Dilema Kota (Yang) Membentuk Manusia .

Kota tadinya adalah “wadah”yang dibangun oleh manusia untuk menampung visi dan cita-cita kehidupannya. Untuk melanggengkan “wadah” tersebut, maka masyarakat yang ada di dalamnya pun membangun sistem. Sebab dengan sistem itu berbagai subyek dan obyek yang saling berinteraksi bisa menghasilkan keteraturan sosial (social order) yang menyamankan semua orang. Sekaligus, dengan sistem yang solid, maka berbagai hal yang bisa mendestruksi tatanan sosial dapat diatasi atau diminimalisir.

Manusia tadinya adalah “desainer”, “creator”, “inisiator”, dan sekaligus penikmat kota. Jadi kota, tadinya, adalah wujud visual dari tatanan manusia yang menghendaki terjadinya siklus yang adil dan demokratis. Sebab kota, merupakan gambaran nyata dari, oleh, dan untuk masyarakat kota itu sendiri.

Sehingga bisa dipahami di sini, jika kota dan manusia, tadinya adalah dua entitas yang saling berhubungan karena semangat utilitas, di mana keduanya saling mendapat dan mencari manfaat dari kehadiran dan keberadaannya. Dengan ilustrasi lain, relasi kota dengan manusia seperti (subyek) pemilik sepeda motor dengan (benda) sepeda motornya (tentu saja bisa dengan contoh lain), di mana sepeda motor dengan motornya saling memberikan keuntungan: ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Apa yang menghubungkan kota dengan manusia, sesungguhnya hanya satu: ilmu pengetahuan. Sebab dengan ilmu pengetahuan, orang bisa memahami mengapa kota harus didesain seperti ini atau itu. Dengan ilmu pengetahuan pula, maka seseorang bisa dengan anggun menikmati secangkir kopi pahit seraya menikmati indahnya sebuah arsitektur kota.

Di sisi lain, kota merupakan realitas sosial budaya masyarakat yang sudah lama menjadi ruang aktivitas manusia membangun kebudayaannya. Dengan dinamika yang tinggi maka kota akhirnya menjadi bagian imajinasi manusia paling progresif dan ekspresif sepanjang zaman. Maka menjadi wajar jika kemudian, banyak anggota suatu masyarakat lebih menginginkan untuk hidup dan tinggal di ruang yang bernama kota. Bahkan menurut sebuah prediksi para ahli, sekitar satu dekade lagi, penduduk dunia mayoritas akan bermukim di kota.

Di masa lalu, kota-kota dibangun oleh manusia. Manusia datang ke sebuah kawasan lalu melakukan tindakan babat alas. Di kawasan baru tersebut mereka mendesain kehidupan, merancang sistem, dan membangun kebudayaan. Biasanya semua dinamika sosial keseharian di-drive oleh elit yang tumbuh di kalangan mereka. Para pemuka ini juga yang kemudian meletakkan dasar-dasar masyarakat.

 

Di masa sekarang, kota seperti mahluk hidup yang memiliki jalan dan sistemnya sendiri dalam mengembangkan diri atau memperbaharui dirinya. Kota-kota modern menginspirasi orang-orang di dalamnya untuk mencurahkan segala sumberdaya yang dimiliki oleh manusia, untuk terus menerus berinovasi, mencari yang baru untuk menuju suatu kota yang ideal dan (mendekati) sempurna. Agensi-agensi kota ini kemudian seperti nyawa bagi keberlanjutan budaya kota.

Ketika kota semakin “bernyawa”, maka ia bisa menentukan jalannya sendiri. Secara alamiah, terlihat bagaimana kota membersihkan daki-daki yang menempel di tubuhnya dengan cara memindahkannya ke pinggiran. Coba saja lihat, bagaimana penduduk asli pada sebuah kawasan yang menjadi kota, akhirnya banyak yang “tergeser” ke pinggiran, bahkan semakin minggir dan menjauh.

Sementara, mereka yang mampu menjadi bagian dari sistem hidup kota, justru mendapatkan beragam kemewahan. Bahkan tiap hari bagi mereka adalah perayaan atas satu kata yang tetap membius sampai hari ini: kesuksesan.

Disadari atau tidak, kota per hari ini adalah aktor utama yang membentuk manusia. Bahkan visi kota tidak jarang diletakkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan kota, bukan manusianya. Berbagai rehabilitasi dan perluasan sarana maupuan visi lain seperti peningkatan kualitas pendidikan, ruang ekspresi seni budaya, bahkan sekadar tempat nongkrong dan melepas lelah, ditahbiskan untuk meningkatkan sistem kota itu sendiri.

Posisi manusia kemudian seperti menjadi obyek dari kota. Di mana mereka harus menyesuaikan dengan sistem kota tersebut. Contoh, ketika Anda datang ke sebuah tempat makan modern, biasanya Anda harus mengantri, membayar dan menunggu disuguhkan makanan yang dipesannya.

Berbeda dengan warung makan zaman lama seperti di Warung Padang, misalnya. Anda pesan terlebih dahulu, kemudian menikmati makanan yang dipesan, dan baru membayar ketika selesai menikmati hidangan.

Kedua sistem tersebut seperti tidak bisa ditawar. Baku dan “tidak bersabahat”. Begitu juga dengan sistem kota lainnya, seperti bepergian menggunakan pesawat atau kereta, dan moda lain dengan sistemnya sendiri.

Dalam perspektif sosiologi, model memaksa struktur kota tersebut dikarenakan kota hadir lebih dahulu dari manusia. Kota telah lama berkolaborasi dengan masyarakat dengan segala sistem dan tata aturannya. Bahkan kolaborasi kota dengan masyarakat telah menjadi nilai tersendiri yang dipelihara karena dianggap akan memberi kepastian kepada keberlangsungan peradaban manusia yang hidup dalam sistem kota tersebut.

Hukum-hukum struktural yang mengikat dalam kota karena kehadirannya yang sudah lama, sehingga kota belajar pada kesalahan-kesalahan sebelumnya. Sehingga paksaan yang dirasakan masyarakat yang baru lahir, sejatinya karena mereka tidak mengetahui bagaimana kota itu tumbuh, bertahan, dan bertahan di tengah dinamika kehidupan manusia itu sendiri.

 

Lalu, apakah manusia-manusia baru memiliki potensi untuk melakukan perubahan pada suatu kota?

Tentu saja sangat mungkin. Karena kota-kota, walau bagaimanapun hadir dan menguat karena mereka yang mengelola kota tersebut. Agen-agen kota memang bertransformasi setiap saat. Tetapi tetap saja dalam setiap pergantian para pengelola kota, arah baru akan terus menjadi jalan pencarian para pemimpin ini. Sehingga menjulangnya peradaban manusia bisa divisualisasikan dengan indah pada wujud kota.

Di sinilah selalu muncul dilema. Sebab usia manusia jauh lebih pendek dari kota. Sehingga transisi kepemimpinan yang akan berkolaborasi dengan wujud kota, dipertaruhkan secara periodik. Sebuah kota akan sangat beruntung jika ternyata mereka mendapatkan para pemimpin kota yang kreatif, kritis, kolaboratif, dan komunikatif, serta humanis.

Namun tidak jarang kota-kota mendapatkan pemimpin boneka, yang tidak punya visi apalagi kreativitas. Pada kota yang kebetulan dikelola oleh pemimpin seperti ini, biasanya, kota menjadi mati bahkan mencekam. Sebab gerak manusia yang muncul di dalamnya, hanya ekspresi dari sesuatu yang menunjukkan kesemuan dan kepalsuan. [*]

[Penulis adalah Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat]

]]> .
Kota tadinya adalah “wadah”yang dibangun oleh manusia untuk menampung visi dan cita-cita kehidupannya. Untuk melanggengkan “wadah” tersebut, maka masyarakat yang ada di dalamnya pun membangun sistem. Sebab dengan sistem itu berbagai subyek dan obyek yang saling berinteraksi bisa menghasilkan keteraturan sosial (social order) yang menyamankan semua orang. Sekaligus, dengan sistem yang solid, maka berbagai hal yang bisa mendestruksi tatanan sosial dapat diatasi atau diminimalisir.

Manusia tadinya adalah “desainer”, “creator”, “inisiator”, dan sekaligus penikmat kota. Jadi kota, tadinya, adalah wujud visual dari tatanan manusia yang menghendaki terjadinya siklus yang adil dan demokratis. Sebab kota, merupakan gambaran nyata dari, oleh, dan untuk masyarakat kota itu sendiri.

Sehingga bisa dipahami di sini, jika kota dan manusia, tadinya adalah dua entitas yang saling berhubungan karena semangat utilitas, di mana keduanya saling mendapat dan mencari manfaat dari kehadiran dan keberadaannya. Dengan ilustrasi lain, relasi kota dengan manusia seperti (subyek) pemilik sepeda motor dengan (benda) sepeda motornya (tentu saja bisa dengan contoh lain), di mana sepeda motor dengan motornya saling memberikan keuntungan: ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Apa yang menghubungkan kota dengan manusia, sesungguhnya hanya satu: ilmu pengetahuan. Sebab dengan ilmu pengetahuan, orang bisa memahami mengapa kota harus didesain seperti ini atau itu. Dengan ilmu pengetahuan pula, maka seseorang bisa dengan anggun menikmati secangkir kopi pahit seraya menikmati indahnya sebuah arsitektur kota.

Di sisi lain, kota merupakan realitas sosial budaya masyarakat yang sudah lama menjadi ruang aktivitas manusia membangun kebudayaannya. Dengan dinamika yang tinggi maka kota akhirnya menjadi bagian imajinasi manusia paling progresif dan ekspresif sepanjang zaman. Maka menjadi wajar jika kemudian, banyak anggota suatu masyarakat lebih menginginkan untuk hidup dan tinggal di ruang yang bernama kota. Bahkan menurut sebuah prediksi para ahli, sekitar satu dekade lagi, penduduk dunia mayoritas akan bermukim di kota.

Di masa lalu, kota-kota dibangun oleh manusia. Manusia datang ke sebuah kawasan lalu melakukan tindakan babat alas. Di kawasan baru tersebut mereka mendesain kehidupan, merancang sistem, dan membangun kebudayaan. Biasanya semua dinamika sosial keseharian di-drive oleh elit yang tumbuh di kalangan mereka. Para pemuka ini juga yang kemudian meletakkan dasar-dasar masyarakat.

 

Di masa sekarang, kota seperti mahluk hidup yang memiliki jalan dan sistemnya sendiri dalam mengembangkan diri atau memperbaharui dirinya. Kota-kota modern menginspirasi orang-orang di dalamnya untuk mencurahkan segala sumberdaya yang dimiliki oleh manusia, untuk terus menerus berinovasi, mencari yang baru untuk menuju suatu kota yang ideal dan (mendekati) sempurna. Agensi-agensi kota ini kemudian seperti nyawa bagi keberlanjutan budaya kota.

Ketika kota semakin “bernyawa”, maka ia bisa menentukan jalannya sendiri. Secara alamiah, terlihat bagaimana kota membersihkan daki-daki yang menempel di tubuhnya dengan cara memindahkannya ke pinggiran. Coba saja lihat, bagaimana penduduk asli pada sebuah kawasan yang menjadi kota, akhirnya banyak yang “tergeser” ke pinggiran, bahkan semakin minggir dan menjauh.

Sementara, mereka yang mampu menjadi bagian dari sistem hidup kota, justru mendapatkan beragam kemewahan. Bahkan tiap hari bagi mereka adalah perayaan atas satu kata yang tetap membius sampai hari ini: kesuksesan.

Disadari atau tidak, kota per hari ini adalah aktor utama yang membentuk manusia. Bahkan visi kota tidak jarang diletakkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan kota, bukan manusianya. Berbagai rehabilitasi dan perluasan sarana maupuan visi lain seperti peningkatan kualitas pendidikan, ruang ekspresi seni budaya, bahkan sekadar tempat nongkrong dan melepas lelah, ditahbiskan untuk meningkatkan sistem kota itu sendiri.

Posisi manusia kemudian seperti menjadi obyek dari kota. Di mana mereka harus menyesuaikan dengan sistem kota tersebut. Contoh, ketika Anda datang ke sebuah tempat makan modern, biasanya Anda harus mengantri, membayar dan menunggu disuguhkan makanan yang dipesannya.

Berbeda dengan warung makan zaman lama seperti di Warung Padang, misalnya. Anda pesan terlebih dahulu, kemudian menikmati makanan yang dipesan, dan baru membayar ketika selesai menikmati hidangan.

Kedua sistem tersebut seperti tidak bisa ditawar. Baku dan “tidak bersabahat”. Begitu juga dengan sistem kota lainnya, seperti bepergian menggunakan pesawat atau kereta, dan moda lain dengan sistemnya sendiri.

Dalam perspektif sosiologi, model memaksa struktur kota tersebut dikarenakan kota hadir lebih dahulu dari manusia. Kota telah lama berkolaborasi dengan masyarakat dengan segala sistem dan tata aturannya. Bahkan kolaborasi kota dengan masyarakat telah menjadi nilai tersendiri yang dipelihara karena dianggap akan memberi kepastian kepada keberlangsungan peradaban manusia yang hidup dalam sistem kota tersebut.

Hukum-hukum struktural yang mengikat dalam kota karena kehadirannya yang sudah lama, sehingga kota belajar pada kesalahan-kesalahan sebelumnya. Sehingga paksaan yang dirasakan masyarakat yang baru lahir, sejatinya karena mereka tidak mengetahui bagaimana kota itu tumbuh, bertahan, dan bertahan di tengah dinamika kehidupan manusia itu sendiri.

 

Lalu, apakah manusia-manusia baru memiliki potensi untuk melakukan perubahan pada suatu kota?

Tentu saja sangat mungkin. Karena kota-kota, walau bagaimanapun hadir dan menguat karena mereka yang mengelola kota tersebut. Agen-agen kota memang bertransformasi setiap saat. Tetapi tetap saja dalam setiap pergantian para pengelola kota, arah baru akan terus menjadi jalan pencarian para pemimpin ini. Sehingga menjulangnya peradaban manusia bisa divisualisasikan dengan indah pada wujud kota.

Di sinilah selalu muncul dilema. Sebab usia manusia jauh lebih pendek dari kota. Sehingga transisi kepemimpinan yang akan berkolaborasi dengan wujud kota, dipertaruhkan secara periodik. Sebuah kota akan sangat beruntung jika ternyata mereka mendapatkan para pemimpin kota yang kreatif, kritis, kolaboratif, dan komunikatif, serta humanis.

Namun tidak jarang kota-kota mendapatkan pemimpin boneka, yang tidak punya visi apalagi kreativitas. Pada kota yang kebetulan dikelola oleh pemimpin seperti ini, biasanya, kota menjadi mati bahkan mencekam. Sebab gerak manusia yang muncul di dalamnya, hanya ekspresi dari sesuatu yang menunjukkan kesemuan dan kepalsuan. [*]

[Penulis adalah Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories