Ditjen EBTKE Dukung Sistem Penerapan Manajemen Energi ISO 50001 Di 3 BUMN .

Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM  bersama United Nations Development Programme (UNDP) mendukung penerapan sistem manajemen energi guna menuju ISO 50001 pada tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketiga BUMN itu adalah, PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, PT Angkasa Pura I – Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali dan PT Angkasa Pura II – Bandara Soekarno Hatta, Terminal 3, Cengkareng, Tangerang.

Kerja sama tersebut, merupakan bagian Proyek Market Transformation for Renewable Energy and Energy Efficiency through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in Energy Sector (MTRE3). 

“Salah satu target dari Ditjen EBTKE adalah peningkatan penerapan ISO 50001 pada berbagai sektor, salah satunya diwujudkan melalui proyek kerja sama MTRE3”, ujar Direktur Konservasi Energi, Luh Nyoman Puspa Dewi dalam sambutannya pada kegiatan Kick Off Meeting Audit Sistem Manajemen Energi ISO 50001 di Pertamina RU IV Cilacap secara virtual Senin (8/2).

Menurut data tren konsumsi energi final nasional, sektor industri merupakan konsumen energi terbesar kedua setelah transportasi yaitu 33% atau sebesar 291 juta SBM (ESDM, 2018). 

Dewi menyebutkan, dari konsumsi energi di sektor industri ini, potensi penghematan energi yang dapat diraih sebesar 10-30%. Jumlah ini berdasar hasil survei dan audit energi. Potensi ini dapat dicapai melalui implementasi Audit Energi dan Penerapan Sistem Manajemen Energi melalui ISO 50001.

ISO 50001 sebagai standar internasional untuk sistem manajemen energi diharapkan dapat membantu meningkatkan performa energi, sehingga dapat membantu menghadapi perubahan iklim global dan mencapai target penghematan energi.

Menurut data Direktorat Konservasi Energi, Direktorat Jenderal EBTKE, baru ada sebanyak 62 perusahaan sektor industri, 42 perusahaan sektor ESDM, dan 2 sektor bangunan Gedung yang bersertifikat ISO 50001 : EnMS (Energy Management System).

Adapun dukungan yang diberikan yaitu memberi stimulus kepada tiga perusahaan BUMN tersebut dalam bentuk insentif Pemerintah dalam kerja sama dengan proyek MTRE3-UNDP, dengan menyediakan pendampingan teknis, pengawalan dan persiapan Sistem Manajemen Energi atau EnMS (oleh konsultan pemenang tender UNDP – EnerCoss) menuju ISO 50001 (sertifikasi taraf internasional) di tahun pertama, di mana Surveillance Energi di tahun kedua dan ketiga menjadi tanggungan perusahaan induk terpilih.

Proyek MTRE3 juga berusaha untuk memenuhi target mitigasi perubahan iklim yang berpotensi berkontribusi dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia. 

Proyek MTRE3 berjalan selama lima tahun, mulai 2017 hingga 2021 dengan empat wilayah kerja untuk proyek percontohan Energi Baru Terbarukan (EBT), yaitu provinsi Riau, Jambi, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur, dan wilayah kerja proyek percontohan Konservasi Energi (KE) di beberapa kota besar; Jakarta, Bali, Makasar, Semarang dan lainnya.

Informasi, program penerapan sistem manajemen energi di tiga BUMN ini berlangsung mulai Januari 2021 hingga Juli 2021. Target registrasi sertifikasi ISO 50001 maksimal di Juli 2021.Sedangkan Kick Off Meeting bersama PT Angkasa Pura II akan dilaksanakan pada 11 Februari 2021 dan  18 Februari 2021 bersama PT. Angkasa Pura I. [KPJ]
 

]]> .
Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM  bersama United Nations Development Programme (UNDP) mendukung penerapan sistem manajemen energi guna menuju ISO 50001 pada tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketiga BUMN itu adalah, PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, PT Angkasa Pura I – Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali dan PT Angkasa Pura II – Bandara Soekarno Hatta, Terminal 3, Cengkareng, Tangerang.

Kerja sama tersebut, merupakan bagian Proyek Market Transformation for Renewable Energy and Energy Efficiency through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in Energy Sector (MTRE3). 

“Salah satu target dari Ditjen EBTKE adalah peningkatan penerapan ISO 50001 pada berbagai sektor, salah satunya diwujudkan melalui proyek kerja sama MTRE3”, ujar Direktur Konservasi Energi, Luh Nyoman Puspa Dewi dalam sambutannya pada kegiatan Kick Off Meeting Audit Sistem Manajemen Energi ISO 50001 di Pertamina RU IV Cilacap secara virtual Senin (8/2).

Menurut data tren konsumsi energi final nasional, sektor industri merupakan konsumen energi terbesar kedua setelah transportasi yaitu 33% atau sebesar 291 juta SBM (ESDM, 2018). 

Dewi menyebutkan, dari konsumsi energi di sektor industri ini, potensi penghematan energi yang dapat diraih sebesar 10-30%. Jumlah ini berdasar hasil survei dan audit energi. Potensi ini dapat dicapai melalui implementasi Audit Energi dan Penerapan Sistem Manajemen Energi melalui ISO 50001.

ISO 50001 sebagai standar internasional untuk sistem manajemen energi diharapkan dapat membantu meningkatkan performa energi, sehingga dapat membantu menghadapi perubahan iklim global dan mencapai target penghematan energi.

Menurut data Direktorat Konservasi Energi, Direktorat Jenderal EBTKE, baru ada sebanyak 62 perusahaan sektor industri, 42 perusahaan sektor ESDM, dan 2 sektor bangunan Gedung yang bersertifikat ISO 50001 : EnMS (Energy Management System).

Adapun dukungan yang diberikan yaitu memberi stimulus kepada tiga perusahaan BUMN tersebut dalam bentuk insentif Pemerintah dalam kerja sama dengan proyek MTRE3-UNDP, dengan menyediakan pendampingan teknis, pengawalan dan persiapan Sistem Manajemen Energi atau EnMS (oleh konsultan pemenang tender UNDP – EnerCoss) menuju ISO 50001 (sertifikasi taraf internasional) di tahun pertama, di mana Surveillance Energi di tahun kedua dan ketiga menjadi tanggungan perusahaan induk terpilih.

Proyek MTRE3 juga berusaha untuk memenuhi target mitigasi perubahan iklim yang berpotensi berkontribusi dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia. 

Proyek MTRE3 berjalan selama lima tahun, mulai 2017 hingga 2021 dengan empat wilayah kerja untuk proyek percontohan Energi Baru Terbarukan (EBT), yaitu provinsi Riau, Jambi, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur, dan wilayah kerja proyek percontohan Konservasi Energi (KE) di beberapa kota besar; Jakarta, Bali, Makasar, Semarang dan lainnya.

Informasi, program penerapan sistem manajemen energi di tiga BUMN ini berlangsung mulai Januari 2021 hingga Juli 2021. Target registrasi sertifikasi ISO 50001 maksimal di Juli 2021.Sedangkan Kick Off Meeting bersama PT Angkasa Pura II akan dilaksanakan pada 11 Februari 2021 dan  18 Februari 2021 bersama PT. Angkasa Pura I. [KPJ]
 
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories