Donor Plasma Konvalesen, Pria Lebih Dicari Nih

Terapi Plasma Konvalesen atau mengambil plasma darah dari para penyintas Covid-19, dianggap sebagai cara ampuh untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Tapi rupanya, lelaki lebih diutamakan.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Terapi Plasma Konvaselen (TPK) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Dr. Monica. “Diutamakan laki-laki yang belum pernah menerima transfusi darah sebelumnya,” ujarnya saat dikontak Rakyat Merdeka, kemarin.

Monica menerangkan, jika perempuan melakukan terapi ini, ada satu faktor yang disebut Human Leukocyte Antigen (HLA). Yaitu meka­nisme dalam tubuh untuk me­lindungi diri dari benda asing yang masuk ke dalam tubuh. HLA berisi banyak protein yang diproduksi oleh supergen kompleks histokompatibilitas utama pada manusia. Protein permukaan sel ini bertanggung jawab untuk mengatur sistem kekebalan.

HLA digunakan dalam pencocokan antara donor dan resipien (penerima) ke­tika melakukan transplantasi. Perempuan yang sudah pernah hamil atau pun melahirkan, antibodi HLA-nya berpotensi tertutup. Ini bisa memba­hayakan. “HLA ini berkaitan dengan faktor risiko alergi pada paru-paru yang berat. Itu yang merupakan efek samping dari transfusi plasma,” terangnya.

Meski begitu, bukan berarti perempuan tidak bisa men­donorkan plasmanya. Syarat utamanya, dia belum pernah hamil atau melahirkan, kegu­guran, dan menerima transfusi sebelumnya. “Jadi bukan be­rarti perempuan dilarang ya,” imbuh Monica.

Perempuan yang akan men­donorkan plasmanya akan di-screening terlebih dahulu untuk meminimalisasi efek samping tadi. “Efek samping­nya itu frekuensinya 1 banding 5 ribu. Jadi, dari 5 ribu orang, ada satu yang kemungkinan ada reaksi alergi. Mulai dari ringan sampai ke paru-paru. Tapi, yang alergi berat paru-paru sudah diminimalisasi dengan persyaratan donor yang tadi,” bebernya.

 

Secara umum, kriteria pen­donor plasma adalah orang yang pernah menderita Covid-19. Orang yang ingin mendo­norkan plasma wajib menyertakan surat terkonfirmasi positif Covid-19 melalui swab polymerase chain reaction (PCR).

Selain itu, orang tersebut harus dipastikan telah 14 hari dinyatakan negatif dari gejala Covid-19. Persyaratan lainnya, usia pendonor harus 18 sampai 60 tahun. “Usia maksimal 60 tahun dan tidak ada penyakit penyerta atau komorbid,” ucap Monica.

Selain harus dipastikan kondisinya dalam keadaan sehat. Kadar antibodi di da­lam plasma juga harus dicek, apakah sudah tercukupi atau belum. Donor plasma yang paling bagus adalah tiga sam­pai empat bulan. Sebab, pada saat itu kadar antibodinya paling tinggi.

Bagi pasien yang ingin mendapatkan donor plasma ini ada tahapannya. Pertama, dokter yang merawat pasien, memberi surat permohonan plasma ke Palang Merah Indonesia (PMI). Kedua, ke­luarga pasien membawa su­rat tersebut beserta berkas lengkap ke PMI. Kemudian, PMI akan memberikan pasien plasma yang sesuai golongan darah.

Sebelum memberikan plasma, PMI dipastikan sudah melakukan berbagai standar. Kelengkapan sertifikasi PMI sudah tak diragukan lagi. [JAR]

]]> Terapi Plasma Konvalesen atau mengambil plasma darah dari para penyintas Covid-19, dianggap sebagai cara ampuh untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Tapi rupanya, lelaki lebih diutamakan.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Terapi Plasma Konvaselen (TPK) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Dr. Monica. “Diutamakan laki-laki yang belum pernah menerima transfusi darah sebelumnya,” ujarnya saat dikontak Rakyat Merdeka, kemarin.

Monica menerangkan, jika perempuan melakukan terapi ini, ada satu faktor yang disebut Human Leukocyte Antigen (HLA). Yaitu meka­nisme dalam tubuh untuk me­lindungi diri dari benda asing yang masuk ke dalam tubuh. HLA berisi banyak protein yang diproduksi oleh supergen kompleks histokompatibilitas utama pada manusia. Protein permukaan sel ini bertanggung jawab untuk mengatur sistem kekebalan.

HLA digunakan dalam pencocokan antara donor dan resipien (penerima) ke­tika melakukan transplantasi. Perempuan yang sudah pernah hamil atau pun melahirkan, antibodi HLA-nya berpotensi tertutup. Ini bisa memba­hayakan. “HLA ini berkaitan dengan faktor risiko alergi pada paru-paru yang berat. Itu yang merupakan efek samping dari transfusi plasma,” terangnya.

Meski begitu, bukan berarti perempuan tidak bisa men­donorkan plasmanya. Syarat utamanya, dia belum pernah hamil atau melahirkan, kegu­guran, dan menerima transfusi sebelumnya. “Jadi bukan be­rarti perempuan dilarang ya,” imbuh Monica.

Perempuan yang akan men­donorkan plasmanya akan di-screening terlebih dahulu untuk meminimalisasi efek samping tadi. “Efek samping­nya itu frekuensinya 1 banding 5 ribu. Jadi, dari 5 ribu orang, ada satu yang kemungkinan ada reaksi alergi. Mulai dari ringan sampai ke paru-paru. Tapi, yang alergi berat paru-paru sudah diminimalisasi dengan persyaratan donor yang tadi,” bebernya.

 

Secara umum, kriteria pen­donor plasma adalah orang yang pernah menderita Covid-19. Orang yang ingin mendo­norkan plasma wajib menyertakan surat terkonfirmasi positif Covid-19 melalui swab polymerase chain reaction (PCR).

Selain itu, orang tersebut harus dipastikan telah 14 hari dinyatakan negatif dari gejala Covid-19. Persyaratan lainnya, usia pendonor harus 18 sampai 60 tahun. “Usia maksimal 60 tahun dan tidak ada penyakit penyerta atau komorbid,” ucap Monica.

Selain harus dipastikan kondisinya dalam keadaan sehat. Kadar antibodi di da­lam plasma juga harus dicek, apakah sudah tercukupi atau belum. Donor plasma yang paling bagus adalah tiga sam­pai empat bulan. Sebab, pada saat itu kadar antibodinya paling tinggi.

Bagi pasien yang ingin mendapatkan donor plasma ini ada tahapannya. Pertama, dokter yang merawat pasien, memberi surat permohonan plasma ke Palang Merah Indonesia (PMI). Kedua, ke­luarga pasien membawa su­rat tersebut beserta berkas lengkap ke PMI. Kemudian, PMI akan memberikan pasien plasma yang sesuai golongan darah.

Sebelum memberikan plasma, PMI dipastikan sudah melakukan berbagai standar. Kelengkapan sertifikasi PMI sudah tak diragukan lagi. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories