Duet Anies-AHY Dicap Rasa SBY-JK

Kombinasi duet sipil-militer yang dalam dua kali Pilpres gagal meraih kemenangan, coba dihidupkan lagi. Kali ini, simulasi untuk mengisi kombinasi sipil-militer itu dengan mengawinkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono. Duet Anies-AHY itu dicap seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jusuf Kalla pada Pilpres 2004. Benarkah?

Banyak pihak yang sudah lama mendorong duet Anies-AHY untuk Pilpres 2024. Namun, isu itu kembali ramai lagi setelah pengamat politik dari Universitas Paramadina, Khoirul Umam melemparnya ke publik. Apalagi, Umam menganalogikan duet Anies-AHY sebagai kombinasi SBY-JK jilid 2.

“Bisa saja duet Anies-AHY mengulang kemenangan SBY-JK di Pemilu 2004 lalu,” prediksinya.

Prediksinya itu dilandasi beberapa alasan. Pertama, duet Anies-AHY ini adalah ajang joined forces dua tokoh politik besar, yakni SBY selaku ayah dari AHY. Sementara JK merupakan mentor politik Anies.

Kedua, Anies maupun AHY punya modal besar dalam hal elektabilitas. Keduanya kerap muncul di 3 besar atau 6 besar berbagai lembaga survei. Meskipun tidak berada di puncak survei, keduanya disebut konsisten berada di radar dan bukan kategori tokoh dengan elektabilitas 1 koma.

“Jika duet ini digarap dengan baik, bisa saja mengulang kemenangan SBY-JK di Pemilu 2004 lalu,” lanjutnya.

Rupanya, gagasan yang dilemparkan Umam ini banyak didukung para pendukung dari dua kubu. Di media sosial, akun-akun yang selama ini menjadi pendukung Anies, ikut me-retweet dan menyatakan dukungannya dengan kombinasi pasangan tersebut.

Tak hanya dari kubu Anies, beberapa politisi Demokrat juga ikut meramaikan duet tersebut. Bahkan sampai ada yang bikin polling, menjajakan Anies-AHY melawan paslon lain seperti Prabowo-Puan Maharani atau Ganjar Pranowo-Erick Thohir.

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani mengakui, wacana untuk menduetkan Anies dengan AHY cukup besar. Partai Demokrat, kata dia, tentu ikut mencermati dan menyerap aspirasi yang muncul itu.

“Ini bisa menjadi duet ideal untuk sipil-militer yang mencerminkan jati diri nasionalis religius. Keduanya adalah figur yang dikenal cerdas, santun dan memiliki integritas yang tinggi. Memiliki jaringan yang luas, baik nasional maupun internasional,” kata Kamhar.

Hal senada juga disampaikan Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra. Demokrat, kata dia, mengapresiasi aspirasi masyarakat, yang mencoba menjodohkan Ketumnya dengan Gubernur DKI Jakarta untuk maju di Pilpres 2024 mendatang.

“Namanya aspirasi masyarakat, suara akar rumput, tentunya ini genuine. Pak Anies dan Pak AHY adalah dua tokoh yang sama baiknya dan punya prestasi di berbagai bidang yang mereka jalani, juga sama-sama lulusan luar negeri,” kata Herzaky kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Demokrat sejauh ini menangkap aspirasi tersebut sebagai pesan kuat dari masyarakat yang menginginkan perubahan. Karena masyarakat sudah pintar dalam menilai, mana sosok hadir dengan pencitraan semata dan mana yang bukan.

“Pesan ini harus kita tangkap, barangkali rakyat kepingin perubahan. Jangan dibatasi, apalagi digergaji,” tuturnya.

Herzaky tak menampik adanya komunikasi intens yang dibangun oleh AHY dengan Anies. Namun, ia menggarisbawahi bahwa Ketumnya itu juga membuka pintu komunikasi dan silaturahmi dengan banyak tokoh lainnya, baik itu pimpinan parpol, ormas hingga kepala daerah.

Menurutnya, setiap melakukan kunjungan ke daerah, AHY selalu melakukan silaturahmi dengan berbagai tokoh politik, khususnya kepala daerah di daerah yang dikunjungi. Tidak peduli, apakah mereka bagian dari pendukung pemerintah, maupun di luar pemerintahan.

Peneliti Indikator Politik Indonesia (IPI), Bawono Kumoro menilai duet Anies-AHY adalah gagasan yang cukup menarik. Keduanya merupakan sosok yang bisa saling melengkapi.

“Yang satu tokoh non partai dan kepala daerah, satu lagi tokoh partai, ketua umum dan memiliki latar belakang militer,” kata Bawono, yang dikonfirmasi tadi malam.

Menurutnya, kombinasi pasangan calon ini memiliki potensi meraih dukungan partai-partai. “Sehingga bila diduetkan, bakal memenuhi ambang batas pencalonan presiden,” sambungnya.

Dalam survei IPI, kata dia, AHY merupakan salah satu kandidat cawapres potensial. Namun, menurutnya terlalu pagi jika mengatakan duet Anies-AHY merupakan pengulangan kesuksesan duet SBY-JK.

Kenapa? Sebab, SBY maupun JK saat itu berpasangan dalam kondisi sangat teruji. Karena keduanya telah menduduki jabatan politik pemerintah di level nasional. Sementara duet Anies-AHY, belum.

“Dari sisi track record, Anies-AHY masih jauh dari yang telah dilalui SBY dan JK saat mereka berpasangan di 2004,” pungkasnya. [SAR]

]]> Kombinasi duet sipil-militer yang dalam dua kali Pilpres gagal meraih kemenangan, coba dihidupkan lagi. Kali ini, simulasi untuk mengisi kombinasi sipil-militer itu dengan mengawinkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono. Duet Anies-AHY itu dicap seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jusuf Kalla pada Pilpres 2004. Benarkah?

Banyak pihak yang sudah lama mendorong duet Anies-AHY untuk Pilpres 2024. Namun, isu itu kembali ramai lagi setelah pengamat politik dari Universitas Paramadina, Khoirul Umam melemparnya ke publik. Apalagi, Umam menganalogikan duet Anies-AHY sebagai kombinasi SBY-JK jilid 2.

“Bisa saja duet Anies-AHY mengulang kemenangan SBY-JK di Pemilu 2004 lalu,” prediksinya.

Prediksinya itu dilandasi beberapa alasan. Pertama, duet Anies-AHY ini adalah ajang joined forces dua tokoh politik besar, yakni SBY selaku ayah dari AHY. Sementara JK merupakan mentor politik Anies.

Kedua, Anies maupun AHY punya modal besar dalam hal elektabilitas. Keduanya kerap muncul di 3 besar atau 6 besar berbagai lembaga survei. Meskipun tidak berada di puncak survei, keduanya disebut konsisten berada di radar dan bukan kategori tokoh dengan elektabilitas 1 koma.

“Jika duet ini digarap dengan baik, bisa saja mengulang kemenangan SBY-JK di Pemilu 2004 lalu,” lanjutnya.

Rupanya, gagasan yang dilemparkan Umam ini banyak didukung para pendukung dari dua kubu. Di media sosial, akun-akun yang selama ini menjadi pendukung Anies, ikut me-retweet dan menyatakan dukungannya dengan kombinasi pasangan tersebut.

Tak hanya dari kubu Anies, beberapa politisi Demokrat juga ikut meramaikan duet tersebut. Bahkan sampai ada yang bikin polling, menjajakan Anies-AHY melawan paslon lain seperti Prabowo-Puan Maharani atau Ganjar Pranowo-Erick Thohir.

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani mengakui, wacana untuk menduetkan Anies dengan AHY cukup besar. Partai Demokrat, kata dia, tentu ikut mencermati dan menyerap aspirasi yang muncul itu.

“Ini bisa menjadi duet ideal untuk sipil-militer yang mencerminkan jati diri nasionalis religius. Keduanya adalah figur yang dikenal cerdas, santun dan memiliki integritas yang tinggi. Memiliki jaringan yang luas, baik nasional maupun internasional,” kata Kamhar.

Hal senada juga disampaikan Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra. Demokrat, kata dia, mengapresiasi aspirasi masyarakat, yang mencoba menjodohkan Ketumnya dengan Gubernur DKI Jakarta untuk maju di Pilpres 2024 mendatang.

“Namanya aspirasi masyarakat, suara akar rumput, tentunya ini genuine. Pak Anies dan Pak AHY adalah dua tokoh yang sama baiknya dan punya prestasi di berbagai bidang yang mereka jalani, juga sama-sama lulusan luar negeri,” kata Herzaky kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Demokrat sejauh ini menangkap aspirasi tersebut sebagai pesan kuat dari masyarakat yang menginginkan perubahan. Karena masyarakat sudah pintar dalam menilai, mana sosok hadir dengan pencitraan semata dan mana yang bukan.

“Pesan ini harus kita tangkap, barangkali rakyat kepingin perubahan. Jangan dibatasi, apalagi digergaji,” tuturnya.

Herzaky tak menampik adanya komunikasi intens yang dibangun oleh AHY dengan Anies. Namun, ia menggarisbawahi bahwa Ketumnya itu juga membuka pintu komunikasi dan silaturahmi dengan banyak tokoh lainnya, baik itu pimpinan parpol, ormas hingga kepala daerah.

Menurutnya, setiap melakukan kunjungan ke daerah, AHY selalu melakukan silaturahmi dengan berbagai tokoh politik, khususnya kepala daerah di daerah yang dikunjungi. Tidak peduli, apakah mereka bagian dari pendukung pemerintah, maupun di luar pemerintahan.

Peneliti Indikator Politik Indonesia (IPI), Bawono Kumoro menilai duet Anies-AHY adalah gagasan yang cukup menarik. Keduanya merupakan sosok yang bisa saling melengkapi.

“Yang satu tokoh non partai dan kepala daerah, satu lagi tokoh partai, ketua umum dan memiliki latar belakang militer,” kata Bawono, yang dikonfirmasi tadi malam.

Menurutnya, kombinasi pasangan calon ini memiliki potensi meraih dukungan partai-partai. “Sehingga bila diduetkan, bakal memenuhi ambang batas pencalonan presiden,” sambungnya.

Dalam survei IPI, kata dia, AHY merupakan salah satu kandidat cawapres potensial. Namun, menurutnya terlalu pagi jika mengatakan duet Anies-AHY merupakan pengulangan kesuksesan duet SBY-JK.

Kenapa? Sebab, SBY maupun JK saat itu berpasangan dalam kondisi sangat teruji. Karena keduanya telah menduduki jabatan politik pemerintah di level nasional. Sementara duet Anies-AHY, belum.

“Dari sisi track record, Anies-AHY masih jauh dari yang telah dilalui SBY dan JK saat mereka berpasangan di 2004,” pungkasnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories