Dituding Radikal Din Membalas Dengan Salam

Din Syamsuddin memilih tidak mau banyak bicara saat ditanya soal Gerakan Anti Radikal (GAR) Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menuding dirinya radikal. Eks Ketua Umum Muhammadiyah itu, hanya membalas dengan salam.

Beberapa hari terakhir ini, Din jadi buah bibir. Gara-gara sikapnya yang sering mengkritik pemerintah, Din dilaporkan GAR ITB ke Komite Aparatur Sipil Negara (KASN) dan Badan Kepegawaian Negara (BPN). Din dinilai melanggar aturan soal Aparatur Sipil Negara (ASN). Din juga dianggap radikal.

Namun, langkah GAR ITB ini malah berujung blunder. Din dibela banyak tokoh. Mulai dari politisi sampai menteri. Mereka memastikan Din bukan radikal.

Lalu apa tanggapan Din terkait laporan GAR ITB? Kepada Rakyat Merdeka, Din masih irit bicara. Dia tidak mau menanggapi soal laporan itu. “Jangan dulu. Salam,” ujarnya. Terkait banyaknya dukungan yang mengalir, Din mengucapkan terima kasih.

Sementara itu, dukungan terus mengalir ke Din. Terbaru, disuarakan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). JK heran Din dituduh radikal.

Kata JK, Din tidak mungkin radikal. Din adalah pelopor dialog antar agama dan itu tingkatannya internasional. “Jadi tidak radikal,” katanya.

JK menyebut Din bukanlah ASN yang berada di struktur pemerintahan, tapi merupakan fungsional akademis. Karena itu, dia tidak melanggar etika ASN ketika seorang akademisi memberikan pandangannya yang mungkin bertentangan dengan pemerintah.

Pembelaan dari Senayan juga masih mengalir. Anggota DPR dari Fraksi PAN, Guspardi Gaus menilai, tuduhan radikal terhadap Din termasuk dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Bisa dikasuskan karena termasuk delik pidana. “Itu delik pidana diatur dalam KUHP maupun Undang-Undang ITE,” kata Guspardi, Senin (15/2).

Dia mendesak, GAR ITB menarik laporannya. “Buka lah ruang diskusi, karena itu lebih elok,” pintanya.

 

Anggota Komisi III DPR, Arsul Sani menilai sosok Din jauh dari stigma radikal. Dia terheran-heran terhadap langkah GAR ITB yang tidak bisa membedakan mana radikal dan mana kritik.

Selama ini, ujarnya, radikal itu dikaitkan dengan pemikiran yang bertolak belakang dengan konsensus bernegara.

Terus dipojokkan, GAR ITB angkat bicara. Anggota GAR ITB, Nelson Napitupulu membantah pihaknya melaporkan Din atas tuduhan radikalisme. Kata dia, Din dilaporkan karena melanggar kode etik sebagai ASN.

“Kita tidak pernah melaporkan Pak Din Syamsuddin sebagai orang yang radikal. Tidak ada. Yang kita laporkan adalah Pak Din Syamsuddin itu anggota Majelis Wali Amanat (MWA) ITB. Dia berstatus sebagai ASN,” papar Nelson, Senin (15/2).

Dia memastikan, GAR ITB tak akan mencabut laporannya. “Laporannya sudah masuk, sudah dilaporkan, mereka menerima,” kata Nelson, Senin (15/2).

Netizen pun ikut bereaksi. Mengutuk langkah GAR ITB. “Kalau semua orang bersaksi bahwa Pak Din bukan orang radikal, berarti GAR ITB telah melakukan ujaran kebencian. Sekaligus membuat dan menyebarkan hoaks tentang mantan Ketua MUI itu. Ada konsekuensi hukum yang harus dipikul oleh GAR ITB. Tentu saja,” ancam @dutaMasarya.

Akun @AdeBloodyMarie2 mengajak generasi millenial untuk membaca profil tokoh bangsa yang hingga kini masih hidup. “Pak Din Syamsudin itu salah satu cendikiawan muslim paling hebat yang pernah hidup di negara ini. Bocah-bocah sekarang emang pada nggak tahu kalau beliau itu wakil Islam di PBB untuk kerukunan umat beragama dunia? Yang radikal itu Abu Janda ama Ade Armando,” sahutnya.

“Din Syamsuddin punya track record, bingung gue tiba-tiba ada gerakan jadi superior menentukan orang radikal tanpa bukti dan standar yang jelas. Mereka ini bodoh atau keselek rupiah sih,” ledek @Hera33150768. “Bubarkan dan hukum GAR ITB,” tegas @onomsalam2pas. [UMM]

]]> Din Syamsuddin memilih tidak mau banyak bicara saat ditanya soal Gerakan Anti Radikal (GAR) Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menuding dirinya radikal. Eks Ketua Umum Muhammadiyah itu, hanya membalas dengan salam.

Beberapa hari terakhir ini, Din jadi buah bibir. Gara-gara sikapnya yang sering mengkritik pemerintah, Din dilaporkan GAR ITB ke Komite Aparatur Sipil Negara (KASN) dan Badan Kepegawaian Negara (BPN). Din dinilai melanggar aturan soal Aparatur Sipil Negara (ASN). Din juga dianggap radikal.

Namun, langkah GAR ITB ini malah berujung blunder. Din dibela banyak tokoh. Mulai dari politisi sampai menteri. Mereka memastikan Din bukan radikal.

Lalu apa tanggapan Din terkait laporan GAR ITB? Kepada Rakyat Merdeka, Din masih irit bicara. Dia tidak mau menanggapi soal laporan itu. “Jangan dulu. Salam,” ujarnya. Terkait banyaknya dukungan yang mengalir, Din mengucapkan terima kasih.

Sementara itu, dukungan terus mengalir ke Din. Terbaru, disuarakan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). JK heran Din dituduh radikal.

Kata JK, Din tidak mungkin radikal. Din adalah pelopor dialog antar agama dan itu tingkatannya internasional. “Jadi tidak radikal,” katanya.

JK menyebut Din bukanlah ASN yang berada di struktur pemerintahan, tapi merupakan fungsional akademis. Karena itu, dia tidak melanggar etika ASN ketika seorang akademisi memberikan pandangannya yang mungkin bertentangan dengan pemerintah.

Pembelaan dari Senayan juga masih mengalir. Anggota DPR dari Fraksi PAN, Guspardi Gaus menilai, tuduhan radikal terhadap Din termasuk dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Bisa dikasuskan karena termasuk delik pidana. “Itu delik pidana diatur dalam KUHP maupun Undang-Undang ITE,” kata Guspardi, Senin (15/2).

Dia mendesak, GAR ITB menarik laporannya. “Buka lah ruang diskusi, karena itu lebih elok,” pintanya.

 

Anggota Komisi III DPR, Arsul Sani menilai sosok Din jauh dari stigma radikal. Dia terheran-heran terhadap langkah GAR ITB yang tidak bisa membedakan mana radikal dan mana kritik.

Selama ini, ujarnya, radikal itu dikaitkan dengan pemikiran yang bertolak belakang dengan konsensus bernegara.

Terus dipojokkan, GAR ITB angkat bicara. Anggota GAR ITB, Nelson Napitupulu membantah pihaknya melaporkan Din atas tuduhan radikalisme. Kata dia, Din dilaporkan karena melanggar kode etik sebagai ASN.

“Kita tidak pernah melaporkan Pak Din Syamsuddin sebagai orang yang radikal. Tidak ada. Yang kita laporkan adalah Pak Din Syamsuddin itu anggota Majelis Wali Amanat (MWA) ITB. Dia berstatus sebagai ASN,” papar Nelson, Senin (15/2).

Dia memastikan, GAR ITB tak akan mencabut laporannya. “Laporannya sudah masuk, sudah dilaporkan, mereka menerima,” kata Nelson, Senin (15/2).

Netizen pun ikut bereaksi. Mengutuk langkah GAR ITB. “Kalau semua orang bersaksi bahwa Pak Din bukan orang radikal, berarti GAR ITB telah melakukan ujaran kebencian. Sekaligus membuat dan menyebarkan hoaks tentang mantan Ketua MUI itu. Ada konsekuensi hukum yang harus dipikul oleh GAR ITB. Tentu saja,” ancam @dutaMasarya.

Akun @AdeBloodyMarie2 mengajak generasi millenial untuk membaca profil tokoh bangsa yang hingga kini masih hidup. “Pak Din Syamsudin itu salah satu cendikiawan muslim paling hebat yang pernah hidup di negara ini. Bocah-bocah sekarang emang pada nggak tahu kalau beliau itu wakil Islam di PBB untuk kerukunan umat beragama dunia? Yang radikal itu Abu Janda ama Ade Armando,” sahutnya.

“Din Syamsuddin punya track record, bingung gue tiba-tiba ada gerakan jadi superior menentukan orang radikal tanpa bukti dan standar yang jelas. Mereka ini bodoh atau keselek rupiah sih,” ledek @Hera33150768. “Bubarkan dan hukum GAR ITB,” tegas @onomsalam2pas. [UMM]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories