Dituntut 5 Tahun Penjara Edhy Prabowo Sopan, Tapi Tak Memberikan Teladan Yang Baik .

Persidangan Edhy Prabowo di Pengadilan Tipikor sebagai terdakwa kasus korupsi di kasus ekspor benih lobster alias benur memasuki tahap penuntutan. Kemarin, eks Menteri Kelautan dan Perikanan itu, dituntut lima tahun penjara dan denda Rp 400 juta subsider enam bulan kurungan.

Awalnya, sidang diagendakan pukul 10.30 WIB. Namun, agenda itu molor 2 jam lebih. Jaksa KPK pun baru datang ke lokasi sidang pukul 13.00 WIB.

Edhy tampil dengan mengenakan setelan batik cokelat lengan panjang dan celana panjang hitam. Dia juga membawa sebuah tas gendong. Sesampainya di ruang sidang, dia menyapa kuasa hukum dan keluarganya.

Selain Edhy, lima terdakwa lainnya ikut menghadiri pembacaan tuntutan tersebut. Mereka adalah Staf Khusus Edhy Andreau Misanta Pribadi; Wakil Ketua Tim Uji Tuntas Safri; Sekretaris Pribadi Edhy Amiril Mukminin, Staf Pribadi istri Edhy Ainul Faqih; dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (PT ACK) Sidwadhi Pranoto Loe.

Dalam sidang tersebut, Jaksa KPK, Ronald Worotikan menyebut, Edhy bersama anak buahnya terbukti menerima uang sebesar Rp 25,7 miliar dari sejumlah pengusaha benur. Uang ini berkaitan dengan izin ekspor benur.

“Mereka menerima hadiah dari saksi Suharjito dan pengusaha eksportir benur lainnya, berupa uang sejumlah 77 ribu dolar Amerika Serikat dan Rp 24,6 miliar,” bebernya.

Karena itu, Jaksa mendakwa Edhy telah melanggar Pasal 12 atau pasal 11 huruf a Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

“Menuntut Majelis Hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa lima tahun penjara dan pidana denda Rp 400 juta subsider enam bulan kurungan,” ujar Ronald.

Selain itu, Jaksa KPK juga menuntut agar ada pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik selama empat tahun kepada Edhy. Hal itu berlaku sejak dia selesai menjalani pidana pokok.

 

Kanapa dituntut lima tahun? Jaksa menilai, mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu sopan dan belum pernah dihukum serta sebagian asetnya telah disita. Sedangkan hal yang memberatkannya adalah Edhy dianggap tidak memberi teladan yang baik selaku menteri.

Sementara terhadap Andreau Misanta Pribadi dan Safri, jaksa menuntut keduanya dengan pidana penjara empat tahun enam bulan dan denda Rp 300 juta subsider enam bulan kurungan. Lalu Amiril Mukminin yang dituntut selama empat tahun enam bulan penjara dan denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan.

Sedangkan Ainul Faqih dituntut dengan empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan. Siswadhi Pranoto dituntut dengan empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan.

Bagaimana tanggapan Edhy? Edhy merasa dirinya tidak terlibat dalam praktik suap ini. Apalagi, yang berkaitan dengan perizinan ekspor benih lobster.

“Saya merasa, saya tidak salah, dan saya tidak punya wewenang terhadap izin itu, saya kan sudah delegasikan semua, bukti persidangan sudah ada dari awal,” kata Edhy.

Edhy menekankan akan bertanggung jawab atas praktik rasuah yang dilakukan oleh anak buahnya, Andreau Misanta Pribadi dan Safri. Dia mengatakan tidak akan lari dari kasus ini.

“Saya tidak lari dari tanggung jawab, tapi saya tidak bisa kontrol semua kesalahan yang dilakukan oleh staf saya. Sekali lagi, kesalahan mereka juga ada kesalahan saya, karena saya lalai,” ungkapnya.

Edhy mengatakan, akan mengajukan nota pembelaan atau pleidoinya atas tuntutan yang diajukan tim Jaksa, pada pekan depan. Namun demikian, dia masih enggan membeberkan lebih detil isi pleidoinya nanti. [UMM]

]]> .
Persidangan Edhy Prabowo di Pengadilan Tipikor sebagai terdakwa kasus korupsi di kasus ekspor benih lobster alias benur memasuki tahap penuntutan. Kemarin, eks Menteri Kelautan dan Perikanan itu, dituntut lima tahun penjara dan denda Rp 400 juta subsider enam bulan kurungan.

Awalnya, sidang diagendakan pukul 10.30 WIB. Namun, agenda itu molor 2 jam lebih. Jaksa KPK pun baru datang ke lokasi sidang pukul 13.00 WIB.

Edhy tampil dengan mengenakan setelan batik cokelat lengan panjang dan celana panjang hitam. Dia juga membawa sebuah tas gendong. Sesampainya di ruang sidang, dia menyapa kuasa hukum dan keluarganya.

Selain Edhy, lima terdakwa lainnya ikut menghadiri pembacaan tuntutan tersebut. Mereka adalah Staf Khusus Edhy Andreau Misanta Pribadi; Wakil Ketua Tim Uji Tuntas Safri; Sekretaris Pribadi Edhy Amiril Mukminin, Staf Pribadi istri Edhy Ainul Faqih; dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (PT ACK) Sidwadhi Pranoto Loe.

Dalam sidang tersebut, Jaksa KPK, Ronald Worotikan menyebut, Edhy bersama anak buahnya terbukti menerima uang sebesar Rp 25,7 miliar dari sejumlah pengusaha benur. Uang ini berkaitan dengan izin ekspor benur.

“Mereka menerima hadiah dari saksi Suharjito dan pengusaha eksportir benur lainnya, berupa uang sejumlah 77 ribu dolar Amerika Serikat dan Rp 24,6 miliar,” bebernya.

Karena itu, Jaksa mendakwa Edhy telah melanggar Pasal 12 atau pasal 11 huruf a Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

“Menuntut Majelis Hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa lima tahun penjara dan pidana denda Rp 400 juta subsider enam bulan kurungan,” ujar Ronald.

Selain itu, Jaksa KPK juga menuntut agar ada pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik selama empat tahun kepada Edhy. Hal itu berlaku sejak dia selesai menjalani pidana pokok.

 

Kanapa dituntut lima tahun? Jaksa menilai, mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu sopan dan belum pernah dihukum serta sebagian asetnya telah disita. Sedangkan hal yang memberatkannya adalah Edhy dianggap tidak memberi teladan yang baik selaku menteri.

Sementara terhadap Andreau Misanta Pribadi dan Safri, jaksa menuntut keduanya dengan pidana penjara empat tahun enam bulan dan denda Rp 300 juta subsider enam bulan kurungan. Lalu Amiril Mukminin yang dituntut selama empat tahun enam bulan penjara dan denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan.

Sedangkan Ainul Faqih dituntut dengan empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan. Siswadhi Pranoto dituntut dengan empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan.

Bagaimana tanggapan Edhy? Edhy merasa dirinya tidak terlibat dalam praktik suap ini. Apalagi, yang berkaitan dengan perizinan ekspor benih lobster.

“Saya merasa, saya tidak salah, dan saya tidak punya wewenang terhadap izin itu, saya kan sudah delegasikan semua, bukti persidangan sudah ada dari awal,” kata Edhy.

Edhy menekankan akan bertanggung jawab atas praktik rasuah yang dilakukan oleh anak buahnya, Andreau Misanta Pribadi dan Safri. Dia mengatakan tidak akan lari dari kasus ini.

“Saya tidak lari dari tanggung jawab, tapi saya tidak bisa kontrol semua kesalahan yang dilakukan oleh staf saya. Sekali lagi, kesalahan mereka juga ada kesalahan saya, karena saya lalai,” ungkapnya.

Edhy mengatakan, akan mengajukan nota pembelaan atau pleidoinya atas tuntutan yang diajukan tim Jaksa, pada pekan depan. Namun demikian, dia masih enggan membeberkan lebih detil isi pleidoinya nanti. [UMM]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories