Dubes Swiss Tertarik Pengelolaan Sampah Di Sidoarjo

Penanganan sampah yang ramah lingkungan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menarik perhatian Duta Besar(Dubes)Swiss untuk Indonesia Kurt Kunz.

Dia pun berkunjung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon Sidoarjo, Jumat (20/5). Kurt Kunz datang bersama Deputy Head of SECO Andrea Zbinden, Program Manager of SECO Roman Windish dan Manager of Urban Development of KFW Frangkurt Marc Gall.

Dubes Kunz bersama timnya mengapresiasi penanganan sampah di Sidoarjo yang sudah menerapkan sistem Sanitary Landfill berstandar Jerman.

Kunz menilai,manajemen yang diterapkan Pemkab Sidoarjo berhasil menerapkan waste management revolution (revolusi pengelolaan sampah).

“Kami juga sangat kagum dengan proses pengolahan sampah di TPA Jabon yang diubah menjadi bahan bakar briket,” ujar Kunz dikutip akun Twitternya, Sabtu (21/5).

 

Sidoarjo dinilai Kurt ikut berkontribusi dalam program penurunan emisi gas rumah kaca karena pengelolaan sampah di TPA Jabon tanpa melakukan pembakaran.

Dubes Kunz melihat, manajemen pengolahan sampah di Sidoarjo sangat baik karena adanya unit teknis yang dibentuk khusus menangani sampah di TPA.

Selain itu, pengolahan sampah di Sidoarjo sudah menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan sistem Sanitary Landfill yang pada prosesnya bisa mengurangi emisi gas rumah kaca/ GRK.

“Manajemen pengelolaan TPA Jabon Sidoarjo bisa menjadi contoh bagi TPA di kota lain di Indonesia karena sudah menerapkan sistem Sanitary Landfill yang bisa mengurangi emisi GRK. Selain itu penanganan sampah di Sidoarjo juga diolah menjadi briket yang bisa bernilai ekonomi,” papar Kunz.

Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor, yang menerima rombongan Dubes Kunz, menjelaskan, keberadaan sampah tidak bisa dihindari karena itu merupakan konsekuensi dari perkembangan sebuah kota dengan jumlah populasi lebih dari dua juta orang.

 

Muhdlor mengatakan, keberadaan sampah tidak hanya dipandang sebagai bencana. Tapi di balik itu ada peluang ekonomi yang bisa dikelola dengan manajemen persampahan yang baik.

“Meski Sidoarjo ini daerah industri, tapi juga menjadi daerah yang ramah lingkungan. Arahnya ke green economy dan zero waste,” katanya.

Rencana jangka panjang, Muhdlor mendorong di setiap tempat pembuangan sampah sementara bisa mengolah sampahnya menjadi briket agar sampah yang dikirim di TPA Jabon tidak menumpuk.

Manajemen pengolahan sampah menjadi bahan bakar briket alternatif itu, kata dia, dilakukan agar penanganan sampah mulai hulu sampai hilir bisa tertangani dengan sistem ramah lingkungan.***

]]> Penanganan sampah yang ramah lingkungan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menarik perhatian Duta Besar(Dubes)Swiss untuk Indonesia Kurt Kunz.

Dia pun berkunjung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jabon Sidoarjo, Jumat (20/5). Kurt Kunz datang bersama Deputy Head of SECO Andrea Zbinden, Program Manager of SECO Roman Windish dan Manager of Urban Development of KFW Frangkurt Marc Gall.

Dubes Kunz bersama timnya mengapresiasi penanganan sampah di Sidoarjo yang sudah menerapkan sistem Sanitary Landfill berstandar Jerman.

Kunz menilai,manajemen yang diterapkan Pemkab Sidoarjo berhasil menerapkan waste management revolution (revolusi pengelolaan sampah).

“Kami juga sangat kagum dengan proses pengolahan sampah di TPA Jabon yang diubah menjadi bahan bakar briket,” ujar Kunz dikutip akun Twitternya, Sabtu (21/5).

 

Sidoarjo dinilai Kurt ikut berkontribusi dalam program penurunan emisi gas rumah kaca karena pengelolaan sampah di TPA Jabon tanpa melakukan pembakaran.

Dubes Kunz melihat, manajemen pengolahan sampah di Sidoarjo sangat baik karena adanya unit teknis yang dibentuk khusus menangani sampah di TPA.

Selain itu, pengolahan sampah di Sidoarjo sudah menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan sistem Sanitary Landfill yang pada prosesnya bisa mengurangi emisi gas rumah kaca/ GRK.

“Manajemen pengelolaan TPA Jabon Sidoarjo bisa menjadi contoh bagi TPA di kota lain di Indonesia karena sudah menerapkan sistem Sanitary Landfill yang bisa mengurangi emisi GRK. Selain itu penanganan sampah di Sidoarjo juga diolah menjadi briket yang bisa bernilai ekonomi,” papar Kunz.

Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor, yang menerima rombongan Dubes Kunz, menjelaskan, keberadaan sampah tidak bisa dihindari karena itu merupakan konsekuensi dari perkembangan sebuah kota dengan jumlah populasi lebih dari dua juta orang.

 

Muhdlor mengatakan, keberadaan sampah tidak hanya dipandang sebagai bencana. Tapi di balik itu ada peluang ekonomi yang bisa dikelola dengan manajemen persampahan yang baik.

“Meski Sidoarjo ini daerah industri, tapi juga menjadi daerah yang ramah lingkungan. Arahnya ke green economy dan zero waste,” katanya.

Rencana jangka panjang, Muhdlor mendorong di setiap tempat pembuangan sampah sementara bisa mengolah sampahnya menjadi briket agar sampah yang dikirim di TPA Jabon tidak menumpuk.

Manajemen pengolahan sampah menjadi bahan bakar briket alternatif itu, kata dia, dilakukan agar penanganan sampah mulai hulu sampai hilir bisa tertangani dengan sistem ramah lingkungan.***
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories