Dunia Diteror Varian Omicron Tragedi Juli Semoga Tak Terulang Lagi

Setelah varian Delta mereda, dunia kini diteror varian Omicron. Varian baru Corona yang muncul di Afrika Selatan (Afsel) ini, disebut-sebut jauh lebih menular dan mengkhawatirkan. Berbagai negara mulai ketar-ketir. Indonesia yang pernah babak belur dihajar varian Delta, Juli lalu, diminta waspada, agar tragedi Juli itu, tidak sampai terulang lagi.

Markas WHO di Jenewa, Swiss pada Jumat (26/11) kemarin, tampak lebih sibuk dari biasanya. Para petinggi, peneliti, dan epidemiolog di organisasi kesehatan itu, tiba-tiba saja menggelar rapat dadakan. Agendanya satu, yaitu membahas virus Corona varian baru bernama ilmiah B.1.1.529. Virus varian tiba di WHO dari Afsel dua hari sebelumnya, atau 24 November.

Para peneliti buru-buru menggelar rapat karena khawatir dengan varian ini. Soalnya, sejumlah bukti menunjukkan varian ini menyebar lebih cepat dari varian lain. Dari data diketahui, varian ini pertama kali terdeteksi di Afsel dari spesimen yang diambil pada 9 November.

Namun, belum sampai satu bulan, virus ini sudah menyebar di hampir seluruh provinsi di Afsel. Bahkan sudah berkeliling dunia. Karena ditemukan juga di Botswana, serta muncul di Hong Kong, Belgia, dan Israel.

Usai rapat, WHO mengumumkan sejumlah keputusan. Organisasi yang dipimpin oleh Thedros Adhanom itu, menyatakan, virus varian ini memiliki sejumlah besar mutasi dan di antaranya mengkhawatirkan karena lebih cepat menular dari varian Delta.

“Bukti awal menunjukkan varian ini lebih cepat menular dan memiliki keunggulan dalam pertumbuhan,” tulis WHO, dalam keterangan tertulis seperti dikutip Reuters, kemarin.

WHO lalu memberi nama varian ini dengan nama Omicron, huruf ke-15 alfabet Yunani. WHO juga langsung memasukkan varian ini dalam kategori varian of concern (VoC). Artinya, virus ini masuk kelompok varian yang perlu diwaspadai paling tinggi karena dianggap lebih menular dan menyebabkan kematian. Kini, ada lima varian yang masuk dalam kelompok ini. Beberapa di antaranya adalah Alpha, Beta, dan Delta.

Seberapa besar bahayanya? WHO mengaku memerlukan beberapa pekan untuk mengetahui daya tular varian itu. Namun, WHO juga mengimbau kepada sejumlah negara untuk melakukan pengawasan di pintu masuk internasional dan segera melaporkan kepada WHO jika ditemukan infeksi kasus dari varian VoC.

Saat ini, tercatat ada sejumlah negara yang melaporkan adanya penemuan kasus aktif yang disebabkan varian Omicron. Yakni, Hong Kong, Belgia, Belanda, Israel dan Jerman Bostwana, Lesotho.

Untuk mencegah penularan makin meluas, sejumlah negara rame-rame menutup penerbangan dari beberapa negara yang sudah diserang Omicron. Inggris misalnya, menolak kedatangan turis dari Afsel, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, dan Eswatini. Amerika Serikat juga, per hari Senin besok, akan menutup akses masuk penerbangan dari Afsel, Botswana, Zimbabwe, Namibia, Lesotho, Eswatini, Mozambik dan Malawi. Negara lain yang sudah membatasi perjalanan dari Afsel dan sejumlah negara Afrika adalah Ceko, Jepang, Jerman, dan India.

 

Menanggapi laporan WHO itu, para ilmuwan dunia mencoba menenangkan. Kepala Badan Penyakit Menular (CDC) AS, Anthony Fauci mengatakan, laporan awal tentang varian Omicron memang mengkhawatirkan. Namun, ia yakin, vaksin kemungkinan masih bisa mencegah dampak buruk virus tersebut.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Profesor Richard Lassells, dari Universitas KwaZulu-Natal di Afrika Selatan. Dia bilang, Omicron memang tampak mengkhawatirkan karena memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, meningkatkan kemampuan untuk menyebar dari orang ke orang.

Namun, kata dia, ada banyak contoh varian yang tampak menakutkan di atas kertas, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Misalnya, varian Beta. Awalnya, varian ini disebut dikhawatirkan karena mampu menghindari kekebalan tubuh. Tetapi ternyata varian Delta jauh lebih berbahaya dari Beta dan membuat sejumlah negara tak berdaya.

Selain diteror Omicron, saat ini sejumlah negara diketahui masih babak belur dihajar varian Delta. Indonesia pernah mengalami kondisi darurat akibat serangan Delta. Gelombang kedua yang terjadi di bulan Juni-Juli, kasus aktif Corona akibat serangan Delta meledak di berbagai daerah.

Bersyukur, varian yang berasal dari India itu, mampu dijinakkan dalam waktu sekitar 2 bulan. Dalam beberapa pekan terakhir, kasus aktif Corona di dalam negeri terus menunjukkan penurunan. Begitu juga angka kematian yang sebelumnya cukup tinggi, juga berhasil ditekan.

Namun, munculnya varian Omicron ini membuat berbagai kalangan di tanah air mendesak agar pemerintah tetap waspada dan ikut mengetatkan pintu masuk WNA ke dalam negeri.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban meminta pemerintah segera melakukan mitigasi terhadap varian Omicron ini. Tujuannya, agar serangan Delta pada Juli lalu, tak terulang lagi.

“Pelbagai negara langsung membatasi penerbangan. Indonesia pun harusnya punya mitigasi, termasuk mempertimbangkan untuk batasi akses penerbangan ke dan dari negara tertentu,” sebut Zubairi dalam akun Twitternya @ProfesorZubairi, kemarin.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengaku khawatir dengan varian Omicron ini. Karena WHO langsung memasukkannya dalam kategori VoC, kategori kewaspadaan tertinggi. Menurut dia, ini menandakan Omicron sangat serius. Karena umumnya varian yang baru itu lebih dulu masuk “variant under investigation” atau “variant of interest” sebelum masuk kelompok VoC.

 

“Tapi ini langsung lompat, dan ini menjadi satu-satunya varian baru yang langsung menjadi varian mengkhawatirkan,” kata Dicky, dalam keterangan tertulis, kemarin.

Ia menduga, varian ini bisa lima kali lipat lebih mudah menular daripada varian Delta. Karena itu, ia meminta pemerintah segera meningkatkan kewaspadaan. Ia khawatir virus ini memicu gelombang ketiga dan menyebabkan tragedi seperti yang terjadi pada Juli lalu.

Ia mengimbau masyarakat dan Pemerintah Indonesia memperkuat aksi pencegahan dengan memperkuat protokol kesehatan, yakni dengan memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, dan menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. “Inilah yang salah satu mendasari kenapa saya juga memprediksi ada gelombang berikutnya, dalam hal ini, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia,” pungkasnya.

Apa tanggapan pemerintah? Satgas Covid-19 memastikan, pemerintah akan waspada dan tanggap dalam mencegah varian Omicron masuk ke Indonesia. Besok (29/11), Satgas akan menggelar rapat koordinasi untuk melakukan evaluasi dan perubahan dalam berbagai kebijakan terkait teror Omicron yang kini melanda dunia.

“Sumbernya memang di Afrika Selatan, tetapi tidak menutup kemungkinan di negara lain, jadi kami perlu koordinasi untuk evaluasi di segala bidang,” ujar Kabid Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting, Sabtu (27/11).

Salah satu hal yang bisa berubah sesuai dinamika munculnya varian Omicron adalah terkait surat edaran karantina. “Surat edaran soal karantina perjalanan dari luar negeri bisa dievaluasi,” ucapnya.

Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa Indonesia akan lebih waspada dengan varian baru ini agar tidak terulang lagi seperti varian Delta sebelumnya.

Pemerintah juga akan memperketat seluruh pintu masuk ke Indonesia. Seperti pekerja migran dari Hong Kong yang akan mudik.

Jubir Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah menyatakan imigrasi sudah mengeluarkan pemberitahuan, tidak membolehkan masuk ke RI untuk mereka yang lakukan perjalanan dari Afsel. [BCG]

]]> Setelah varian Delta mereda, dunia kini diteror varian Omicron. Varian baru Corona yang muncul di Afrika Selatan (Afsel) ini, disebut-sebut jauh lebih menular dan mengkhawatirkan. Berbagai negara mulai ketar-ketir. Indonesia yang pernah babak belur dihajar varian Delta, Juli lalu, diminta waspada, agar tragedi Juli itu, tidak sampai terulang lagi.

Markas WHO di Jenewa, Swiss pada Jumat (26/11) kemarin, tampak lebih sibuk dari biasanya. Para petinggi, peneliti, dan epidemiolog di organisasi kesehatan itu, tiba-tiba saja menggelar rapat dadakan. Agendanya satu, yaitu membahas virus Corona varian baru bernama ilmiah B.1.1.529. Virus varian tiba di WHO dari Afsel dua hari sebelumnya, atau 24 November.

Para peneliti buru-buru menggelar rapat karena khawatir dengan varian ini. Soalnya, sejumlah bukti menunjukkan varian ini menyebar lebih cepat dari varian lain. Dari data diketahui, varian ini pertama kali terdeteksi di Afsel dari spesimen yang diambil pada 9 November.

Namun, belum sampai satu bulan, virus ini sudah menyebar di hampir seluruh provinsi di Afsel. Bahkan sudah berkeliling dunia. Karena ditemukan juga di Botswana, serta muncul di Hong Kong, Belgia, dan Israel.

Usai rapat, WHO mengumumkan sejumlah keputusan. Organisasi yang dipimpin oleh Thedros Adhanom itu, menyatakan, virus varian ini memiliki sejumlah besar mutasi dan di antaranya mengkhawatirkan karena lebih cepat menular dari varian Delta.

“Bukti awal menunjukkan varian ini lebih cepat menular dan memiliki keunggulan dalam pertumbuhan,” tulis WHO, dalam keterangan tertulis seperti dikutip Reuters, kemarin.

WHO lalu memberi nama varian ini dengan nama Omicron, huruf ke-15 alfabet Yunani. WHO juga langsung memasukkan varian ini dalam kategori varian of concern (VoC). Artinya, virus ini masuk kelompok varian yang perlu diwaspadai paling tinggi karena dianggap lebih menular dan menyebabkan kematian. Kini, ada lima varian yang masuk dalam kelompok ini. Beberapa di antaranya adalah Alpha, Beta, dan Delta.

Seberapa besar bahayanya? WHO mengaku memerlukan beberapa pekan untuk mengetahui daya tular varian itu. Namun, WHO juga mengimbau kepada sejumlah negara untuk melakukan pengawasan di pintu masuk internasional dan segera melaporkan kepada WHO jika ditemukan infeksi kasus dari varian VoC.

Saat ini, tercatat ada sejumlah negara yang melaporkan adanya penemuan kasus aktif yang disebabkan varian Omicron. Yakni, Hong Kong, Belgia, Belanda, Israel dan Jerman Bostwana, Lesotho.

Untuk mencegah penularan makin meluas, sejumlah negara rame-rame menutup penerbangan dari beberapa negara yang sudah diserang Omicron. Inggris misalnya, menolak kedatangan turis dari Afsel, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, dan Eswatini. Amerika Serikat juga, per hari Senin besok, akan menutup akses masuk penerbangan dari Afsel, Botswana, Zimbabwe, Namibia, Lesotho, Eswatini, Mozambik dan Malawi. Negara lain yang sudah membatasi perjalanan dari Afsel dan sejumlah negara Afrika adalah Ceko, Jepang, Jerman, dan India.

 

Menanggapi laporan WHO itu, para ilmuwan dunia mencoba menenangkan. Kepala Badan Penyakit Menular (CDC) AS, Anthony Fauci mengatakan, laporan awal tentang varian Omicron memang mengkhawatirkan. Namun, ia yakin, vaksin kemungkinan masih bisa mencegah dampak buruk virus tersebut.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Profesor Richard Lassells, dari Universitas KwaZulu-Natal di Afrika Selatan. Dia bilang, Omicron memang tampak mengkhawatirkan karena memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, meningkatkan kemampuan untuk menyebar dari orang ke orang.

Namun, kata dia, ada banyak contoh varian yang tampak menakutkan di atas kertas, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Misalnya, varian Beta. Awalnya, varian ini disebut dikhawatirkan karena mampu menghindari kekebalan tubuh. Tetapi ternyata varian Delta jauh lebih berbahaya dari Beta dan membuat sejumlah negara tak berdaya.

Selain diteror Omicron, saat ini sejumlah negara diketahui masih babak belur dihajar varian Delta. Indonesia pernah mengalami kondisi darurat akibat serangan Delta. Gelombang kedua yang terjadi di bulan Juni-Juli, kasus aktif Corona akibat serangan Delta meledak di berbagai daerah.

Bersyukur, varian yang berasal dari India itu, mampu dijinakkan dalam waktu sekitar 2 bulan. Dalam beberapa pekan terakhir, kasus aktif Corona di dalam negeri terus menunjukkan penurunan. Begitu juga angka kematian yang sebelumnya cukup tinggi, juga berhasil ditekan.

Namun, munculnya varian Omicron ini membuat berbagai kalangan di tanah air mendesak agar pemerintah tetap waspada dan ikut mengetatkan pintu masuk WNA ke dalam negeri.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban meminta pemerintah segera melakukan mitigasi terhadap varian Omicron ini. Tujuannya, agar serangan Delta pada Juli lalu, tak terulang lagi.

“Pelbagai negara langsung membatasi penerbangan. Indonesia pun harusnya punya mitigasi, termasuk mempertimbangkan untuk batasi akses penerbangan ke dan dari negara tertentu,” sebut Zubairi dalam akun Twitternya @ProfesorZubairi, kemarin.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengaku khawatir dengan varian Omicron ini. Karena WHO langsung memasukkannya dalam kategori VoC, kategori kewaspadaan tertinggi. Menurut dia, ini menandakan Omicron sangat serius. Karena umumnya varian yang baru itu lebih dulu masuk “variant under investigation” atau “variant of interest” sebelum masuk kelompok VoC.

 

“Tapi ini langsung lompat, dan ini menjadi satu-satunya varian baru yang langsung menjadi varian mengkhawatirkan,” kata Dicky, dalam keterangan tertulis, kemarin.

Ia menduga, varian ini bisa lima kali lipat lebih mudah menular daripada varian Delta. Karena itu, ia meminta pemerintah segera meningkatkan kewaspadaan. Ia khawatir virus ini memicu gelombang ketiga dan menyebabkan tragedi seperti yang terjadi pada Juli lalu.

Ia mengimbau masyarakat dan Pemerintah Indonesia memperkuat aksi pencegahan dengan memperkuat protokol kesehatan, yakni dengan memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, dan menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. “Inilah yang salah satu mendasari kenapa saya juga memprediksi ada gelombang berikutnya, dalam hal ini, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia,” pungkasnya.

Apa tanggapan pemerintah? Satgas Covid-19 memastikan, pemerintah akan waspada dan tanggap dalam mencegah varian Omicron masuk ke Indonesia. Besok (29/11), Satgas akan menggelar rapat koordinasi untuk melakukan evaluasi dan perubahan dalam berbagai kebijakan terkait teror Omicron yang kini melanda dunia.

“Sumbernya memang di Afrika Selatan, tetapi tidak menutup kemungkinan di negara lain, jadi kami perlu koordinasi untuk evaluasi di segala bidang,” ujar Kabid Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting, Sabtu (27/11).

Salah satu hal yang bisa berubah sesuai dinamika munculnya varian Omicron adalah terkait surat edaran karantina. “Surat edaran soal karantina perjalanan dari luar negeri bisa dievaluasi,” ucapnya.

Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa Indonesia akan lebih waspada dengan varian baru ini agar tidak terulang lagi seperti varian Delta sebelumnya.

Pemerintah juga akan memperketat seluruh pintu masuk ke Indonesia. Seperti pekerja migran dari Hong Kong yang akan mudik.

Jubir Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah menyatakan imigrasi sudah mengeluarkan pemberitahuan, tidak membolehkan masuk ke RI untuk mereka yang lakukan perjalanan dari Afsel. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories