Ditutup Akibat Sebar Berita Hoaks Mendagri Prancis Izinkan Masjid Pantin Dibuka Lagi

Masjid Agung Pantin di pinggiran Kota Paris, Prancis akan dibuka lagi. Masjid ini sempat ditutup karena ikut menyebarkan hoaks yang berbuntut tewasnya Samuel Paty, guru yang dituding melecehkan Nabi Muhammad SAW.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prancis Gerald Darmanin mengizinkan Masjid Pantin dibuka kembali setelah pengurus masjid, M’hammed Henniche, mundur.

“Struktur manajerial masjid Pantin telah dirombak total. Oleh karena itu, saya meminta kepolisian setempat untuk menghubungi tim manajemen baru dengan maksud untuk membuka kembali masjid sece­pat mungkin,” katanya dikutip dari Radio France Internationale (RFI), kemarin.

M’hammed Henniche menjadi ketua Asosiasi Muslim Pantin sejak 2013 dan baru-baru ini terpilih kembali. Dia mengun­durkan diri, dan akan digantikan Dramé Abderrahman.

Masjid Pantin ditutup pada Oktober 2020 karena halaman resmi Facebook-nya memuat video yang berisikan kecaman terhadap Paty. Kecaman terhadap Paty bermula dari kabar, bahwa guru ini meminta siswi Muslim meninggalkan kelas karena dirinya ingin menunjuk­kan karikatur Nabi Muhammad untuk mengajari kebebasan berekspresi.

Aksi Paty ini mendapat keca­man dari banyak wali murid. Beberapa hari kemudian se­orang pengungsi asal Moskow, Abdullakh Anzorov, membunuhnya.

Belakangan, siswi itu ter­ungkap ternyata berbohong ke­pada ayahnya soal tuduhan Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad. Ia melakukan ini karena tidak ingin ayahnya tahu dia membolos.

Sebelumnya, ayah gadis itu meluncurkan kampanye online guna mengkritik Paty tanpa menyadari kebohongan putrinya.

Usai penutupan masjid, pengurus sempat mengajukan banding ke pengadilan Prancis sebanyakdua kali namun semuanya di­tolak. Darmanin berkukuh pe­nutupan masjid tetap dilakukan sampai Henniche dan imam masjid, Ibrahim Doucouré, setu­ju untuk mundur dari jabatan­nya. Rencananya Masjid di utara Prancis ini akan dibuka kembali pada 15 April mendatang.

Berawal Dari Hoaks

Kematian Paty sungguh memi­lukan. Penikaman terhadapnya dipicu kebohongan siswi beru­sia 13 tahun, muridnya, sebut saja Z. Sebelum kebohongan Z terbongkar, ketika itu, banyak media setempat yang menyalah­kan Paty.

 

Cerita bohong Z bermula karena dia tidak ingin keluar­ganya tahu bahwa dia diskors oleh sekolah. Siswa itu mengarang cerita kepada ayahnya, Brahim Chnina (48). Siswi itu tidak mengira bahwa kebohongannya berujung pada peng­hilangan nyawa orang lain. Setelah cerita Z beredar, 10 hari setelah itu, Paty dibunuh ketika berjalan pulang ke rumahnya di Conflans-Saint-Honorine, sekitar 30 kilometer dari Paris, pada 16 Oktober 2020. Dia dibunuh Abdullakh Anzorov, yang termakan kabar bohong yang beredar di media so­sial. Melansir The Guardian, Abdullakh Anzorov menyogok dua murid untuk menunjukkan ciri-ciri Paty.

Keluarga Paty hancur, Prancis mengalami trauma, dan siswi tersebut beserta ayahnya meng­hadapi tuntutan pidana.

Awalnya Z, tetap berpegang pada kebohongannya. Hingga akhirnya, polisi memberi tahu Z bahwa beberapa teman sekelas­nya telah mengonfirmasi bahwa Z tidak hadir di kelas.

Para siswa lain juga mengata­kan, Paty tidak menginstruksikan siswa Muslim lain untuk meninggalkan kelas seperti yang dia klaim. Gara-gara itulah Z akhirnya mengakui kebohongannya. Pada Minggu (7/3), Le Parisien mengungkapkan bahwa siswi yang disebut Z itu mengaku salah menuduh Paty.

Salahkan Orangtua

Para penyelidik dilaporkanmengatakan, Z menderita inferioritycomplex dan mengabdi pada ayahnya. Pengacara Z, Mbeko Tabula, meminta, tragedi itu tidak boleh hanya ditanggung siswi 13 tahun itu.

Tabula menilai, semua tragedi tersebut disebabkan perilaku ayah Z yang berlebihan.

“Klien saya berbohong, tetapi meskipun itu benar, reaksi ayah­nya masih tidak proporsional,” imbuh Tabula.

Chnina, yang sedang diselidiki karena insiden ini, kepada polisi, mengaku merasa bodoh.

“Saya tidak pernah mengira pesan saya akan dilihat oleh teroris. Saya tidak ingin menya­kiti siapa pun dengan pesan itu,” ujar Chnina.

“Sulit membayangkan ba­gaimana kita sampai di sini bahwa kita kehilangan seorang profesor sejarah dan semua orang menyalahkan saya,” pung­kas Chnina. [MEL]

]]> Masjid Agung Pantin di pinggiran Kota Paris, Prancis akan dibuka lagi. Masjid ini sempat ditutup karena ikut menyebarkan hoaks yang berbuntut tewasnya Samuel Paty, guru yang dituding melecehkan Nabi Muhammad SAW.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prancis Gerald Darmanin mengizinkan Masjid Pantin dibuka kembali setelah pengurus masjid, M’hammed Henniche, mundur.

“Struktur manajerial masjid Pantin telah dirombak total. Oleh karena itu, saya meminta kepolisian setempat untuk menghubungi tim manajemen baru dengan maksud untuk membuka kembali masjid sece­pat mungkin,” katanya dikutip dari Radio France Internationale (RFI), kemarin.

M’hammed Henniche menjadi ketua Asosiasi Muslim Pantin sejak 2013 dan baru-baru ini terpilih kembali. Dia mengun­durkan diri, dan akan digantikan Dramé Abderrahman.

Masjid Pantin ditutup pada Oktober 2020 karena halaman resmi Facebook-nya memuat video yang berisikan kecaman terhadap Paty. Kecaman terhadap Paty bermula dari kabar, bahwa guru ini meminta siswi Muslim meninggalkan kelas karena dirinya ingin menunjuk­kan karikatur Nabi Muhammad untuk mengajari kebebasan berekspresi.

Aksi Paty ini mendapat keca­man dari banyak wali murid. Beberapa hari kemudian se­orang pengungsi asal Moskow, Abdullakh Anzorov, membunuhnya.

Belakangan, siswi itu ter­ungkap ternyata berbohong ke­pada ayahnya soal tuduhan Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad. Ia melakukan ini karena tidak ingin ayahnya tahu dia membolos.

Sebelumnya, ayah gadis itu meluncurkan kampanye online guna mengkritik Paty tanpa menyadari kebohongan putrinya.

Usai penutupan masjid, pengurus sempat mengajukan banding ke pengadilan Prancis sebanyakdua kali namun semuanya di­tolak. Darmanin berkukuh pe­nutupan masjid tetap dilakukan sampai Henniche dan imam masjid, Ibrahim Doucouré, setu­ju untuk mundur dari jabatan­nya. Rencananya Masjid di utara Prancis ini akan dibuka kembali pada 15 April mendatang.

Berawal Dari Hoaks

Kematian Paty sungguh memi­lukan. Penikaman terhadapnya dipicu kebohongan siswi beru­sia 13 tahun, muridnya, sebut saja Z. Sebelum kebohongan Z terbongkar, ketika itu, banyak media setempat yang menyalah­kan Paty.

 

Cerita bohong Z bermula karena dia tidak ingin keluar­ganya tahu bahwa dia diskors oleh sekolah. Siswa itu mengarang cerita kepada ayahnya, Brahim Chnina (48). Siswi itu tidak mengira bahwa kebohongannya berujung pada peng­hilangan nyawa orang lain. Setelah cerita Z beredar, 10 hari setelah itu, Paty dibunuh ketika berjalan pulang ke rumahnya di Conflans-Saint-Honorine, sekitar 30 kilometer dari Paris, pada 16 Oktober 2020. Dia dibunuh Abdullakh Anzorov, yang termakan kabar bohong yang beredar di media so­sial. Melansir The Guardian, Abdullakh Anzorov menyogok dua murid untuk menunjukkan ciri-ciri Paty.

Keluarga Paty hancur, Prancis mengalami trauma, dan siswi tersebut beserta ayahnya meng­hadapi tuntutan pidana.

Awalnya Z, tetap berpegang pada kebohongannya. Hingga akhirnya, polisi memberi tahu Z bahwa beberapa teman sekelas­nya telah mengonfirmasi bahwa Z tidak hadir di kelas.

Para siswa lain juga mengata­kan, Paty tidak menginstruksikan siswa Muslim lain untuk meninggalkan kelas seperti yang dia klaim. Gara-gara itulah Z akhirnya mengakui kebohongannya. Pada Minggu (7/3), Le Parisien mengungkapkan bahwa siswi yang disebut Z itu mengaku salah menuduh Paty.

Salahkan Orangtua

Para penyelidik dilaporkanmengatakan, Z menderita inferioritycomplex dan mengabdi pada ayahnya. Pengacara Z, Mbeko Tabula, meminta, tragedi itu tidak boleh hanya ditanggung siswi 13 tahun itu.

Tabula menilai, semua tragedi tersebut disebabkan perilaku ayah Z yang berlebihan.

“Klien saya berbohong, tetapi meskipun itu benar, reaksi ayah­nya masih tidak proporsional,” imbuh Tabula.

Chnina, yang sedang diselidiki karena insiden ini, kepada polisi, mengaku merasa bodoh.

“Saya tidak pernah mengira pesan saya akan dilihat oleh teroris. Saya tidak ingin menya­kiti siapa pun dengan pesan itu,” ujar Chnina.

“Sulit membayangkan ba­gaimana kita sampai di sini bahwa kita kehilangan seorang profesor sejarah dan semua orang menyalahkan saya,” pung­kas Chnina. [MEL]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories