Duh, Prajurit AS Banyak Yang Ogah Divaksin

Di saat banyak orang berusaha mendapatkan akses untuk vaksin Covid-19, ribuan personel militer Amerika Serikat justru malas-malasan menerima vaksin.

Diberitakan Associated Press, Kamis (18/2), diperkirakan satu pertiga dari total keseluruhan pasukan militer AS yang setuju divaksin. Sementara sisanya memberikan berbagai macam alasan untuk menunda menerima suntikan vaksin.

Para petinggi militer mencari cara agar pasukan mereka menerima suntikan. Salah satu caranya adalah mewajibkan semua personel yang akan ditugaskan ke luar negeri untuk mendapat vaksin.

Sejauh ini, para personel Angkatan Laut AS mau mendapatkan vaksin yang memiliki keampuhan diatas 80-90 persen. Wakil Direktur Operasi Pasukan Gabungan Mayor Jenderal AU Jeff Taliaferro mengatakan data awal menunjukkan hanya dua pertiga dari staf militer yang mau divaksin.

Meski demikian, data realisasi jumlah yang sudah divaksin masih jauh dari angka tersebut. “Persentasenya masih tinggi dari total penduduk kita. Tapi ini tidak bagus,” ujar Taliaferro.

Dia mengatakan kalau keengganan personel militer divaksin biaa berdampak pada penerimaan vaksin oleh warga sipil. “Personel militer adalah contoh untuk publik. Jika angka yang divaksin rendah, kita tidak bisa meyakinkan publik untuk divaksin,” sambungnya.

Ditambah lagi, lanjut Taliaferro, prajurit harus mendapat vaksin karena mereka termasuk sosok yang berjuang di garis terdepan di masa pandemi. “Kami berusaha keras agar prajurit-prajurit ini mau divaksin,” ujar dokter bedah Angkatan Darat AS Brigadir Jenderal Edward Bailey.

Para petinggi militer berupaya berkampanye agar vaksin diterima publik dan juga personel militer. Mereka telah memberikan pengarahan di balai kota, menulis pesan kepada pasukan, mendistribusikan data ilmiah, memposting video, dan bahkan memajang foto para pemimpin yang divaksinasi.

Selama berminggu-minggu, Pentagon bersikeras tidak tahu berapa banyak pasukan yang menolak vaksin. Beberapa pejabat dari dinas militer mengatakan bahwa tingkat penolakan sangat bervariasi, tergantung pada usia anggota dinas, unit, lokasi, status penempatan dan hal-hal lain.

Variasi tersebut mempersulit para pemimpin untuk mengidentifikasi argumen mana untuk vaksin yang paling persuasif.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah mengizinkan penggunaan darurat vaksin, jadi ini bersifat sukarela. “Kami belum bisa membuat vaksinasi ini wajib,” kata Wakil Laksamana Andrew Lewis, komandan Armada ke-2 Angkatan Laut, pekan lalu.

“Saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami mungkin akan mewajibkan sesegera mungkin, seperti yang kami lakukan dengan vaksin flu.” [DAY]

]]> Di saat banyak orang berusaha mendapatkan akses untuk vaksin Covid-19, ribuan personel militer Amerika Serikat justru malas-malasan menerima vaksin.

Diberitakan Associated Press, Kamis (18/2), diperkirakan satu pertiga dari total keseluruhan pasukan militer AS yang setuju divaksin. Sementara sisanya memberikan berbagai macam alasan untuk menunda menerima suntikan vaksin.

Para petinggi militer mencari cara agar pasukan mereka menerima suntikan. Salah satu caranya adalah mewajibkan semua personel yang akan ditugaskan ke luar negeri untuk mendapat vaksin.

Sejauh ini, para personel Angkatan Laut AS mau mendapatkan vaksin yang memiliki keampuhan diatas 80-90 persen. Wakil Direktur Operasi Pasukan Gabungan Mayor Jenderal AU Jeff Taliaferro mengatakan data awal menunjukkan hanya dua pertiga dari staf militer yang mau divaksin.

Meski demikian, data realisasi jumlah yang sudah divaksin masih jauh dari angka tersebut. “Persentasenya masih tinggi dari total penduduk kita. Tapi ini tidak bagus,” ujar Taliaferro.

Dia mengatakan kalau keengganan personel militer divaksin biaa berdampak pada penerimaan vaksin oleh warga sipil. “Personel militer adalah contoh untuk publik. Jika angka yang divaksin rendah, kita tidak bisa meyakinkan publik untuk divaksin,” sambungnya.

Ditambah lagi, lanjut Taliaferro, prajurit harus mendapat vaksin karena mereka termasuk sosok yang berjuang di garis terdepan di masa pandemi. “Kami berusaha keras agar prajurit-prajurit ini mau divaksin,” ujar dokter bedah Angkatan Darat AS Brigadir Jenderal Edward Bailey.

Para petinggi militer berupaya berkampanye agar vaksin diterima publik dan juga personel militer. Mereka telah memberikan pengarahan di balai kota, menulis pesan kepada pasukan, mendistribusikan data ilmiah, memposting video, dan bahkan memajang foto para pemimpin yang divaksinasi.

Selama berminggu-minggu, Pentagon bersikeras tidak tahu berapa banyak pasukan yang menolak vaksin. Beberapa pejabat dari dinas militer mengatakan bahwa tingkat penolakan sangat bervariasi, tergantung pada usia anggota dinas, unit, lokasi, status penempatan dan hal-hal lain.

Variasi tersebut mempersulit para pemimpin untuk mengidentifikasi argumen mana untuk vaksin yang paling persuasif.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah mengizinkan penggunaan darurat vaksin, jadi ini bersifat sukarela. “Kami belum bisa membuat vaksinasi ini wajib,” kata Wakil Laksamana Andrew Lewis, komandan Armada ke-2 Angkatan Laut, pekan lalu.

“Saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami mungkin akan mewajibkan sesegera mungkin, seperti yang kami lakukan dengan vaksin flu.” [DAY]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories