Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Cs Gigit Jari

Nilai tukar rupiah di akhir pekan dibuka melemah lagi. Kali ini rupiah melemah 0,02 persen ke level Rp 14.619 per dolar AS dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.615.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,15 persen, yen Jepang turun 0,07 persen, dolar Singapura minus 0,09 persen dan dolar Taiwan melemah 0,10 persen.

Indeks dolar AS naik 0,09 persen menuju 91,753. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menguat 0,37 persen ke level Rp 17.449, terhadap poundsterling Inggris naik 0,43 persen ke level Rp 20.081, dan terhadap dolar Australia juga menguat 0,56 persen di level Rp 11.284.

Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra memprediksi, sepanjang hari ini rupiah bakal menguat. Ini dikarenakan minat pasar terhadap aset berisiko berpotensi tinggi, seiring dengan menguatnya indeks saham AS semalam. 

Penguatan indeks saham AS didukung oleh data penjualan ritel AS bulan Maret dan data Klaim tunjangan pengangguran AS yang lebih baik dari prediksi, yang dirilis semalam.

“Hasil ini memicu sentimen pemulihan ekonomi. Selain itu, penguatan indeks saham juga didukung oleh membaiknya laporan penghasilan perusahaan,” imbuhnya, Jumat (16/4).

Pagi ini data pertumbuhan Produk Domesti Bruto (PDB) China kuartal pertama, juga diperkirakan lebih bagus dari proyeksi. Bila demikian, ini akan menguatkan minat pasar terhadap aset berisiko hari ini. 

“Selain itu, yield Treasury AS juga menurun pagi ini ke level 1,57 persen, atau turun sekitar 4 persen dari sebelumnya,” sebut Ariston.

Penurunan yield ini mungkin karena sebagian pelaku pasar masuk kembali membeli obligasi AS yang sudah terdiskon. “Penurunan yield ini bisa membantu mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hari ini,” ujarnya.

Ia memproyeksi potensi penguatan ke arah Rp 14.580 dengan potensi resisten di Rp 14.630 per dolar AS. [DWI]

]]> Nilai tukar rupiah di akhir pekan dibuka melemah lagi. Kali ini rupiah melemah 0,02 persen ke level Rp 14.619 per dolar AS dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.615.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,15 persen, yen Jepang turun 0,07 persen, dolar Singapura minus 0,09 persen dan dolar Taiwan melemah 0,10 persen.

Indeks dolar AS naik 0,09 persen menuju 91,753. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menguat 0,37 persen ke level Rp 17.449, terhadap poundsterling Inggris naik 0,43 persen ke level Rp 20.081, dan terhadap dolar Australia juga menguat 0,56 persen di level Rp 11.284.

Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra memprediksi, sepanjang hari ini rupiah bakal menguat. Ini dikarenakan minat pasar terhadap aset berisiko berpotensi tinggi, seiring dengan menguatnya indeks saham AS semalam. 

Penguatan indeks saham AS didukung oleh data penjualan ritel AS bulan Maret dan data Klaim tunjangan pengangguran AS yang lebih baik dari prediksi, yang dirilis semalam.

“Hasil ini memicu sentimen pemulihan ekonomi. Selain itu, penguatan indeks saham juga didukung oleh membaiknya laporan penghasilan perusahaan,” imbuhnya, Jumat (16/4).

Pagi ini data pertumbuhan Produk Domesti Bruto (PDB) China kuartal pertama, juga diperkirakan lebih bagus dari proyeksi. Bila demikian, ini akan menguatkan minat pasar terhadap aset berisiko hari ini. 

“Selain itu, yield Treasury AS juga menurun pagi ini ke level 1,57 persen, atau turun sekitar 4 persen dari sebelumnya,” sebut Ariston.

Penurunan yield ini mungkin karena sebagian pelaku pasar masuk kembali membeli obligasi AS yang sudah terdiskon. “Penurunan yield ini bisa membantu mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hari ini,” ujarnya.

Ia memproyeksi potensi penguatan ke arah Rp 14.580 dengan potensi resisten di Rp 14.630 per dolar AS. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories