Ditopang Produk Manufaktur Mendag Happy Kinerja Ekspor Cetak Sejarah

Tidak salah Presiden Joko Widodo (Jokowi) memasukkan Muhammad Lutfi dalam kabinetnya. Didapuk menjadi Menteri Perdagangan (Mendag), Lutfi bikin kinerja ekspor cetak sejarah.

Yang bikin ia happy, capaian ini ditopang oleh sektor manufaktur. Untuk diketahui. Capaian ekspor nonmigas sepanjang 2021 mencapai 48,60 miliar dolar AS. Hasil ini tentu bikin Mendag happy, karena menjadi rekor ekspor nonmigas terbesar sepanjang sejarah.

Secara keseluruhan ekspor selama tahun lalu tembus 231,5 miliar dolar AS. Sementara impornya hanya 196,2 miliar dolar AS. Itu artinya, neraca perdagangan kita surplus 35,34 miliar dolar AS. Sebelumnya, rekor ekspor tertinggi tercatat pada 2011 sebesar 203,50 miliar dolar AS. “Perbedaannya adalah produk utama ekspor difokuskan pada produk manufaktur,” cetus Lutfi pada Outlook Perdagangan 2022 virtual, Selasa (18/1).

Empat dari lima produk utama ekspor nonmigas tahun 2021 adalah produk manufaktur. Seperti crude palm oil (CPO) dan turunan, besi baja, produk elektrik dan elektronika, serta kendaraan bermotor dan suku cadangnya.

Pada Desember 2021, neraca perdagangan mengalami surplus 1,02 miliar dolar AS. Secara year on year ekspor Indonesia naik 35,30 persen dari 16,54 miliar dolar AS pada Desember 2020 menjadi 22,38 miliar dolar AS pada Desember 2021.

Secara rinci, nilai ekspor migas pada Desember 2021 tercatat 1,09 miliar dolar AS. Naik 17,93 persen dibanding November 2021 yang tercatat 1,09 miliar dolar AS. Sedangkan nilai ekspor nonmigas selama Desember 2021 tercatat USD 21,28 miliar turun 1,06 persen dibanding November 2021 yang tercatat 21,28 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Desember 2021 mencapai 231,54 miliar dolar AS atau naik 41,88 persen dibanding periode yang sama tahun 2020. Capaian tersebut berasal dari perdagangan Indonesia dengan China yang tumbus pesat.

Kinerja ekspor-impor kedua negara tembus 100 miliar dolar AS. Di mana pada 2021 defisit 2,45 miliar dolar AS, angka ini merupakan yang terendah sejak ditandatanganinya China ASEAN Free Trade Agreement pada tahun 2006 atau 2007 silam.

“Jadi nilai ini yang terendah, dan ini merupakan defisit terendah. Di mana angkanya hanya sepertiga daripada tahun lalu yaitu 7,85 miliar dolar AS yang sebenarnya juga terendah karena sebelumnya pada tahun 2019 itu lebih dari 15 miliar dolar AS,” urai Lutfi.

Ia melanjutkan, surplus tertinggi berasal dari Amerika Serikat yakni pada 2021 tumbuh dari 10,04 miliar dolar AS menjadi 14,52 miliar dolar AS atau tumbuh 44,63 persen. Perdagangan dengan Filipina juga tumbuh sekitar 38 persen dari 5,31 miliar dolar AS menjadi 7,33 miliar dolar AS.

Sepertiganya berasal dari ekspor otomotif. Kata Lutfi, pertumbuhan dan perdagangan RI juga surplus dengan Vietnam dan ada tiga negara yang mengalami surplus terbesar yaitu dengan Australia yaitu 6,2 miliar dolar AS, karena pada saat itu Indonesia membeli banyak barang-barang pembantu dari Australia.

Hanya saja, kondisi perdagangan tahun ini tidak akan semulus tahun lalu. Diungkapkan mantan duta besar RI untuk Amerika Serikat itu, terdapat empat tantangan yang harus diwaspadai. Di antaranya tapering ekonomi, hambatan logistik, krisis energi, dan peningkatan penularan virus corona.

“Kalau keempat ini bisa kita strategikan maka kita juga akan bisa selamat menjaga momentum kita ke depan,” pesan Lutfi. [MEN]

]]> Tidak salah Presiden Joko Widodo (Jokowi) memasukkan Muhammad Lutfi dalam kabinetnya. Didapuk menjadi Menteri Perdagangan (Mendag), Lutfi bikin kinerja ekspor cetak sejarah.

Yang bikin ia happy, capaian ini ditopang oleh sektor manufaktur. Untuk diketahui. Capaian ekspor nonmigas sepanjang 2021 mencapai 48,60 miliar dolar AS. Hasil ini tentu bikin Mendag happy, karena menjadi rekor ekspor nonmigas terbesar sepanjang sejarah.

Secara keseluruhan ekspor selama tahun lalu tembus 231,5 miliar dolar AS. Sementara impornya hanya 196,2 miliar dolar AS. Itu artinya, neraca perdagangan kita surplus 35,34 miliar dolar AS. Sebelumnya, rekor ekspor tertinggi tercatat pada 2011 sebesar 203,50 miliar dolar AS. “Perbedaannya adalah produk utama ekspor difokuskan pada produk manufaktur,” cetus Lutfi pada Outlook Perdagangan 2022 virtual, Selasa (18/1).

Empat dari lima produk utama ekspor nonmigas tahun 2021 adalah produk manufaktur. Seperti crude palm oil (CPO) dan turunan, besi baja, produk elektrik dan elektronika, serta kendaraan bermotor dan suku cadangnya.

Pada Desember 2021, neraca perdagangan mengalami surplus 1,02 miliar dolar AS. Secara year on year ekspor Indonesia naik 35,30 persen dari 16,54 miliar dolar AS pada Desember 2020 menjadi 22,38 miliar dolar AS pada Desember 2021.

Secara rinci, nilai ekspor migas pada Desember 2021 tercatat 1,09 miliar dolar AS. Naik 17,93 persen dibanding November 2021 yang tercatat 1,09 miliar dolar AS. Sedangkan nilai ekspor nonmigas selama Desember 2021 tercatat USD 21,28 miliar turun 1,06 persen dibanding November 2021 yang tercatat 21,28 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari-Desember 2021 mencapai 231,54 miliar dolar AS atau naik 41,88 persen dibanding periode yang sama tahun 2020. Capaian tersebut berasal dari perdagangan Indonesia dengan China yang tumbus pesat.

Kinerja ekspor-impor kedua negara tembus 100 miliar dolar AS. Di mana pada 2021 defisit 2,45 miliar dolar AS, angka ini merupakan yang terendah sejak ditandatanganinya China ASEAN Free Trade Agreement pada tahun 2006 atau 2007 silam.

“Jadi nilai ini yang terendah, dan ini merupakan defisit terendah. Di mana angkanya hanya sepertiga daripada tahun lalu yaitu 7,85 miliar dolar AS yang sebenarnya juga terendah karena sebelumnya pada tahun 2019 itu lebih dari 15 miliar dolar AS,” urai Lutfi.

Ia melanjutkan, surplus tertinggi berasal dari Amerika Serikat yakni pada 2021 tumbuh dari 10,04 miliar dolar AS menjadi 14,52 miliar dolar AS atau tumbuh 44,63 persen. Perdagangan dengan Filipina juga tumbuh sekitar 38 persen dari 5,31 miliar dolar AS menjadi 7,33 miliar dolar AS.

Sepertiganya berasal dari ekspor otomotif. Kata Lutfi, pertumbuhan dan perdagangan RI juga surplus dengan Vietnam dan ada tiga negara yang mengalami surplus terbesar yaitu dengan Australia yaitu 6,2 miliar dolar AS, karena pada saat itu Indonesia membeli banyak barang-barang pembantu dari Australia.

Hanya saja, kondisi perdagangan tahun ini tidak akan semulus tahun lalu. Diungkapkan mantan duta besar RI untuk Amerika Serikat itu, terdapat empat tantangan yang harus diwaspadai. Di antaranya tapering ekonomi, hambatan logistik, krisis energi, dan peningkatan penularan virus corona.

“Kalau keempat ini bisa kita strategikan maka kita juga akan bisa selamat menjaga momentum kita ke depan,” pesan Lutfi. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories