Dihina Tak Marah, Dibenci Tak Dengki Anies Dan Jokowi Sebelas Duabelas

Dalam menghadapi kritik, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan punya sifat yang sama dengan Presiden Jokowi. Bisa dibilang sebelas-duabelas. Dihina tidak marah, dibenci juga tidak dengki.

Setelah menjadi Gubernur DKI, Anies banyak mendapat julukan negatif dari orang-orang yang membencinya. Mulai dari Wan Abud, Wan Aibon, Wan Bambu, hingga Wan Toa. Anies juga dicap pembohong, kadrun, gaberner, ahli tata kata, dan lainnya. Aneka julukan itu bertebaran di berbagai platform media sosial, baik dalam bentuk meme, video, atau tulisan.

Menghadapi semua ini, Anies tetap santuy. Terbukti, belum ada penghina atau pembencinya yang dipolisikan. Yang marah justru pendukungnya.

Kenapa bisa sesantuy itu? Pertanyaan tersebut dijawab Anies dalam video berdurasi 10 menit 53 detik yang diunggah ke kanal YouTube Anies Baswedan, Sabtu (1/1). Video awal tahun ini diberi judul “Makna, Rasa, dan Asa” #DariDekat.

Di salah satu bagian, ada pertanyaan: Bagaimana pandangan Anies terhadap kritik? Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku tak masalah. Termasuk dengan kata maupun gambar visual yang membuatnya tak nyaman dari orang-orang yang tidak menyukainya.

“Saya tidak minta Anda untuk menyukai saya, tapi saya minta Anda untuk bantu sesama di Jakarta,” ucap Anies, dengan tersenyum.

Khususnya di tengah pandemi Covid-19, ketika banyak orang membutuhkan pertolongan. Yang diharapkan Anies ini adalah agar warga Jakarta bahu-membahu membantu sesama, tanpa melihat apakah orang tersebut menyukainya sebagai gubernur atau tidak.

“Kalau ikut bantu Jakarta terima kasih, walaupun sambil ngomong macem-macem tentang gubernurnya, that’s ok,” lanjut Anies, dengan mengacungkan dua jempol. “Sambil marah nggak apa-apa, tapi yang penting bantuin Jakarta, selamatin sama-sama warga Jakarta,” sambungnya.

 

Sifat Anies ini mirip Presiden Jokowi yang juga tak terlalu mempersoalkan aneka cemoohan terhadap dirinya. Selama ini, Jokowi juga mendapat banyak julukan negatif dari para pembencinya. Mulai dari petugas partai, diktator, otoriter, planga-plongo, dan lain sebagainya. Yang terbaru, Jokowi dijuluki “The King of Lip Service” oleh BEM UI. Namun, Jokowi tetap santai. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, menanggapinya dengan tersenyum.

“Ya itu kan sudah sejak lama ya, dulu ada yang bilang saya ini klemar-klemer, ada yang bilang juga saya itu plonga-plongo, kemudian ganti lagi ada yang bilang saya ini otoriter,” ujar Jokowi, saat itu.

“Kemudian ada juga yang ngomong saya ini bebek lumpuh, dan baru-baru ini ada yang ngomong saya ini Bapak Bipang. Terakhir, ada yang menyampaikan mengenai The King of Lip Service,” sambung mantan Wali Kota Solo ini.

Baginya, kritik, termasuk dalam bentuk julukan, adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Karena Indonesia adalah negara demokrasi. “Universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi. Tapi, juga ingat, kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopansantunan,” ingatnya.

Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio meyakini, Anies banyak belajar pada Jokowi dalam hal menanggapi kritik dan hinaan ketika menjabat sebagai pemimpin di negara demokrasi. Sehingga tidak heran, jika Anies sebelas duabelas dengan Jokowi.

“Saya rasa Anies Baswedan belajar dari Pak Jokowi,” kata pria yang akrab disapa Hensat ini, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sebab, sikap Jokowi yang tidak marah maupun dengki dalam merespons kritik dan hinaan, terbukti diapresiasi banyak kalangan. Bahkan, tidak jarang banyak yang dahulunya membenci Jokowi, kini putar haluan menjadi pembela Jokowi.

“Itu kan Pak Jokowi berhasil. Jadi memang sudah seharusnya begitu. Sangat baik Anies Baswedan mencontoh Jokowi,” pungkasnya. [SAR]

]]> Dalam menghadapi kritik, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan punya sifat yang sama dengan Presiden Jokowi. Bisa dibilang sebelas-duabelas. Dihina tidak marah, dibenci juga tidak dengki.

Setelah menjadi Gubernur DKI, Anies banyak mendapat julukan negatif dari orang-orang yang membencinya. Mulai dari Wan Abud, Wan Aibon, Wan Bambu, hingga Wan Toa. Anies juga dicap pembohong, kadrun, gaberner, ahli tata kata, dan lainnya. Aneka julukan itu bertebaran di berbagai platform media sosial, baik dalam bentuk meme, video, atau tulisan.

Menghadapi semua ini, Anies tetap santuy. Terbukti, belum ada penghina atau pembencinya yang dipolisikan. Yang marah justru pendukungnya.

Kenapa bisa sesantuy itu? Pertanyaan tersebut dijawab Anies dalam video berdurasi 10 menit 53 detik yang diunggah ke kanal YouTube Anies Baswedan, Sabtu (1/1). Video awal tahun ini diberi judul “Makna, Rasa, dan Asa” #DariDekat.

Di salah satu bagian, ada pertanyaan: Bagaimana pandangan Anies terhadap kritik? Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku tak masalah. Termasuk dengan kata maupun gambar visual yang membuatnya tak nyaman dari orang-orang yang tidak menyukainya.

“Saya tidak minta Anda untuk menyukai saya, tapi saya minta Anda untuk bantu sesama di Jakarta,” ucap Anies, dengan tersenyum.

Khususnya di tengah pandemi Covid-19, ketika banyak orang membutuhkan pertolongan. Yang diharapkan Anies ini adalah agar warga Jakarta bahu-membahu membantu sesama, tanpa melihat apakah orang tersebut menyukainya sebagai gubernur atau tidak.

“Kalau ikut bantu Jakarta terima kasih, walaupun sambil ngomong macem-macem tentang gubernurnya, that’s ok,” lanjut Anies, dengan mengacungkan dua jempol. “Sambil marah nggak apa-apa, tapi yang penting bantuin Jakarta, selamatin sama-sama warga Jakarta,” sambungnya.

 

Sifat Anies ini mirip Presiden Jokowi yang juga tak terlalu mempersoalkan aneka cemoohan terhadap dirinya. Selama ini, Jokowi juga mendapat banyak julukan negatif dari para pembencinya. Mulai dari petugas partai, diktator, otoriter, planga-plongo, dan lain sebagainya. Yang terbaru, Jokowi dijuluki “The King of Lip Service” oleh BEM UI. Namun, Jokowi tetap santai. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, menanggapinya dengan tersenyum.

“Ya itu kan sudah sejak lama ya, dulu ada yang bilang saya ini klemar-klemer, ada yang bilang juga saya itu plonga-plongo, kemudian ganti lagi ada yang bilang saya ini otoriter,” ujar Jokowi, saat itu.

“Kemudian ada juga yang ngomong saya ini bebek lumpuh, dan baru-baru ini ada yang ngomong saya ini Bapak Bipang. Terakhir, ada yang menyampaikan mengenai The King of Lip Service,” sambung mantan Wali Kota Solo ini.

Baginya, kritik, termasuk dalam bentuk julukan, adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Karena Indonesia adalah negara demokrasi. “Universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi. Tapi, juga ingat, kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopansantunan,” ingatnya.

Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio meyakini, Anies banyak belajar pada Jokowi dalam hal menanggapi kritik dan hinaan ketika menjabat sebagai pemimpin di negara demokrasi. Sehingga tidak heran, jika Anies sebelas duabelas dengan Jokowi.

“Saya rasa Anies Baswedan belajar dari Pak Jokowi,” kata pria yang akrab disapa Hensat ini, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sebab, sikap Jokowi yang tidak marah maupun dengki dalam merespons kritik dan hinaan, terbukti diapresiasi banyak kalangan. Bahkan, tidak jarang banyak yang dahulunya membenci Jokowi, kini putar haluan menjadi pembela Jokowi.

“Itu kan Pak Jokowi berhasil. Jadi memang sudah seharusnya begitu. Sangat baik Anies Baswedan mencontoh Jokowi,” pungkasnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories