Ditegaskan Pemuda Gereja Bethel Papua Pengangkatan Enembe Jadi Kepala Suku Besar Tak Sesuai Statuta DAP

Pengukuhan Gubernur Papua Lukas Enembe sebagai Kepala Suku Besar Papua oleh Dewan Adat Papua (DAP) pimpinan Dominikus Sorabut, terus menuai penolakan. Pengukuhan yang dilakukan pada 8 Oktober 2022 di rumah Enembe, di Koya Tengah, Jayapura, itu, dinilai tidak sesuai dengan statuta DAP.

“Di dalam statuta DAP maupun pedoman operasional DAP, tidak mengenal adanya istilah pengukuhan Kepala Suku Besar Bangsa Papua. Yang ada adalah, jabatan kepala suku adalah jabatan turun temurun di dalam suku-suku di tanah Papua,” tegas ucap Wakil Ketua Departemen Pemuda dan Anak Gereja Bethel Indonesia Provinsi Papua Isac Imbiri, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (16/10).

Wakil Ketua Generasi Muda Pembaru Indonesia (GEMPAR) Papua ini menegaskan, pengukuhan Kepala Suku Besar Bangsa Papua keliru dan sangat tidak masuk akal. “Karena di atas kepala suku hanya ada Tuhan, tidak ada lagi kepala suku di atas kepala suku,” tegasnya.

Isac mengatakan, DAP ada dua versi. DAP pimpinan Dominikus Sorabut dan DAP yang memiliki legitimasi yaitu DAP pimpinan Yan Piet Yerangga dan Leo Imbiri. Ia menilai, DAP yang telah mengukuhkan Lukas Enembe sebagai kepala suku besar telah mengecewakan suku-suku, kepala-kepala suku, dan semua orang Papua. Isac mencurigai, adanya kepentingan tertentu DAP melantik Lukas menjadi kepala suku besar.

Terkait kasus dugaan korupsi yang tengah ditangani KPK, Isac berharap Enembe sebagai pemimpin harus siap menghadapinya. Bukan malah menghindarinya dengan cara membangun opini-opini yang mengada-ada, seperti meminta KPK memeriksanya di lapangan terbuka.

Kepada sesama generasi muda Papua, Isac mengajak untuk mengambil hikmah dari situasi yang sedang berkembang di Bumi Cendrawasih saat ini. Termasuk kasus korupsi yang sedang dihadapi Enembe. Dia menegaskan, korupsi harus diberantas dari Papua. Papua ke depan harus memiliki pemimpin-pemimpin yang benar-benar bersih dari korupsi.■

]]> Pengukuhan Gubernur Papua Lukas Enembe sebagai Kepala Suku Besar Papua oleh Dewan Adat Papua (DAP) pimpinan Dominikus Sorabut, terus menuai penolakan. Pengukuhan yang dilakukan pada 8 Oktober 2022 di rumah Enembe, di Koya Tengah, Jayapura, itu, dinilai tidak sesuai dengan statuta DAP.

“Di dalam statuta DAP maupun pedoman operasional DAP, tidak mengenal adanya istilah pengukuhan Kepala Suku Besar Bangsa Papua. Yang ada adalah, jabatan kepala suku adalah jabatan turun temurun di dalam suku-suku di tanah Papua,” tegas ucap Wakil Ketua Departemen Pemuda dan Anak Gereja Bethel Indonesia Provinsi Papua Isac Imbiri, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (16/10).

Wakil Ketua Generasi Muda Pembaru Indonesia (GEMPAR) Papua ini menegaskan, pengukuhan Kepala Suku Besar Bangsa Papua keliru dan sangat tidak masuk akal. “Karena di atas kepala suku hanya ada Tuhan, tidak ada lagi kepala suku di atas kepala suku,” tegasnya.

Isac mengatakan, DAP ada dua versi. DAP pimpinan Dominikus Sorabut dan DAP yang memiliki legitimasi yaitu DAP pimpinan Yan Piet Yerangga dan Leo Imbiri. Ia menilai, DAP yang telah mengukuhkan Lukas Enembe sebagai kepala suku besar telah mengecewakan suku-suku, kepala-kepala suku, dan semua orang Papua. Isac mencurigai, adanya kepentingan tertentu DAP melantik Lukas menjadi kepala suku besar.

Terkait kasus dugaan korupsi yang tengah ditangani KPK, Isac berharap Enembe sebagai pemimpin harus siap menghadapinya. Bukan malah menghindarinya dengan cara membangun opini-opini yang mengada-ada, seperti meminta KPK memeriksanya di lapangan terbuka.

Kepada sesama generasi muda Papua, Isac mengajak untuk mengambil hikmah dari situasi yang sedang berkembang di Bumi Cendrawasih saat ini. Termasuk kasus korupsi yang sedang dihadapi Enembe. Dia menegaskan, korupsi harus diberantas dari Papua. Papua ke depan harus memiliki pemimpin-pemimpin yang benar-benar bersih dari korupsi.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories