Dukung Pemanfaatan EBT AP II Targetkan 20 Bandara Pakai PLTS Pada 2025

PT Angkasa Pura II (AP II) berkomitmen dalam pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di seluruh bandara yang dikelola perseroan. Perusahaan pelat merah itu pun menargetkan 20 bandara yang dikelolanya pada 2025 bisa pakai pembangkit listrik tenaga surya.

President Director AP II Muhammad Awaluddin mengatakan, penggunaan EBT di bandara sejalan dengan kesepakatan antara Airport Council International (ACI) dan seluruh operator bandara di dunia untuk mendukung program global Net Zero Carbon Emission 2050.

Hal tersebut dikatakan Awaluddin  saat menjadi keynote speaker dalam webinar Peran Renewable Energy Dalam Meningkatkan Competitivenes Pada Era Industri 4.0 yang digelar Universitas Sriwijaya pada Sabtu (12/2).

Webinar ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor Universitas Sriwijaya Prof Zainuddin Nawawi, Direktur Teknik Ditjen Gatrik Kementerian ESDM Ir Wanhar, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Ir Bob Saril, dan Senior EVP Manajemen Risiko PLN Ir. Chairani Rachmatullah.

Awaluddin mengatakan, bandara menyumbang sekitar 2 persen emisi karbon dari total pangsa global. Sehingga untuk mengurangi emisi karbon tersebut, operator bandara harus berkomitmen menggunakan energi baru terbarukan hampir di seluruh aspek operasional dan pelayanan.

“Sejalan dengan ini, AP II menanamkan semangat kepedulian lingkungan di industri penerbangan nasional melalui pemanfaatan EBT, dan kami ingin terus berkontribusi terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Menurut dia, pemanfaatan EBT di lingkungan AP II sangat mendukung implementasi teknologi dalam mewujudkan smart airport sehingga meningkatkan daya saing (competitiveness) bandara-bandara AP II di era Industry 4.0.

“AP II telah memiliki masterplan pengembangan Eco Airport periode 2021-2030, di mana Eco Airport ini mendukung visi perusahaan menjadi Smart & Connected Airport. Pemanfaatan EBT di bandara AP II akan menggunakan teknologi-teknologi baru, yang bisa diintegrasikan dengan teknologi eksisting,” beber Awaluddin.

Adapun di dalam masterplan Eco Airport 2021-2030, AP II fokus pada pemanfaatan PLTS sebagai energi baru terbarukan. Pada fase pertama, perseroan akan memasang PLTS di atap bangunan di sejumlah gedung di Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kualanamu dan Bandara Banyuwangi dengan kapasitas 1,83 MWp (megawatt peak).

Kemudian pada fase kedua yakni tahun ini direncanakan penggunaan PLTS Atap mencapai EBT 3,78 MWp. Selanjutnya pada fase ketiga yaitu 2023-2025 direncanakan pemanfaatan PLTS di atas tanah (ground mounted) berkapasitas 18,69 MWp dan PLTS terapung (floating) berkapasitas 1,8 MWp.

“Pada 2025, ditargetkan seluruh 20 bandara AP II telah memiliki PLTS dengan kapasitas 26,34 MWp,” ungkap Awaluddin.

 

Awaluddin menambahkan, penggunaan EBT yang sangat efisien dari sisi biaya akan sangat membantu bandara dalam menghadapi tantangan akibat pandemi Covid-19, karena listrik merupakan salah satu kontributor terbesar biaya operasional di bandara.

“Penggunaan teknologi dan keunggulan dari sisi biaya membuat pemanfaatan EBT dapat meningkatkan daya saing bandara-bandara AP II di era Industry 4.0,” tukas Awaluddin.

Di dalam pemanfaatan EBT ini, AP II mempersiapkan 3 aspek penting yakni SDM, Proses dan Teknologi. Aspek SDM terkait dengan kompetensi teknik kelistrikan berbasis energi baru terbarukan.

Kemudian, proses terkait prosedur baku dalam pengoperasian energi baru terbarukan yang efektif dan efisien. Sedangkan, teknologi terkait dengan penggunaan platform yang tepat guna mengoperasikan energi baru terbarukan.

Adapun terkait penggunaan teknologi kelistrikan, AP II saat ini juga telah membangun sistem yang dinamakan MANTRI (Monitoring System of Airport and Non-Airport Threshold Electrical Infrastructure) guna mengendalikan dan memonitor secara real time penggunaan energi di lingkungan AP II.

Sementara, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril mengatakan, transisi ke pemanfaatan EBT memerlukan dukungan seluruh pihak. “Di dalam transisi ini, kerja sama komponen masyarakat sangat penting. Adanya kerja sama dalam hal regulasi, masalah pendanaan, serta teknologi yang juga harus mendukung,” jelasnya.

Sementara itu, Senior EVP Manajemen Risiko PLN, Chairani Rachmatullah mengatakan, PLN menargetkan bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025. [DIT]

]]> PT Angkasa Pura II (AP II) berkomitmen dalam pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di seluruh bandara yang dikelola perseroan. Perusahaan pelat merah itu pun menargetkan 20 bandara yang dikelolanya pada 2025 bisa pakai pembangkit listrik tenaga surya.

President Director AP II Muhammad Awaluddin mengatakan, penggunaan EBT di bandara sejalan dengan kesepakatan antara Airport Council International (ACI) dan seluruh operator bandara di dunia untuk mendukung program global Net Zero Carbon Emission 2050.

Hal tersebut dikatakan Awaluddin  saat menjadi keynote speaker dalam webinar Peran Renewable Energy Dalam Meningkatkan Competitivenes Pada Era Industri 4.0 yang digelar Universitas Sriwijaya pada Sabtu (12/2).

Webinar ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor Universitas Sriwijaya Prof Zainuddin Nawawi, Direktur Teknik Ditjen Gatrik Kementerian ESDM Ir Wanhar, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Ir Bob Saril, dan Senior EVP Manajemen Risiko PLN Ir. Chairani Rachmatullah.

Awaluddin mengatakan, bandara menyumbang sekitar 2 persen emisi karbon dari total pangsa global. Sehingga untuk mengurangi emisi karbon tersebut, operator bandara harus berkomitmen menggunakan energi baru terbarukan hampir di seluruh aspek operasional dan pelayanan.

“Sejalan dengan ini, AP II menanamkan semangat kepedulian lingkungan di industri penerbangan nasional melalui pemanfaatan EBT, dan kami ingin terus berkontribusi terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Menurut dia, pemanfaatan EBT di lingkungan AP II sangat mendukung implementasi teknologi dalam mewujudkan smart airport sehingga meningkatkan daya saing (competitiveness) bandara-bandara AP II di era Industry 4.0.

“AP II telah memiliki masterplan pengembangan Eco Airport periode 2021-2030, di mana Eco Airport ini mendukung visi perusahaan menjadi Smart & Connected Airport. Pemanfaatan EBT di bandara AP II akan menggunakan teknologi-teknologi baru, yang bisa diintegrasikan dengan teknologi eksisting,” beber Awaluddin.

Adapun di dalam masterplan Eco Airport 2021-2030, AP II fokus pada pemanfaatan PLTS sebagai energi baru terbarukan. Pada fase pertama, perseroan akan memasang PLTS di atap bangunan di sejumlah gedung di Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kualanamu dan Bandara Banyuwangi dengan kapasitas 1,83 MWp (megawatt peak).

Kemudian pada fase kedua yakni tahun ini direncanakan penggunaan PLTS Atap mencapai EBT 3,78 MWp. Selanjutnya pada fase ketiga yaitu 2023-2025 direncanakan pemanfaatan PLTS di atas tanah (ground mounted) berkapasitas 18,69 MWp dan PLTS terapung (floating) berkapasitas 1,8 MWp.

“Pada 2025, ditargetkan seluruh 20 bandara AP II telah memiliki PLTS dengan kapasitas 26,34 MWp,” ungkap Awaluddin.

 

Awaluddin menambahkan, penggunaan EBT yang sangat efisien dari sisi biaya akan sangat membantu bandara dalam menghadapi tantangan akibat pandemi Covid-19, karena listrik merupakan salah satu kontributor terbesar biaya operasional di bandara.

“Penggunaan teknologi dan keunggulan dari sisi biaya membuat pemanfaatan EBT dapat meningkatkan daya saing bandara-bandara AP II di era Industry 4.0,” tukas Awaluddin.

Di dalam pemanfaatan EBT ini, AP II mempersiapkan 3 aspek penting yakni SDM, Proses dan Teknologi. Aspek SDM terkait dengan kompetensi teknik kelistrikan berbasis energi baru terbarukan.

Kemudian, proses terkait prosedur baku dalam pengoperasian energi baru terbarukan yang efektif dan efisien. Sedangkan, teknologi terkait dengan penggunaan platform yang tepat guna mengoperasikan energi baru terbarukan.

Adapun terkait penggunaan teknologi kelistrikan, AP II saat ini juga telah membangun sistem yang dinamakan MANTRI (Monitoring System of Airport and Non-Airport Threshold Electrical Infrastructure) guna mengendalikan dan memonitor secara real time penggunaan energi di lingkungan AP II.

Sementara, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril mengatakan, transisi ke pemanfaatan EBT memerlukan dukungan seluruh pihak. “Di dalam transisi ini, kerja sama komponen masyarakat sangat penting. Adanya kerja sama dalam hal regulasi, masalah pendanaan, serta teknologi yang juga harus mendukung,” jelasnya.

Sementara itu, Senior EVP Manajemen Risiko PLN, Chairani Rachmatullah mengatakan, PLN menargetkan bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025. [DIT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories