Eks Atlet Dayung Bantah Mau Jual Medali Emas Saya Tak Mau Dituduh Mengemis Ke Negara

Mantan atlet dayung nasional, Leni Haini, membantah kabar yang menyebut dirinya mau menjual medali untuk biaya pengobatan anaknya. Dia menegaskan, saat ini, ekonomi keluarganya tidak seterpuruk dulu. Dia juga tidak mau dituduh mengemis ke negara.

Senin (15/2), sempat heboh berita Leni akan menjual medali-medali yang diraihnya selama menjadi atlet dulu. Hal itu dilakukan untuk membiayai pengobatan anaknya, Habibatul Fasia, yang kena penyakit epidermolysis bullosa (EB). Kulitnya rapuh dan mudah terluka. 

Berita heboh itu tak hanya dimuat media lokal tempat Leni tinggal, di Jambi, tapi juga beredar luas di media-media online mainstream nasional. Ada yang hanya memberitakan datar-datar, ada yang dalam bentuk video dengan narasi yang hampir beragam: Leni mau jual medali untuk obati anaknya.

Selang beberapa hari dari hebohnya berita tersebut, Leni menyatakan semua berita dirinya akan menjual medali itu adalah berita lawas. Hal itu disampaikan sendiri oleh Leni, dalam obrolan dengan Rakyat Merdeka, tadi malam. Kabar itu mencuat ketika temannya yang berprofesi wartawan mengunjungi rumahnya pada 2011. Saat itu, ekonomi keluarganya sedang drop. Semua habis dijual untuk membiayai pengobatan penyakit langka yang diderita putrinya. Termasuk rumah dan medalinya.

“Yang kuning-kuning ini emas ya Mba,” kisah Leni, menirukan pertanyaan temannya saat mengunjunginya pada 2011. “Kalau emas sudah kakak jual untuk biaya berobat Habibah,” jawabnya, ketika itu.

Ia tidak menyangka berita lama itu diangkat kembali dan viral di sosial media. Peraih medali emas SEA Games 1997 dan 1999 itu menduga, berita itu bermula dari akun Instagram (IG) yang mengunggah tentang dirinya tanpa izin dan konfirmasi dulu. 

“Di IG itu seolah-olah Pemerintah tidak perhatian kepada saya. Saya menangis, seakan-akan saya tidak terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan pemerintah,” ucapnya.

Ia mengaku beberapa kali mendapat bantuan dari Pemerintah, baik pusat maupun provinsi, untuk pengobatan anaknya. Tahun 2012, saat ia luntang-lantung di Jakarta, ketika membawa anaknya berobat, Pemprov Jambi turun tangan memberi tumpangan menginap di Mess Jambi. 

Tahun 2013, saat hendak kembali pulang kampung, ia mengantongi memo dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk diterima bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jambi. Bermodal memo itu, ia diterima menjadi tenaga honorer. Tugasnya ketika itu, melatih atlet dayung. Sayangnya, di 2016, kontraknya tak diperpanjang.

Alhasil, hampir 2 tahun ia menganggur. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk, ia memungut sampah yang ada di Danau Sipin, Jambi. Sampah-sampah itu diuangkan, yang kemudian berkembang menjadi Bank Sampah.

 

Danau Sipin yang sebelumnya kotor, bau, dan penuh dengan enceng gondok jadi bersih. Melihat ini, Pemprov Jambi tersentuh. Hingga ia bersama suami diangkat menjadi tenaga honorer di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat. “Gajinya Rp 1,8 juta per bulan. Dari situ lah kami membiayai kebutuhan sekolah,” ungkapnya.

Leni mengaku mendirikan sekolah untuk paket B, paket C, dan Paud. Dananya diperoleh dari Bank Sampah yang dikelola dan gaji honornya. Pintu rezekinya pun semakin terbuka.

Nasabah Bank Sampahnya terus meningkat, dari 20 orang menjadi 300 kepala keluarga. “Dari sinilah kami juga buat UMKM,” cerita Leni.

Rezekinya terus lancar. Di 2017, ia dihadiahi rumah oleh murid-muridnya dari Malaysia. Anak-anak dari negeri jiran itu datang ke tempatnya. Lalu dilatih dayung. “Alhamdulillah, setelah mereka pulang, lalu ikut kejuaraan dan menang. Kemudian dibangunlah rumah,” tuturnya.

Dengan kondisi ekonomi saat ini, apa cukup untuk membiayai pengobatan Habibah? “Cukup nggak cukup, Mas,” ujar Leni.

Ia membenarkan sempat ditelepon Sekretaris Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, sekitar 3 malam lalu. Setelah kabar dirinya mau menjual medali viral. “Beliau nanya kabar anak saya. Saya jawab, alhamdulillah Bibah sudah bisa jalan,” kata Leni, mengulangi percakapannya.

Meskipun kesal diramaikan berita mau menjual medali, namun Leni belum berniat membawa kasus itu ke ranah hukum. Ia hanya berharap kejadian ini tak terulang lagi. “Kalau mereka mau angkat, jangan angkat berita yang begitu. Angkatlah sekolah dan karya-karya kami,” pintanya.

Setelah ditelepon Gatot, ia mengaku dihubungi pihak BPJS Kesehatan. Leni sempat berpikir, pihak BPJS mau menagih tunggakannya. “Alhamdulilah, ternyata saya diberitahu menjadi penerima manfaat BPJS KIS sejak 2019. Tapi, selama ini kami tidak tahu,” ucapnya, bersyukur.

Gatot membenarkan sempat menelepon Leni. Meskipun, Leni menyebut kabar dirinya mau menjual medali untuk pengobatan anaknya itu hoaks, Gatot tetap akan membantu Leni. Sebab, penyakit putri Leni masih pengobatan. “Masih tetap dilanjutkan, seandainya membutuhkan,” kata Gatot, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [SAR]

]]> Mantan atlet dayung nasional, Leni Haini, membantah kabar yang menyebut dirinya mau menjual medali untuk biaya pengobatan anaknya. Dia menegaskan, saat ini, ekonomi keluarganya tidak seterpuruk dulu. Dia juga tidak mau dituduh mengemis ke negara.

Senin (15/2), sempat heboh berita Leni akan menjual medali-medali yang diraihnya selama menjadi atlet dulu. Hal itu dilakukan untuk membiayai pengobatan anaknya, Habibatul Fasia, yang kena penyakit epidermolysis bullosa (EB). Kulitnya rapuh dan mudah terluka. 

Berita heboh itu tak hanya dimuat media lokal tempat Leni tinggal, di Jambi, tapi juga beredar luas di media-media online mainstream nasional. Ada yang hanya memberitakan datar-datar, ada yang dalam bentuk video dengan narasi yang hampir beragam: Leni mau jual medali untuk obati anaknya.

Selang beberapa hari dari hebohnya berita tersebut, Leni menyatakan semua berita dirinya akan menjual medali itu adalah berita lawas. Hal itu disampaikan sendiri oleh Leni, dalam obrolan dengan Rakyat Merdeka, tadi malam. Kabar itu mencuat ketika temannya yang berprofesi wartawan mengunjungi rumahnya pada 2011. Saat itu, ekonomi keluarganya sedang drop. Semua habis dijual untuk membiayai pengobatan penyakit langka yang diderita putrinya. Termasuk rumah dan medalinya.

“Yang kuning-kuning ini emas ya Mba,” kisah Leni, menirukan pertanyaan temannya saat mengunjunginya pada 2011. “Kalau emas sudah kakak jual untuk biaya berobat Habibah,” jawabnya, ketika itu.

Ia tidak menyangka berita lama itu diangkat kembali dan viral di sosial media. Peraih medali emas SEA Games 1997 dan 1999 itu menduga, berita itu bermula dari akun Instagram (IG) yang mengunggah tentang dirinya tanpa izin dan konfirmasi dulu. 

“Di IG itu seolah-olah Pemerintah tidak perhatian kepada saya. Saya menangis, seakan-akan saya tidak terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan pemerintah,” ucapnya.

Ia mengaku beberapa kali mendapat bantuan dari Pemerintah, baik pusat maupun provinsi, untuk pengobatan anaknya. Tahun 2012, saat ia luntang-lantung di Jakarta, ketika membawa anaknya berobat, Pemprov Jambi turun tangan memberi tumpangan menginap di Mess Jambi. 

Tahun 2013, saat hendak kembali pulang kampung, ia mengantongi memo dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk diterima bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jambi. Bermodal memo itu, ia diterima menjadi tenaga honorer. Tugasnya ketika itu, melatih atlet dayung. Sayangnya, di 2016, kontraknya tak diperpanjang.

Alhasil, hampir 2 tahun ia menganggur. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk, ia memungut sampah yang ada di Danau Sipin, Jambi. Sampah-sampah itu diuangkan, yang kemudian berkembang menjadi Bank Sampah.

 

Danau Sipin yang sebelumnya kotor, bau, dan penuh dengan enceng gondok jadi bersih. Melihat ini, Pemprov Jambi tersentuh. Hingga ia bersama suami diangkat menjadi tenaga honorer di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat. “Gajinya Rp 1,8 juta per bulan. Dari situ lah kami membiayai kebutuhan sekolah,” ungkapnya.

Leni mengaku mendirikan sekolah untuk paket B, paket C, dan Paud. Dananya diperoleh dari Bank Sampah yang dikelola dan gaji honornya. Pintu rezekinya pun semakin terbuka.

Nasabah Bank Sampahnya terus meningkat, dari 20 orang menjadi 300 kepala keluarga. “Dari sinilah kami juga buat UMKM,” cerita Leni.

Rezekinya terus lancar. Di 2017, ia dihadiahi rumah oleh murid-muridnya dari Malaysia. Anak-anak dari negeri jiran itu datang ke tempatnya. Lalu dilatih dayung. “Alhamdulillah, setelah mereka pulang, lalu ikut kejuaraan dan menang. Kemudian dibangunlah rumah,” tuturnya.

Dengan kondisi ekonomi saat ini, apa cukup untuk membiayai pengobatan Habibah? “Cukup nggak cukup, Mas,” ujar Leni.

Ia membenarkan sempat ditelepon Sekretaris Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, sekitar 3 malam lalu. Setelah kabar dirinya mau menjual medali viral. “Beliau nanya kabar anak saya. Saya jawab, alhamdulillah Bibah sudah bisa jalan,” kata Leni, mengulangi percakapannya.

Meskipun kesal diramaikan berita mau menjual medali, namun Leni belum berniat membawa kasus itu ke ranah hukum. Ia hanya berharap kejadian ini tak terulang lagi. “Kalau mereka mau angkat, jangan angkat berita yang begitu. Angkatlah sekolah dan karya-karya kami,” pintanya.

Setelah ditelepon Gatot, ia mengaku dihubungi pihak BPJS Kesehatan. Leni sempat berpikir, pihak BPJS mau menagih tunggakannya. “Alhamdulilah, ternyata saya diberitahu menjadi penerima manfaat BPJS KIS sejak 2019. Tapi, selama ini kami tidak tahu,” ucapnya, bersyukur.

Gatot membenarkan sempat menelepon Leni. Meskipun, Leni menyebut kabar dirinya mau menjual medali untuk pengobatan anaknya itu hoaks, Gatot tetap akan membantu Leni. Sebab, penyakit putri Leni masih pengobatan. “Masih tetap dilanjutkan, seandainya membutuhkan,” kata Gatot, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [SAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories