Dukung PPKM Mikro Jawa Timur Sudah Siapkan Kampung Tangguh Sejak 8 Bulan Lalu .

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa Timur menunjukkan hasil yang relatif signifikan. Ada sejumlah capaian menggembirakan, antara lain, turunnya zona merah menjadi tinggal dua Kabupaten/Kota.

Selain itu, Bed Occupancy Rate (BOR) atau tingkat keterisian tempat tidur isolasi juga terus menurun. Jika sebelum PPKM, BOR isolasi bisa mencapai 79 persen, kini turun menjadi 55 persen. Sementara BOR ICU dari 73 persen menjadi 67 persen.

Meski capaiannya cukup menggembirakan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tak mau berpuas diri. Dia akan tetap berkomitmen menjalankan PPKM mikro, sesuai arahan Presiden Jokowi. Khofifah menyatakan, Jawa Timur punya modal sosial yang telah dipupuk sejak 8 bulan yang lalu, yakni Satuan Kampung Tangguh.

“Jadi kami berkomitmen melaksanakan PPKM Mikro melalui salah satu embrio yang dimiliki sejak 8 bulan lalu yaitu Kampung Tangguh,” terang Khofifah, di Kampung Tangguh Semeru desa Ngale kecamatan Pilang Kenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minggu (7/2).

Khofifah menjelaskan, Kampung Tangguh merupakan inovasi yang diciptakan Polda Jawa Timur bersama Pemprov Jawa Timur, Kodam V Brawijaya, dan Pemerintah Kota/Kabupaten, serta perguruan tinggi, untuk menciptakan satuan terkecil.

Satuan terkecil ini berbasis partisipasi masyarakat yang mampu bergotong-royong dalam penanganan Covid-19. Inovasi ini sesuai dengan rekomendasi World Health Organization (WHO) yang menyebut, penanganan Covid-19 harus dapat melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kampung Tangguh dapat berbasis RT, RW, kelurahan maupun desa.

“Kampung Tangguh yang sudah ada di Jatim ini tentunya adalah suatu bentuk kearifan lokal yang akan membantu masyarakat melaksanakan edukasi protokol kesehatan Covid-19,” imbuh eks menteri sosial (mensos) ini.

Khofifah menyebut, kebersamaan dalam pelaksanaan kampung tangguh juga akan menciptakan empathy building dan social bonding dalam pelaksanaan PPKM Mikro serta untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Hingga hari ini, (7/2), jumlah Kampung Tangguh di Jawa Timur telah mencapai 3.160. Jumlah ini akan terus bertambah.

Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No 3 tahun 2021, Jawa Timur termasuk dalam daerah yang mendapatkan instruksi untuk pelaksanaan PPKM mikro dengan daerah prioritas Malang Raya, Surabaya Raya dan Madiun Raya. Pemberlakuan PPKM Mikro akan dilaksanakan pada 9-22 Februari 2021.

Khofifah berharap, pelaksanaan PPKM mikro berjalan lancar. “Tentunya dengan dukungan seluruh elemen baik TNI, Polri, serta masyarakat. Utamanya, dengan terus memperkuat dan memberdayakan keberadaan Kampung Tangguh yang memang sudah kita terapkan di Jatim,” tandas Khofifah. [SAR]

]]> .
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa Timur menunjukkan hasil yang relatif signifikan. Ada sejumlah capaian menggembirakan, antara lain, turunnya zona merah menjadi tinggal dua Kabupaten/Kota.

Selain itu, Bed Occupancy Rate (BOR) atau tingkat keterisian tempat tidur isolasi juga terus menurun. Jika sebelum PPKM, BOR isolasi bisa mencapai 79 persen, kini turun menjadi 55 persen. Sementara BOR ICU dari 73 persen menjadi 67 persen.

Meski capaiannya cukup menggembirakan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tak mau berpuas diri. Dia akan tetap berkomitmen menjalankan PPKM mikro, sesuai arahan Presiden Jokowi. Khofifah menyatakan, Jawa Timur punya modal sosial yang telah dipupuk sejak 8 bulan yang lalu, yakni Satuan Kampung Tangguh.

“Jadi kami berkomitmen melaksanakan PPKM Mikro melalui salah satu embrio yang dimiliki sejak 8 bulan lalu yaitu Kampung Tangguh,” terang Khofifah, di Kampung Tangguh Semeru desa Ngale kecamatan Pilang Kenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minggu (7/2).

Khofifah menjelaskan, Kampung Tangguh merupakan inovasi yang diciptakan Polda Jawa Timur bersama Pemprov Jawa Timur, Kodam V Brawijaya, dan Pemerintah Kota/Kabupaten, serta perguruan tinggi, untuk menciptakan satuan terkecil.

Satuan terkecil ini berbasis partisipasi masyarakat yang mampu bergotong-royong dalam penanganan Covid-19. Inovasi ini sesuai dengan rekomendasi World Health Organization (WHO) yang menyebut, penanganan Covid-19 harus dapat melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kampung Tangguh dapat berbasis RT, RW, kelurahan maupun desa.

“Kampung Tangguh yang sudah ada di Jatim ini tentunya adalah suatu bentuk kearifan lokal yang akan membantu masyarakat melaksanakan edukasi protokol kesehatan Covid-19,” imbuh eks menteri sosial (mensos) ini.

Khofifah menyebut, kebersamaan dalam pelaksanaan kampung tangguh juga akan menciptakan empathy building dan social bonding dalam pelaksanaan PPKM Mikro serta untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Hingga hari ini, (7/2), jumlah Kampung Tangguh di Jawa Timur telah mencapai 3.160. Jumlah ini akan terus bertambah.

Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No 3 tahun 2021, Jawa Timur termasuk dalam daerah yang mendapatkan instruksi untuk pelaksanaan PPKM mikro dengan daerah prioritas Malang Raya, Surabaya Raya dan Madiun Raya. Pemberlakuan PPKM Mikro akan dilaksanakan pada 9-22 Februari 2021.

Khofifah berharap, pelaksanaan PPKM mikro berjalan lancar. “Tentunya dengan dukungan seluruh elemen baik TNI, Polri, serta masyarakat. Utamanya, dengan terus memperkuat dan memberdayakan keberadaan Kampung Tangguh yang memang sudah kita terapkan di Jatim,” tandas Khofifah. [SAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories