Dirut Telkom: Saya Nggak Suka ABS, Lebih Baik Dengar Berita Buruk

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Ririek Adriansyah berhasil melakukan transformasi di perusahaan telekomunikasi alias ‘telco’ terbesar di Tanah Air itu. Di masa pandemi Covid-19, Telkom masih berdiri gagah.

Apa sih resepnya? Salah satu yang dilakukan Ririek adalah mendorong jajarannya untuk tidak bekerja dengan prinsip ‘asal bapak senang’ alias ABS.

“Saya termasuk orang yang tidak suka ABS (asal bapak senang). Jadi saya lebih suka mendengarkan berita yang buruk di saat yang tepat. Saya meng-encourage orang untuk bercerita apa adanya,” ujar Ririek, dalam Muda Podcast Series bersama RM.id bertajuk “Inovasi Telkom Dalam Mendorong Digitalisasi Untuk Indonesia Lebih Baik”, yang tayang di channel YouTube BUMN Muda, Sabtu (18/12).

Menurut jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Elektro itu, dengan mendengar berita buruk, sesegera mungkin bisa dilakukan perbaikan.

“Menurut saya itu sangat penting, karena pasti ada masalah. Saya tidak percaya sesuatu yang selalu bagus, terlalu bagus. To good to be true lah. Kalau seperti itu di baliknya pasti ada apa-apanya,” tuturnya.

“Ketika saya masuk ke Telkom pada 2019, saya mengencourage itu kemudian mendorong transformasi di Telkom,” sambung Ririek.

Hal lain yang dilakukan saat dirinya menggantikan Alex J Sinaga adalah meninjau ulang corporate strategic scenario (CSS).

“Dari yang sangat awal, kita mendefinisikan purpose perusahaan itu apa. Untuk apa Telkom ada? Seperti itu,” ucapnya.

 

Kebetulan, ketika Erick Thohir menjabat sebagai Menteri BUMN, dia membuat masterplan dan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).

“Telkom sudah siap karena kita sudah membuat lebih dulu. Alhamdulillah karena kita membuat itu, selama pandemi pun kita masih cukup bagus lah,” tandas Ririek. [OKT]

]]> Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Ririek Adriansyah berhasil melakukan transformasi di perusahaan telekomunikasi alias ‘telco’ terbesar di Tanah Air itu. Di masa pandemi Covid-19, Telkom masih berdiri gagah.

Apa sih resepnya? Salah satu yang dilakukan Ririek adalah mendorong jajarannya untuk tidak bekerja dengan prinsip ‘asal bapak senang’ alias ABS.

“Saya termasuk orang yang tidak suka ABS (asal bapak senang). Jadi saya lebih suka mendengarkan berita yang buruk di saat yang tepat. Saya meng-encourage orang untuk bercerita apa adanya,” ujar Ririek, dalam Muda Podcast Series bersama RM.id bertajuk “Inovasi Telkom Dalam Mendorong Digitalisasi Untuk Indonesia Lebih Baik”, yang tayang di channel YouTube BUMN Muda, Sabtu (18/12).

Menurut jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Elektro itu, dengan mendengar berita buruk, sesegera mungkin bisa dilakukan perbaikan.

“Menurut saya itu sangat penting, karena pasti ada masalah. Saya tidak percaya sesuatu yang selalu bagus, terlalu bagus. To good to be true lah. Kalau seperti itu di baliknya pasti ada apa-apanya,” tuturnya.

“Ketika saya masuk ke Telkom pada 2019, saya mengencourage itu kemudian mendorong transformasi di Telkom,” sambung Ririek.

Hal lain yang dilakukan saat dirinya menggantikan Alex J Sinaga adalah meninjau ulang corporate strategic scenario (CSS).

“Dari yang sangat awal, kita mendefinisikan purpose perusahaan itu apa. Untuk apa Telkom ada? Seperti itu,” ucapnya.

 

Kebetulan, ketika Erick Thohir menjabat sebagai Menteri BUMN, dia membuat masterplan dan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).

“Telkom sudah siap karena kita sudah membuat lebih dulu. Alhamdulillah karena kita membuat itu, selama pandemi pun kita masih cukup bagus lah,” tandas Ririek. [OKT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories