Diminta Akui Berpaspor AS Saat Nyalon Bupati Orient Harus Kesatria

Bupati Sabu Raijua terpilih Orient P Riwu Kore harus berjiwa kesatria. Dia harus jujur mengakui masih memiliki paspor Amerika Serikat (AS) saat nyalon bupati.

Demikian disampaikan Adhitya Nasution, kuasa hukum Pasangan Calon (Paslon) Bupati-Wakil Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke-Yohanis Uly, kemarin.

Paslon Nikodemus-Yohanis ini adalah pasangan yang menggugat Paslon Orient Riwu Kore-Thobias ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Adhitya mengatakan, fakta-fakta sidang sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sabu Raijua, menunjukkan Orient Riwu Kore terbukti memiliki paspor AS. Atas dasar itu, MK diminta membatalkan hasil Pilkada Sabu Raijua.

Menurut dia, meski Orient terus menyangkal sebagai Warga Negara Asing (WNA) saat mendaftar calon Bupati ke KPU, tapi fakta-fakta di persidangan sebaliknya. Berbagai bukti di persidangan menunjukkan Orient adalah WNA.

“Harusnya pihak terlapor (Orient) mengakui saja, bahwa saat pendaftaran dia masih berwarga negera AS. Dia harus menunjukkan sifat kesatria,” desaknya.

Adhitya pun mengatakan, dengan bukti yang telah dibeberkan di persidangan, sudah jelas bahwa permasalahan itu bakal mempengaruhi hasil Pilkada Sabu Raijua.

Dia mendorong MK mengesampingkan tentang ambang batas dan tenggat waktu pendaftaran perkara. Ini dikarenakan fakta kecurangan baru terungkap setelah Pilkada selesai.

 

“Kami berharap hakim MK putuskan dengan menyatakan tidak sah perolehan suara Paslon nomor 02 Orient P Riwu Kore-Thobias sebagai kontestan Pilkada Sabu Raijua. Selanjutnya, menetapkan klien kami sebagai pemenang, atau setidaknya digelar Pemungutan Suara Ulang (PSU),” pintanya.

Adhitya mengapresiasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), terutama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amerika Serikat. Pada persidangan sebelumnya secara gamblang menjelaskan permasalahan sebenarnya.

“Kami sangat yakin seluruh masyarakat Sabu Raijua menginginkan pemimpin jujur, terlepas siapa pun yang akan memimpin Sabu Raijua di kemudian hari,” tandasnya.

Di sidang lanjutan sengketa Pilkada Sabu Raijua sebelumnya, staf teknisi Imigrasi KJRI Los Angeles Sigit Setyawan menyebut, Orient telah berbuat tidak jujur saat mengajukan paspor Indonesia pada 2019.

“Orient tidak jujur dalam permohonan paspor. Sebetulnya beliau sudah memiliki US Citizenship saat mengajukan paspor di KJRI Los Angeles saat itu. Kami yakini beliau tidak jujur dalam memberikan keterangan saat permohonan paspor,” jelasnya.

Kasus Orient meledak setelah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merekomendasikan penundaan pelantikan Orient. Pasalnya, Orient tercatat sebagai warga AS sebagaimana keterangan Kedutaan Besar AS.

Sementara, Orient mengaku sudah mengajukan pelepasan kewarganegaraan AS awal Agustus 2020. Meski Kedutaan Besar AS belum menindaklanjuti proses pelepasan kewarganegaraan karena Covid-19.

“Itu bukan kesalahan pihak saya, tapi kesalahan mereka,” kata Orient. [SSL]

]]> Bupati Sabu Raijua terpilih Orient P Riwu Kore harus berjiwa kesatria. Dia harus jujur mengakui masih memiliki paspor Amerika Serikat (AS) saat nyalon bupati.

Demikian disampaikan Adhitya Nasution, kuasa hukum Pasangan Calon (Paslon) Bupati-Wakil Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke-Yohanis Uly, kemarin.

Paslon Nikodemus-Yohanis ini adalah pasangan yang menggugat Paslon Orient Riwu Kore-Thobias ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Adhitya mengatakan, fakta-fakta sidang sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sabu Raijua, menunjukkan Orient Riwu Kore terbukti memiliki paspor AS. Atas dasar itu, MK diminta membatalkan hasil Pilkada Sabu Raijua.

Menurut dia, meski Orient terus menyangkal sebagai Warga Negara Asing (WNA) saat mendaftar calon Bupati ke KPU, tapi fakta-fakta di persidangan sebaliknya. Berbagai bukti di persidangan menunjukkan Orient adalah WNA.

“Harusnya pihak terlapor (Orient) mengakui saja, bahwa saat pendaftaran dia masih berwarga negera AS. Dia harus menunjukkan sifat kesatria,” desaknya.

Adhitya pun mengatakan, dengan bukti yang telah dibeberkan di persidangan, sudah jelas bahwa permasalahan itu bakal mempengaruhi hasil Pilkada Sabu Raijua.

Dia mendorong MK mengesampingkan tentang ambang batas dan tenggat waktu pendaftaran perkara. Ini dikarenakan fakta kecurangan baru terungkap setelah Pilkada selesai.

 

“Kami berharap hakim MK putuskan dengan menyatakan tidak sah perolehan suara Paslon nomor 02 Orient P Riwu Kore-Thobias sebagai kontestan Pilkada Sabu Raijua. Selanjutnya, menetapkan klien kami sebagai pemenang, atau setidaknya digelar Pemungutan Suara Ulang (PSU),” pintanya.

Adhitya mengapresiasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), terutama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amerika Serikat. Pada persidangan sebelumnya secara gamblang menjelaskan permasalahan sebenarnya.

“Kami sangat yakin seluruh masyarakat Sabu Raijua menginginkan pemimpin jujur, terlepas siapa pun yang akan memimpin Sabu Raijua di kemudian hari,” tandasnya.

Di sidang lanjutan sengketa Pilkada Sabu Raijua sebelumnya, staf teknisi Imigrasi KJRI Los Angeles Sigit Setyawan menyebut, Orient telah berbuat tidak jujur saat mengajukan paspor Indonesia pada 2019.

“Orient tidak jujur dalam permohonan paspor. Sebetulnya beliau sudah memiliki US Citizenship saat mengajukan paspor di KJRI Los Angeles saat itu. Kami yakini beliau tidak jujur dalam memberikan keterangan saat permohonan paspor,” jelasnya.

Kasus Orient meledak setelah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merekomendasikan penundaan pelantikan Orient. Pasalnya, Orient tercatat sebagai warga AS sebagaimana keterangan Kedutaan Besar AS.

Sementara, Orient mengaku sudah mengajukan pelepasan kewarganegaraan AS awal Agustus 2020. Meski Kedutaan Besar AS belum menindaklanjuti proses pelepasan kewarganegaraan karena Covid-19.

“Itu bukan kesalahan pihak saya, tapi kesalahan mereka,” kata Orient. [SSL]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories