Elektabilitasnya Di Atas Risma Anies Unggul Tapi Belum Aman .

Elektabilitas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, hanya 42,5 persen dalam survei yang dirilis Median, Senin (15/2). Anies ditempel ketat Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini alias Risma, yang memiliki elektabilitas sebesar 23,5 persen.

Meski unggul dalam survei tersebut, elektabilitas Anies ini dinilai belum aman dan menjadi ancaman bagi seorang petahana. Seorang petahana mestinya memiliki elektabilitas minimal di angka 65 persen.

“Bagi petahana, elektabilitas 42 persen itu hampir lampu merah. Untuk mengunci kemenangan elektabilitas, petahana itu minimal 65 persen. Itu logika survei,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno kepada Rakyat Merdeka, Rabu (17/2).

Menurut Adi, jika di angka 65 persen, hanya peristiwa tertentu, seperti terlibat kasus korupsi yang bisa membuat Anies kalah. Berbeda dengan jika hanya berada di angka 40 persen, di mana Anies harus bekerja ekstra keras.

Apalagi, kata Adi, Risma yang notabene belum genap dua bulan menjabat Menteri Sosial dan berkantor di Jakarta, sudah menempel ketat Anies. Menurutnya, Risma menjadi pesaing kuat Anies jika maju dalam Pilgub DKI mendatang.

“Risma ini kan baru sebatas gosip. Baru sekali dua kali mendatangi para pemulung di Thamrin, mendatangi gorong-gorong, itu pun sekali dua kali belum apa-apa, tapi nama Risma sudah muncul,” ujarnya.

Adi mengatakan, Wakil Gubernur DKI, Ahmad Riza Patria juga akan menjadi lawan kuat Anies pada Pilgub DKI selanjutnya. Menurutnya, Risma dan Riza sama-sama berasal dari partai yang kini sedang dalam koalisi pemerintahan.

“Risma adalah representasi partai penguasa. Dua periode di republik ini. Apalagi Risma relatif sudah dikenal, sebagai Mensos. Sementara Riza Patria, dia disokong oleh partai penguasa. Koalisi Jokowi-Gerindra, yang saya kira penetrasi politiknya juga kuat,” katanya.

Lebih lanjut, Adi menyebut posisi Anies juga ditambah sulit lantaran dirinya tak memiliki partai. Untuk mendapat dukungan, Anies sudah harus melakukan pembicaraan dengan partai politik agar bisa maju kembali dalam Pilgub DKI.

Menurut Adi, jika Anies kembali terpilih sebagai Gubernur DKI, peluangnya maju dalam Pilpres 2024 semakin besar. Ia menyebut pelaksanaan Pilgub DKI pada 2022 tentu akan menguntungkan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.

“Selain dia tetap punya panggung politik, ya strategi borong partai,” pungkasnya. [NDA]

]]> .
Elektabilitas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, hanya 42,5 persen dalam survei yang dirilis Median, Senin (15/2). Anies ditempel ketat Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini alias Risma, yang memiliki elektabilitas sebesar 23,5 persen.

Meski unggul dalam survei tersebut, elektabilitas Anies ini dinilai belum aman dan menjadi ancaman bagi seorang petahana. Seorang petahana mestinya memiliki elektabilitas minimal di angka 65 persen.

“Bagi petahana, elektabilitas 42 persen itu hampir lampu merah. Untuk mengunci kemenangan elektabilitas, petahana itu minimal 65 persen. Itu logika survei,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno kepada Rakyat Merdeka, Rabu (17/2).

Menurut Adi, jika di angka 65 persen, hanya peristiwa tertentu, seperti terlibat kasus korupsi yang bisa membuat Anies kalah. Berbeda dengan jika hanya berada di angka 40 persen, di mana Anies harus bekerja ekstra keras.

Apalagi, kata Adi, Risma yang notabene belum genap dua bulan menjabat Menteri Sosial dan berkantor di Jakarta, sudah menempel ketat Anies. Menurutnya, Risma menjadi pesaing kuat Anies jika maju dalam Pilgub DKI mendatang.

“Risma ini kan baru sebatas gosip. Baru sekali dua kali mendatangi para pemulung di Thamrin, mendatangi gorong-gorong, itu pun sekali dua kali belum apa-apa, tapi nama Risma sudah muncul,” ujarnya.

Adi mengatakan, Wakil Gubernur DKI, Ahmad Riza Patria juga akan menjadi lawan kuat Anies pada Pilgub DKI selanjutnya. Menurutnya, Risma dan Riza sama-sama berasal dari partai yang kini sedang dalam koalisi pemerintahan.

“Risma adalah representasi partai penguasa. Dua periode di republik ini. Apalagi Risma relatif sudah dikenal, sebagai Mensos. Sementara Riza Patria, dia disokong oleh partai penguasa. Koalisi Jokowi-Gerindra, yang saya kira penetrasi politiknya juga kuat,” katanya.

Lebih lanjut, Adi menyebut posisi Anies juga ditambah sulit lantaran dirinya tak memiliki partai. Untuk mendapat dukungan, Anies sudah harus melakukan pembicaraan dengan partai politik agar bisa maju kembali dalam Pilgub DKI.

Menurut Adi, jika Anies kembali terpilih sebagai Gubernur DKI, peluangnya maju dalam Pilpres 2024 semakin besar. Ia menyebut pelaksanaan Pilgub DKI pada 2022 tentu akan menguntungkan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.

“Selain dia tetap punya panggung politik, ya strategi borong partai,” pungkasnya. [NDA]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories