Dubes Jepang Teken Nota Pinjaman Yen Untuk Pelabuhan Patimban

Pemerintah Jepang kembali mencairkan dana pinjaman kepada Indonesia untuk memperlancar perluasan pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kenji Kanasugi menandatangani Pertukaran Nota atau E/N tentang pinjaman yen untuk perluasan pelabuhan baru di Patimban senilai sampai dengan 70,195 miliar yen atau sekitar Rp 7,8 triliun.

Penandatanganan nota pinjaman yen ini dilakukan bersama Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Abdul Kadir Jailani di Pejambon, Jakarta, Kamis (28/4).

“Diharapkan, proyek ini akan lebih jauh memperkuat hubungan antara Jepang dan Indonesia sebagai mitra strategis. Serta berkontribusi untuk mewujudkan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), yang berbagi banyak prinsip dasar yang sama dengan Free and Open IndoPacific (FOIP),” harap Dubes Kanasugi dikutip keterangan resminya, Kamis (28/4).

Pembangunan Pelabuhan Patimban di Jabar dilakukan untuk menambah daya tampung peti kemas yang bisa diterima Indonesia. Sebelumnya, kapasitas penanganan peti kemas per tahun Pelabuhan Tanjung Priok. Satu-satunya pelabuhan internasional di daerah ibu kota, saat ini hanya menerima 8,63 juta peti kemas per tahun (8,63 juta TEU). Angka ini dinilai tidak akan mencukupi kebutuhan pada 2025, yang diperkirakan mengalami peningkatan mencapai 10,24 juta TEU.

Ditambah lagi terdapat kekurangan ruang untuk fungsi logistik. Selain itu, jalanan di daerah ibu kota Jakarta memiliki tingkat kemacetan yang kronis, dan sulitnya akses menuju pelabuhan tersebut menjadi penghalang dalam pembangunan bisnis bagi banyak perusahaan. Termasuk perusahaan-perusahaan Jepang yang berbasis manufaktur di bagian timur daerah ibu kota.

Karena itu, adanya diversifikasi logistik kargo di daerah ibu kota sangat diharapkan. “Proyek ini didanai dari pinjaman yang diberikan kepada Pemerintah Indonesia untuk pembangunan pelabuhan baru (terminal peti kemas, terminal kendaraan, dan pelengkapnya) di Patimban,” lanjut pernyataan Kedubes Jepang.

 

Dengan mendukung pembangunan pelabuhan baru tersebut, proyek ini diharapkan dapat memperkuat fungsi logistik daerah ibu kota dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dengan memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

Fase pertama pemberian pinjaman yen (senilai sampai dengan 118,9 miliar yen atau sekitar Rp 13,9 triliun) telah dilakukan pada November 2017 dan Desember 2021. Hasil pinjaman fase pertama ini sudah dapat dilihat. Terminal kendaraan mulai beroperasi penuh dengan partisipasi dari perusahaanperusahaan Jepang.

“Fase kedua dari pinjaman kali ini bertujuan untuk melanjutkan dukungan pengembangan pelabuhan sejalan dengan kemajuan pembangunannya,” tutup pernyataan Kedubes.***

]]> Pemerintah Jepang kembali mencairkan dana pinjaman kepada Indonesia untuk memperlancar perluasan pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kenji Kanasugi menandatangani Pertukaran Nota atau E/N tentang pinjaman yen untuk perluasan pelabuhan baru di Patimban senilai sampai dengan 70,195 miliar yen atau sekitar Rp 7,8 triliun.

Penandatanganan nota pinjaman yen ini dilakukan bersama Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Abdul Kadir Jailani di Pejambon, Jakarta, Kamis (28/4).

“Diharapkan, proyek ini akan lebih jauh memperkuat hubungan antara Jepang dan Indonesia sebagai mitra strategis. Serta berkontribusi untuk mewujudkan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), yang berbagi banyak prinsip dasar yang sama dengan Free and Open IndoPacific (FOIP),” harap Dubes Kanasugi dikutip keterangan resminya, Kamis (28/4).

Pembangunan Pelabuhan Patimban di Jabar dilakukan untuk menambah daya tampung peti kemas yang bisa diterima Indonesia. Sebelumnya, kapasitas penanganan peti kemas per tahun Pelabuhan Tanjung Priok. Satu-satunya pelabuhan internasional di daerah ibu kota, saat ini hanya menerima 8,63 juta peti kemas per tahun (8,63 juta TEU). Angka ini dinilai tidak akan mencukupi kebutuhan pada 2025, yang diperkirakan mengalami peningkatan mencapai 10,24 juta TEU.

Ditambah lagi terdapat kekurangan ruang untuk fungsi logistik. Selain itu, jalanan di daerah ibu kota Jakarta memiliki tingkat kemacetan yang kronis, dan sulitnya akses menuju pelabuhan tersebut menjadi penghalang dalam pembangunan bisnis bagi banyak perusahaan. Termasuk perusahaan-perusahaan Jepang yang berbasis manufaktur di bagian timur daerah ibu kota.

Karena itu, adanya diversifikasi logistik kargo di daerah ibu kota sangat diharapkan. “Proyek ini didanai dari pinjaman yang diberikan kepada Pemerintah Indonesia untuk pembangunan pelabuhan baru (terminal peti kemas, terminal kendaraan, dan pelengkapnya) di Patimban,” lanjut pernyataan Kedubes Jepang.

 

Dengan mendukung pembangunan pelabuhan baru tersebut, proyek ini diharapkan dapat memperkuat fungsi logistik daerah ibu kota dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dengan memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

Fase pertama pemberian pinjaman yen (senilai sampai dengan 118,9 miliar yen atau sekitar Rp 13,9 triliun) telah dilakukan pada November 2017 dan Desember 2021. Hasil pinjaman fase pertama ini sudah dapat dilihat. Terminal kendaraan mulai beroperasi penuh dengan partisipasi dari perusahaanperusahaan Jepang.

“Fase kedua dari pinjaman kali ini bertujuan untuk melanjutkan dukungan pengembangan pelabuhan sejalan dengan kemajuan pembangunannya,” tutup pernyataan Kedubes.***
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories