Dirjen Dukcapil Ingin Hilangkan Calo Dan Korupsi Dalam Layanan Adminduk

Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) berkomitmen meningkatkan layanan administrasi dan data kependudukan (Adminduk) sehingga bebas dari calo dan korupsi.

Begitu kata Dirjen Dukcapil Prof Zudan Arif Fakrulloh pada Studium Generale Program Studi Magister Manajemen UNS bertajuk “Re-Programming Dukcapil” yang berlangsung melalui aplikasi Zoom, Selasa (13/4).

“Di dalam organisasi Dukcapil yang saya kelola sebagai Dirjen Dukcapil sejak tahun 2015 terdapat perubahan yang sangat mendalam, ada problem yang sangat besar, kemudian ada disrupsi teknologi. Sudah cukup? Belum, ditambah lagi ada pandemi covid 19, ada pemotongan anggaran. Kompleksitasnya besar sekali,” ujarnya.  

Reprogramming menurut Pakar Hukum Administrasi dan Sosiologi Hukum ini berarti menginstal ulang semangat, cara kerja, tata kelola organisasi dengan cara-cara baru. Stigma masa lalu yang lekat dengan korupsi, ada calo dan layanan yang lambat, serta produk yang itu-itu saja dianggap tidak terlalu penting berusaha untuk diubah. 

“Maka reprogramming dan rebranding diimplementasikan untuk menjadikan Dukcapil sebagai institusi yang membahagiakan dan berbasis digital,” kata Prof. Zudan. 

Prof. Zudan lebih jauh menguraikan berbagai transformasi yang dilakukan Dukcapil antara lain dengan mengetahui peran dan tugas organisasi, memetakan masalah, menetapkan area kerja yang perlu dikembangkan; melihat kesiapan sumber daya dan cara mengelolanya; serta me-manage persepsi publik agar didapatkan branding yang tepat.

Menurut dia, semuanya dimulai dengan membangun keterbukaan komunikasi internal-eksternal, bagaimana membuat Dukcapil bisa diakses oleh siapa pun sehingga dapat lebih menperjelas apa masalah dan harapan masyarakat. 

“Pemimpin tertinggi membuka akses WA pribadi dan medsos untuk masyarakat, membuat layanan Halo Dukcapil dan lainnya. Keterbukaan komunikasi ini membuat trust publik semakin menguat,” ujarnya.

Hal penting lainnya dalam bertransformasi, menurut Prof. Zudan adalah menyamakan frekuensi di internal organisasi, sehingga setiap elemen mempunyai ruh dan ideologi yang sama sebagai institusi yang membahagiakan. 

“Mendefinisikan di tataran operasional dengan tepat, dan diperkuat dengan budaya kerja baru dengan jargon penyemangat Dukcapil BISA (Berkarya, Inisiatif dan Inovatif, Sabar dan Semangat, Adaptif dan Amanah). Sistem reward and punishment serta budaya kompetisi kolaborasi membuat setiap person Dukcapil ikut berbenah diri,” kata Prof. Zudan.

Perubahan regulasi dan implementasinya, serta adaptif dan proaktif terhadap perubahan teknologi membuat Dukcapil mengalami “Quantum leap” atau lompatan besar dengan berbagai pencapaian yang luar biasa. Kerja sama dengan berbagai lembaga meningkat pesat bahkan sampai 200 kali lipat.

Begitu pun penghargaan nasional dan internasional berhasil diraih baik di level strategis maupun teknis operasional dan tentu saja output produk yang semakin meningkat kualitasnya. 

“Inovasi terkini adalah Anjungan Mandiri layaknya mesin ATM. Masyarakat bisa mencetak sendiri dokumen-dokumen penting dan memangkas waktu serta biaya. Akhirnya masyarakat menjadi terbahagiakan,” kata Prof Zudan. [DIR]

]]> Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) berkomitmen meningkatkan layanan administrasi dan data kependudukan (Adminduk) sehingga bebas dari calo dan korupsi.

Begitu kata Dirjen Dukcapil Prof Zudan Arif Fakrulloh pada Studium Generale Program Studi Magister Manajemen UNS bertajuk “Re-Programming Dukcapil” yang berlangsung melalui aplikasi Zoom, Selasa (13/4).

“Di dalam organisasi Dukcapil yang saya kelola sebagai Dirjen Dukcapil sejak tahun 2015 terdapat perubahan yang sangat mendalam, ada problem yang sangat besar, kemudian ada disrupsi teknologi. Sudah cukup? Belum, ditambah lagi ada pandemi covid 19, ada pemotongan anggaran. Kompleksitasnya besar sekali,” ujarnya.  

Reprogramming menurut Pakar Hukum Administrasi dan Sosiologi Hukum ini berarti menginstal ulang semangat, cara kerja, tata kelola organisasi dengan cara-cara baru. Stigma masa lalu yang lekat dengan korupsi, ada calo dan layanan yang lambat, serta produk yang itu-itu saja dianggap tidak terlalu penting berusaha untuk diubah. 

“Maka reprogramming dan rebranding diimplementasikan untuk menjadikan Dukcapil sebagai institusi yang membahagiakan dan berbasis digital,” kata Prof. Zudan. 

Prof. Zudan lebih jauh menguraikan berbagai transformasi yang dilakukan Dukcapil antara lain dengan mengetahui peran dan tugas organisasi, memetakan masalah, menetapkan area kerja yang perlu dikembangkan; melihat kesiapan sumber daya dan cara mengelolanya; serta me-manage persepsi publik agar didapatkan branding yang tepat.

Menurut dia, semuanya dimulai dengan membangun keterbukaan komunikasi internal-eksternal, bagaimana membuat Dukcapil bisa diakses oleh siapa pun sehingga dapat lebih menperjelas apa masalah dan harapan masyarakat. 

“Pemimpin tertinggi membuka akses WA pribadi dan medsos untuk masyarakat, membuat layanan Halo Dukcapil dan lainnya. Keterbukaan komunikasi ini membuat trust publik semakin menguat,” ujarnya.

Hal penting lainnya dalam bertransformasi, menurut Prof. Zudan adalah menyamakan frekuensi di internal organisasi, sehingga setiap elemen mempunyai ruh dan ideologi yang sama sebagai institusi yang membahagiakan. 

“Mendefinisikan di tataran operasional dengan tepat, dan diperkuat dengan budaya kerja baru dengan jargon penyemangat Dukcapil BISA (Berkarya, Inisiatif dan Inovatif, Sabar dan Semangat, Adaptif dan Amanah). Sistem reward and punishment serta budaya kompetisi kolaborasi membuat setiap person Dukcapil ikut berbenah diri,” kata Prof. Zudan.

Perubahan regulasi dan implementasinya, serta adaptif dan proaktif terhadap perubahan teknologi membuat Dukcapil mengalami “Quantum leap” atau lompatan besar dengan berbagai pencapaian yang luar biasa. Kerja sama dengan berbagai lembaga meningkat pesat bahkan sampai 200 kali lipat.

Begitu pun penghargaan nasional dan internasional berhasil diraih baik di level strategis maupun teknis operasional dan tentu saja output produk yang semakin meningkat kualitasnya. 

“Inovasi terkini adalah Anjungan Mandiri layaknya mesin ATM. Masyarakat bisa mencetak sendiri dokumen-dokumen penting dan memangkas waktu serta biaya. Akhirnya masyarakat menjadi terbahagiakan,” kata Prof Zudan. [DIR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories