Dukung Wisata Premium Labuan Bajo Pertamina Gaet Pelindo III Bangun Infrastruktur BBM

Dua perusahaan pelat merah, PT Pertamina (Persero) dan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III melakukan ground breaking (peletakan batu pertama) proyek pembangunan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Turut hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, serta Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati  mengatakan, proyek infrastruktur BBM Labuan Bajo merupakan milestone penting bagi Indonesia. Hal ini  sejalan dengan program pemerintah dalam menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi premium pariwisata.

Menurut Nicke, pembangunan TBBM berkapasitas 1.500 KL (kilo liter) akan meningkatkan kehandalan suplai BBM dan avtur. Serta memenuhi kebutuhan energi bagi masyarakat Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai. “Dengan hadirnya TBBM ini, maka ketahanan stok akan meningkat menjadi sekitar 17 hari. Sekaligus meningkatkan penggunaan BBM berkualitas tinggi yang ramah lingkungan,” ujarnya, usai ground breaking TBBM di Labuan Bajo, Jumat (26/3).

Ia menjelaskan, pasokan BBM saat ini disuplai dari empat TBBM, di mana lokasi terdekat berjarak 200 kilo meter (Km). Apalagi Avtur di supply dari TBBM yang berjarak 400 Km dengan waktu tempuh 10 jam. Karenanya, dengan pembangunan TBBM Labuan Bajo ini akan menambah kualitas layanan Pertamina.

“Khususnya, untuk mendukung switching konsumen ke BBK (Bahan Bakar Khusus). Sehingga sejalan dengan program pemerintah NTT dalam menginisiasi clean energy,” katanya.
Ia pun memastikan, komitmen ini akan terus berlanjut untuk terus mendukung destinasi wisata dan pengembangan daerah lain, seperti kawasan industri, kawasan ekonomi khusus dan lain-lain.

Direktur Utama Pelindo III Boy Robyanto mengatakan, keberadaan terminal BBM di Terminal Multipurpose Pelabuhan Labuan Bajo, merupakan bagian dari konsep pelabuhan sebagai pendukung ketahanan energi. Ia menilai, fasilitas pelabuhan yang memadai untuk lalu lintas barang dan energi, sangat dibutuhkan untuk mendukung kemajuan ekonomi suatu daerah.
Karena itu, keberadaan Terminal Multipurpose Pelabuhan Labuan Bajo sekaligus untuk mengantisipasi peningkatan arus logistik. Terutama pasca Labuan Bajo ditetapkan sebagai tujuan wisata super premium.

“Secara keseluruhan, pelabuhan ini memiliki luas area 6 hektar (Ha) dan dipergunakan untuk kegiatan petikemas, general cargo, dan curah cair (BBM),” katanya.
Selain itu, terminal Multipurpose ini juga akan didukung dengan dermaga sepanjang 120 meter, lapangan penumpukan sisi laut seluas 3 Ha dengan kapasitas petikemas mencapai 75.000 TEUs per tahun.

Sedangkan area darat seluas 3 Ha untuk area kantor dan fasilitas penunjang kegiatan operasional serta Terminal BBM. “Pembangunan secara fisik saat ini sudah mencapai 97 persen, dengan target selesai pada akhir April 2021,” ungkapnya [IMA]

]]> Dua perusahaan pelat merah, PT Pertamina (Persero) dan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III melakukan ground breaking (peletakan batu pertama) proyek pembangunan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Turut hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, serta Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati  mengatakan, proyek infrastruktur BBM Labuan Bajo merupakan milestone penting bagi Indonesia. Hal ini  sejalan dengan program pemerintah dalam menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi premium pariwisata.

Menurut Nicke, pembangunan TBBM berkapasitas 1.500 KL (kilo liter) akan meningkatkan kehandalan suplai BBM dan avtur. Serta memenuhi kebutuhan energi bagi masyarakat Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai. “Dengan hadirnya TBBM ini, maka ketahanan stok akan meningkat menjadi sekitar 17 hari. Sekaligus meningkatkan penggunaan BBM berkualitas tinggi yang ramah lingkungan,” ujarnya, usai ground breaking TBBM di Labuan Bajo, Jumat (26/3).

Ia menjelaskan, pasokan BBM saat ini disuplai dari empat TBBM, di mana lokasi terdekat berjarak 200 kilo meter (Km). Apalagi Avtur di supply dari TBBM yang berjarak 400 Km dengan waktu tempuh 10 jam. Karenanya, dengan pembangunan TBBM Labuan Bajo ini akan menambah kualitas layanan Pertamina.

“Khususnya, untuk mendukung switching konsumen ke BBK (Bahan Bakar Khusus). Sehingga sejalan dengan program pemerintah NTT dalam menginisiasi clean energy,” katanya.
Ia pun memastikan, komitmen ini akan terus berlanjut untuk terus mendukung destinasi wisata dan pengembangan daerah lain, seperti kawasan industri, kawasan ekonomi khusus dan lain-lain.

Direktur Utama Pelindo III Boy Robyanto mengatakan, keberadaan terminal BBM di Terminal Multipurpose Pelabuhan Labuan Bajo, merupakan bagian dari konsep pelabuhan sebagai pendukung ketahanan energi. Ia menilai, fasilitas pelabuhan yang memadai untuk lalu lintas barang dan energi, sangat dibutuhkan untuk mendukung kemajuan ekonomi suatu daerah.
Karena itu, keberadaan Terminal Multipurpose Pelabuhan Labuan Bajo sekaligus untuk mengantisipasi peningkatan arus logistik. Terutama pasca Labuan Bajo ditetapkan sebagai tujuan wisata super premium.

“Secara keseluruhan, pelabuhan ini memiliki luas area 6 hektar (Ha) dan dipergunakan untuk kegiatan petikemas, general cargo, dan curah cair (BBM),” katanya.
Selain itu, terminal Multipurpose ini juga akan didukung dengan dermaga sepanjang 120 meter, lapangan penumpukan sisi laut seluas 3 Ha dengan kapasitas petikemas mencapai 75.000 TEUs per tahun.

Sedangkan area darat seluas 3 Ha untuk area kantor dan fasilitas penunjang kegiatan operasional serta Terminal BBM. “Pembangunan secara fisik saat ini sudah mencapai 97 persen, dengan target selesai pada akhir April 2021,” ungkapnya [IMA]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories