Diketawain Malam-malam

Setiap orang, satu dua kali pasti pernah bersinggungan dengan momen mistis. Kali ini, flashback beberapa tahun kebelakang, di mana kejadian mistis menimpa saya dan teman-teman saat duduk di bangku kuliah. Hari itu, hari pertama tiba di Yogyakarta. Yup, sebulan ke depan kita tinggal di kos-kosan yang dekat dengan tempat PKL kami. PKL wajib sebagai syarat untuk mengambil skripsi di semester depan.

Jauh-jauh ke Jogja, apes banget di hari pertama saya, Hani dan Retno sudah disambut dengan suara tertawa yang turut nimbrung saat kami bergurau tengah malam. Kata orang dulu, kalau suaranya dekat biasanya jauh, namun kalau suaranya jauh berarti dekat.

Malam itu kami bertiga nyatanya tidak terlalu menggubris kejadian tersebut, malahan dengan entengnya menganggap suara ketawa itu adalah suara kucing dan memilih mengakhiri obrolan lalu bergegas tidur. Orang gila mana yang berpikir kucing bisa tertawa coba? Hahaha, batin kami setelah teringat kejadian semalam.

“Mambengi sing ngomong suara ngguyu iku kucing sopo seh? (Semalam yang bilang suara tertawa itu suara kucing siapa sih?),” tanyaku pada Hani dan Retno

“Aku. Heleh bene cek ra mikir aneh-aneh. Ngengkleng kon engko (Saya. Biar nggak mikir aneh-aneh kalian, pusing nanti),” jawab Retno disambut gelak tawa Hani.

Hari kedua, ketiga hingga seminggu kemudian beruntung kami tak merasakan keganjilan apapun. Hanya saja pada hari ke-15 kami mulai diganggu lagi. Saat itu adzan magrib berkumandang seperti biasa kami mulai bersiap untuk melaksanakan shalat, tapi hari itu hanya Hani yang menunaikan shalat sementara saya dan Retno sedang absen.

Tak seperti biasa, Hani tiba-tiba lari ke kamar dengan keadaan terengah-engah entah apa yang dilihatnya saat itu, ia memilih bungkam, diam seribu bahasa, dengan tatapan kosong. Kami yang kaget dengan kondisinya memilih mengajaknya keluar dari kosan dan benar setelah keluar dari kos Hani akhirnya bercerita soal apa yang dilihatnya saat akan mengambil wudhu saat itu.

“Ngeri rek, duh aku bingung ate cerito, pokoke ireng. Wes rasah dibahas. (Serem teman-teman, aku bingung mau cerita, pokoknya hitam. Sudah jangan dibahas),” jawab Hani.

Sejak hari itu, kami memilih tak bertanya tentang apa yang sebenar-benarnya dilihat Hani. Moral of the story setiap rumah atau tempat tinggal ada penjaganya sendiri, di mana pun tempat kita berpijak sopan santun itu perlu. Barangkali juga, dengan kejadian kami ini ‘si tuan rumah’ risih dengan kami yang berisik di tengah malam makanya beberapa kejadian itu terpaksa menimpa kami. [Mentari Kusuma/Wartawan Rakyat Merdeka]

]]> Setiap orang, satu dua kali pasti pernah bersinggungan dengan momen mistis. Kali ini, flashback beberapa tahun kebelakang, di mana kejadian mistis menimpa saya dan teman-teman saat duduk di bangku kuliah. Hari itu, hari pertama tiba di Yogyakarta. Yup, sebulan ke depan kita tinggal di kos-kosan yang dekat dengan tempat PKL kami. PKL wajib sebagai syarat untuk mengambil skripsi di semester depan.

Jauh-jauh ke Jogja, apes banget di hari pertama saya, Hani dan Retno sudah disambut dengan suara tertawa yang turut nimbrung saat kami bergurau tengah malam. Kata orang dulu, kalau suaranya dekat biasanya jauh, namun kalau suaranya jauh berarti dekat.

Malam itu kami bertiga nyatanya tidak terlalu menggubris kejadian tersebut, malahan dengan entengnya menganggap suara ketawa itu adalah suara kucing dan memilih mengakhiri obrolan lalu bergegas tidur. Orang gila mana yang berpikir kucing bisa tertawa coba? Hahaha, batin kami setelah teringat kejadian semalam.

“Mambengi sing ngomong suara ngguyu iku kucing sopo seh? (Semalam yang bilang suara tertawa itu suara kucing siapa sih?),” tanyaku pada Hani dan Retno

“Aku. Heleh bene cek ra mikir aneh-aneh. Ngengkleng kon engko (Saya. Biar nggak mikir aneh-aneh kalian, pusing nanti),” jawab Retno disambut gelak tawa Hani.

Hari kedua, ketiga hingga seminggu kemudian beruntung kami tak merasakan keganjilan apapun. Hanya saja pada hari ke-15 kami mulai diganggu lagi. Saat itu adzan magrib berkumandang seperti biasa kami mulai bersiap untuk melaksanakan shalat, tapi hari itu hanya Hani yang menunaikan shalat sementara saya dan Retno sedang absen.

Tak seperti biasa, Hani tiba-tiba lari ke kamar dengan keadaan terengah-engah entah apa yang dilihatnya saat itu, ia memilih bungkam, diam seribu bahasa, dengan tatapan kosong. Kami yang kaget dengan kondisinya memilih mengajaknya keluar dari kosan dan benar setelah keluar dari kos Hani akhirnya bercerita soal apa yang dilihatnya saat akan mengambil wudhu saat itu.

“Ngeri rek, duh aku bingung ate cerito, pokoke ireng. Wes rasah dibahas. (Serem teman-teman, aku bingung mau cerita, pokoknya hitam. Sudah jangan dibahas),” jawab Hani.

Sejak hari itu, kami memilih tak bertanya tentang apa yang sebenar-benarnya dilihat Hani. Moral of the story setiap rumah atau tempat tinggal ada penjaganya sendiri, di mana pun tempat kita berpijak sopan santun itu perlu. Barangkali juga, dengan kejadian kami ini ‘si tuan rumah’ risih dengan kami yang berisik di tengah malam makanya beberapa kejadian itu terpaksa menimpa kami. [Mentari Kusuma/Wartawan Rakyat Merdeka]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories