di Indonesia.

“Kalau praktik di dunia yang memakai barang bekas, saya cek, ini baru pertama di Indonesia. Kalau penipuan sertifikat, surat, adalah itu di belahan dunia lain. Tapi kalau penggunaan barang bekas, baru kali ini saya identifikasi hanya di Indonesia. Ini sangat memalukan, memprihatinkan, dan membahayakan,” pungkasnya. [FAQ]

]]> Epidemiolog Griffith University, Australia Dicky Budiman menyesalkan penggunaan alat test antigen bekas yang baru-baru ini terjadi di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Diingatkannya, praktik menyimpang semacam ini akan berdampak serius pada penanganan pandemi.

“Ini akan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penanganan pandemi, setidaknya di wilayah tersebut,” kata Dicky dalam keterangannya kepada RM.id, Kamis (29/4).

Bicara pandemi, lanjut Dicky, jika satu kasus saja salah penanganan, akan berdampak amat serius. Pandemi ini, bermula dari kasus satu orang terinfeksi yang tidak terdeteksi cepat. Sehingga, Dicky mengingatkan, adanya praktik korup, pengabaian, dan perilaku sejenis lainnya, jangan dianggap enteng.

“Satu saja sangat berdampak. Dalam epidemiologi itu ada namanya index case, itu satu kasus. Jadi dari satu itulah menjadi 100 juta di dunia. Sangat jelas ada dampaknya dan amat sangat serius,” ingatnya lagi.

Dicky meminta, pemerintah serius menuntaskan kasus ini. Harus ada langkah, respon cepat dan tepat dari pemerintah yakni dengan audit menyeluruh.

Tidak hanya soal testing saja, lanjut Dikcy, perlu evaluasi jenis strategi testing hingga karantina. “Kita sudah salah strategi, dampaknya amat serius. Lolosnya kasus baik WNI dan WNA, akan memperburuk pandemi. Semuanya harus dilihat, dari quality control, intervensi di tracing, isolasi, hingga karantina. Harus dievaluasi menyeluruh,” pintanya.

Apakah praktik semacam ini pernah berlangsung di negara lain? Dicky menyebut, ini baru kali pertama terjadi di Indonesia.

“Kalau praktik di dunia yang memakai barang bekas, saya cek, ini baru pertama di Indonesia. Kalau penipuan sertifikat, surat, adalah itu di belahan dunia lain. Tapi kalau penggunaan barang bekas, baru kali ini saya identifikasi hanya di Indonesia. Ini sangat memalukan, memprihatinkan, dan membahayakan,” pungkasnya. [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories