Disampaikan Ke Fahri Hamzah Jokowi Heran, Senayan Sekarang Kok Pada Diam

Lemahnya kalangan oposisi di DPR membuat Presiden Jokowi heran. Jokowi sampai bertanya ke Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah, kenapa DPR sekarang seperti loyo dalam mengawasi kerja Pemerintah.

Keheranan Jokowi ini disampaikan Fahri dalam Twitter @Fahrihamzah, kemarin. Sebelum ini, Fahri juga getol mengkritik lemahnya oposisi. Mantan Wakil Ketua DPR ini beberapa kali melemparkan tagar #oposisiMemble, #oposisiapenakut, sampai #OposisiSekongkol. Kemarin, politisi yang lahir dari rahim PKS ini kembali melancarkan serangan kepada oposisi dengan mendengungkan tagar #opososiPlongaPlongo.

Kicauan Fahri diawali dengan cerita pertemuannya dengan Jokowi. Kata dia, kalimat yang pertama keluar dari Jokowi saat itu ialah pertanyaan soal oposisi. “Mas, kenapa sekarang oposisinya lemah? Kok, Senayan pada diam, banyak menteri enggak diawasi? Apa yang terjadi?” tulis Fahri, mengutip omongan Jokowi. 

Setelah itu, Fahri bernarasi panjang lebar soal sistem negara dan pentingnya perang oposisi yang kata dia, sepenuhnya ada di DPR dan DPD. Kata dia, tugas anggota legislatif adalah melakukan oposisi atau pengawasan terhadap eksekutif. 

Fahri melihat, para politisi di legislatif saat ini kurang memahami cara kerja sistem presidensial. DPR dan DPD justru terjebak pada perasaan eksekutif yang terlalu dominan, terlalu sering menang, dan merasa punya akses kepada seluruh cabang kekuasaan.

Politisi asal NTB ini menilai peran legislatif sebagai pengawas atau oposisi, kurang nampak. Terutama dalam mengorganisir diri dalam kerja kerja inti pengawasan. “Mereka lebih nampak sibuk melakukan tugas tugas-tugas lain terutama bansos. Itu bukan kerja oposisi! Itu keliru!” tudingnya.

Ia pun mengkritik partai yang tak masuk koalisi Pemerintah yang diam saja. Karena itu, kata dia, banyak masyarakat yang menilai legislatif bersekongkol dengan eksekutif. Sebab, terlalu banyak persoalan yang lewat tanpa oposisi yang memadai. Ia mengaku khawatir dengan fenomena ini mengingat usia dari pemerintahan eksekutif masih cukup panjang. “Hukum alam dalam sistem ini, begitu pengawasan legislatif lemah, penyimpangan pasti merajalela. Ini dosa siapa? Ini dosa #OposisiPlangaPlongo,” tutupnya.

Saat ini, oposisi di DPR tinggal dua, yaitu PKS dan Partai Demokrat. Lalu, apa kata mereka?

 

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menganggap Fahri sedang nostalgia masa lalu, saat masih duduk di Senayan. “Mungkin Fahri sedang bernostalgia. Tak apa-apa. Yang pasti PKS tetap kritis,” kata Mardani, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Ketua Bappilu Partai Demokrat Kamhar Lakumani menyampaikan hal serupa. Kata dia, Fahri tampaknya rindu dengan kehidupan demokrasi di masa Presiden SBY. “Jangankan dari oposisi, dari partai koalisi pemerintah namun cita rasa oposisi seperti Bang Fahri Hamzah dkk juga banyak, dihargai dan eksistensinya terjaga. Itu diperlukan untuk menjaga sehatnya demokrasi,” ujarnya.

Warganet ramai menanggapi narasi Fahri soal oposisi ini. Ada yang setuju, tapi tak sedikit yang merasa aneh. Akun @68supriyono menilai, yang disampaikan Fahri hanya wacana basa-basi. “Kelompok oposisi tinggal tersisa 2 parpol besar. Partai Demokrat dan PKS, partai politik lainnya jadi pendukung partai Pemerintah. Bagaimana tidak lemah,” ujarnya.

Sementara, akun @bitel menduga, yang disampaikan Fahri untuk menarik perhatian Jokowi. “Calon jubir,” sindirnya. 

Akun @sonak_4song menyarankan Jokowi memberikan jabatan untuk Fahri. “Saran saya, Pak @jokowi memberi pertimbangan untuk @Fahrihamzah diangkat jadi Menteri Peningkatan Kualitas Oposisi,” candanya. [BCG]

]]> Lemahnya kalangan oposisi di DPR membuat Presiden Jokowi heran. Jokowi sampai bertanya ke Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah, kenapa DPR sekarang seperti loyo dalam mengawasi kerja Pemerintah.

Keheranan Jokowi ini disampaikan Fahri dalam Twitter @Fahrihamzah, kemarin. Sebelum ini, Fahri juga getol mengkritik lemahnya oposisi. Mantan Wakil Ketua DPR ini beberapa kali melemparkan tagar #oposisiMemble, #oposisiapenakut, sampai #OposisiSekongkol. Kemarin, politisi yang lahir dari rahim PKS ini kembali melancarkan serangan kepada oposisi dengan mendengungkan tagar #opososiPlongaPlongo.

Kicauan Fahri diawali dengan cerita pertemuannya dengan Jokowi. Kata dia, kalimat yang pertama keluar dari Jokowi saat itu ialah pertanyaan soal oposisi. “Mas, kenapa sekarang oposisinya lemah? Kok, Senayan pada diam, banyak menteri enggak diawasi? Apa yang terjadi?” tulis Fahri, mengutip omongan Jokowi. 

Setelah itu, Fahri bernarasi panjang lebar soal sistem negara dan pentingnya perang oposisi yang kata dia, sepenuhnya ada di DPR dan DPD. Kata dia, tugas anggota legislatif adalah melakukan oposisi atau pengawasan terhadap eksekutif. 

Fahri melihat, para politisi di legislatif saat ini kurang memahami cara kerja sistem presidensial. DPR dan DPD justru terjebak pada perasaan eksekutif yang terlalu dominan, terlalu sering menang, dan merasa punya akses kepada seluruh cabang kekuasaan.

Politisi asal NTB ini menilai peran legislatif sebagai pengawas atau oposisi, kurang nampak. Terutama dalam mengorganisir diri dalam kerja kerja inti pengawasan. “Mereka lebih nampak sibuk melakukan tugas tugas-tugas lain terutama bansos. Itu bukan kerja oposisi! Itu keliru!” tudingnya.

Ia pun mengkritik partai yang tak masuk koalisi Pemerintah yang diam saja. Karena itu, kata dia, banyak masyarakat yang menilai legislatif bersekongkol dengan eksekutif. Sebab, terlalu banyak persoalan yang lewat tanpa oposisi yang memadai. Ia mengaku khawatir dengan fenomena ini mengingat usia dari pemerintahan eksekutif masih cukup panjang. “Hukum alam dalam sistem ini, begitu pengawasan legislatif lemah, penyimpangan pasti merajalela. Ini dosa siapa? Ini dosa #OposisiPlangaPlongo,” tutupnya.

Saat ini, oposisi di DPR tinggal dua, yaitu PKS dan Partai Demokrat. Lalu, apa kata mereka?

 

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menganggap Fahri sedang nostalgia masa lalu, saat masih duduk di Senayan. “Mungkin Fahri sedang bernostalgia. Tak apa-apa. Yang pasti PKS tetap kritis,” kata Mardani, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Ketua Bappilu Partai Demokrat Kamhar Lakumani menyampaikan hal serupa. Kata dia, Fahri tampaknya rindu dengan kehidupan demokrasi di masa Presiden SBY. “Jangankan dari oposisi, dari partai koalisi pemerintah namun cita rasa oposisi seperti Bang Fahri Hamzah dkk juga banyak, dihargai dan eksistensinya terjaga. Itu diperlukan untuk menjaga sehatnya demokrasi,” ujarnya.

Warganet ramai menanggapi narasi Fahri soal oposisi ini. Ada yang setuju, tapi tak sedikit yang merasa aneh. Akun @68supriyono menilai, yang disampaikan Fahri hanya wacana basa-basi. “Kelompok oposisi tinggal tersisa 2 parpol besar. Partai Demokrat dan PKS, partai politik lainnya jadi pendukung partai Pemerintah. Bagaimana tidak lemah,” ujarnya.

Sementara, akun @bitel menduga, yang disampaikan Fahri untuk menarik perhatian Jokowi. “Calon jubir,” sindirnya. 

Akun @sonak_4song menyarankan Jokowi memberikan jabatan untuk Fahri. “Saran saya, Pak @jokowi memberi pertimbangan untuk @Fahrihamzah diangkat jadi Menteri Peningkatan Kualitas Oposisi,” candanya. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories