Dibenci Teroris, Ahok Bingung .

Ahok heran kenapa Zakiah Aini (ZA), teroris yang menyerang Mabes Polri, Rabu (31/3), begitu membencinya.

Kebencian ZA terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu, terungkap dalam surat wasiatnya yang ditulis tangan dalam kertas selembar. ZA meminta keluarganya jangan ada yang membanggakan Ahok. Surat ZA itu viral setelah dia tewas ditembus timah panas saat menyerang Mabes Polri. Dalam selembar kertas, ZA pamit dan meminta maaf ke orang tuanya.

Isi suratnya banyak berisikan pesan ke keluarganya. Ia meminta agar keluarganya lebih sering beribadah, berhenti berurusan dengan bank, dan tidak lagi membantu pemerintah. Ada juga paragraf yang bertuliskan ajakan untuk mendekati alim ulama dan ngaji melalui kajian dakwah. Di paragraf ini, ZA mengutarakan kebenciannya terhadap Ahok, yang kini menjabat Komisaris Utama Pertamina.

“Ibadah kepada Allah dan tinggalkan penghasilan dari yang tidak sesuai ajaran Islam, serta tinggalkan kepercayaan kepada orang-orang yang mengaku mempunyai ilmu, dekati ustad/ulama, tonton kajian dakwah, tidak membanggakan kafir Ahok,” tulisnya.

Sehari setelah surat wasiat itu viral, Ahok berkomentar. Dia mengaku bingung begitu dibenci hanya karena dirinya Nasrani. “Saya tidak mengerti,” kata Ahok.

Ia pun meminta persoalan ini tidak “digoreng-goreng”. Ia menyerahkan semuanya ke masyarakat, terkait siapa dirinya. “Tidak usah dibesar-besarkan dan soal penilaian terhadap saya. Ya terserah saja yang menilai,” imbuh Ahok.

Pengamat terorisme Al Chaidar menganalisis, ZA mengidap christophobia alias benci ke orang Nasrani. Surat wasiat itu juga membuktikan ZA mendapat doktrin yang kuat tentang antidemokrasi. Polarisasi politik juga terserap dalam otaknya. Tak ayal ZA membenci Ahok.

Pengamat terorisme Ali Wibisono mengatakan, kejadian ini merupakan bukti bahwa politisasi agama tidak boleh dianggap enteng.

Bagaimana tanggapan polisi? Korps Bhayangkara itu tidak mau menyinggung soal nama Ahok dalam surat wasiat ZA. Mereka hanya ingin mendalami aksi teror yang terjadi di Mabes Polri. Seperi asal senjata dan isi map kuning yang dibawa ZA.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyatakan, aparat kepolisian masih mendalami dari mana ZA mendapatkan pistol airgun berkaliber 4,5 mm. “Asal senjata masih diselidiki,” katanya, kemarin.

 

Polisi juga menyelidiki map kuning yang sempat disinggung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat konferensi pers beberapa jam setelah kejadian. “Iya, itu dia masih didalami oleh Densus,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Rusdi Hartono, enggan merinci isi tulisannya.

Sementara itu, analis militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati melihat, ada kemiripan rekruitmen dalam kasus penyerangan di Mabes Polri dan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Yaitu, para pelaku yang masih muda.

Nuning, sapaan akrab Susaningtyas, menerangkan, ZA masih berusia 26 tahun. Pelaku bom Makassar juga masih berusia 26 tahun. Generasi muda ini merupakan sasaran utama perekrutan teroris.

Menurut Nuning, para milenial ini merupakan korban dari penetrasi ideologi kekerasan global yang masuk ke Indonesia. “Milenial kebanyakan masih mencari jati diri dan mengikuti arah pihak yang paling berpengaruh,” ujarnya, dalam webinar bertajuk “The Indonesia Intelligence Institute”.

Menurut Nuning, pola rekruitmen saat ini berkembang menjadi lebih terbuka menggunakan ruang publik seperti sekolah, kampus, dan perkumpulan kegiatan kegiatan keagamaan. “Karena itu, pemerintah juga harus melibatkan milenial sebagai upaya melakukan pencegahan agar tidak ada perekrutan baru,” ujar doktor bidang komunikasi intelijen Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut.

Nuning menjelaskan, dalam menganalisa kejadian terorisme, harus holistik. Kejadian bom bunuh diri di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri merupakan sinyal bahwa mereka ingin menunjukkan eksistensinya. “Oleh karena itu, harus dikenali embrio terorisme di Indonesia itu apa saja,” ujarnya, dalam diskusi yang juga disiarkan melalui Channel YouTube Ridlwan Djogja itu.

Selain melibatkan milenial, pemerintah juga diharapkan melibatkan tokoh-tokoh publik. “Rekruitmen terorisme selain dilakukan tertutup, juga ada ruang publik yang dipakai dalam proses penjaringan seperti di media sosial,” terang Nuning. [MEN]

]]> .
Ahok heran kenapa Zakiah Aini (ZA), teroris yang menyerang Mabes Polri, Rabu (31/3), begitu membencinya.

Kebencian ZA terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu, terungkap dalam surat wasiatnya yang ditulis tangan dalam kertas selembar. ZA meminta keluarganya jangan ada yang membanggakan Ahok. Surat ZA itu viral setelah dia tewas ditembus timah panas saat menyerang Mabes Polri. Dalam selembar kertas, ZA pamit dan meminta maaf ke orang tuanya.

Isi suratnya banyak berisikan pesan ke keluarganya. Ia meminta agar keluarganya lebih sering beribadah, berhenti berurusan dengan bank, dan tidak lagi membantu pemerintah. Ada juga paragraf yang bertuliskan ajakan untuk mendekati alim ulama dan ngaji melalui kajian dakwah. Di paragraf ini, ZA mengutarakan kebenciannya terhadap Ahok, yang kini menjabat Komisaris Utama Pertamina.

“Ibadah kepada Allah dan tinggalkan penghasilan dari yang tidak sesuai ajaran Islam, serta tinggalkan kepercayaan kepada orang-orang yang mengaku mempunyai ilmu, dekati ustad/ulama, tonton kajian dakwah, tidak membanggakan kafir Ahok,” tulisnya.

Sehari setelah surat wasiat itu viral, Ahok berkomentar. Dia mengaku bingung begitu dibenci hanya karena dirinya Nasrani. “Saya tidak mengerti,” kata Ahok.

Ia pun meminta persoalan ini tidak “digoreng-goreng”. Ia menyerahkan semuanya ke masyarakat, terkait siapa dirinya. “Tidak usah dibesar-besarkan dan soal penilaian terhadap saya. Ya terserah saja yang menilai,” imbuh Ahok.

Pengamat terorisme Al Chaidar menganalisis, ZA mengidap christophobia alias benci ke orang Nasrani. Surat wasiat itu juga membuktikan ZA mendapat doktrin yang kuat tentang antidemokrasi. Polarisasi politik juga terserap dalam otaknya. Tak ayal ZA membenci Ahok.

Pengamat terorisme Ali Wibisono mengatakan, kejadian ini merupakan bukti bahwa politisasi agama tidak boleh dianggap enteng.

Bagaimana tanggapan polisi? Korps Bhayangkara itu tidak mau menyinggung soal nama Ahok dalam surat wasiat ZA. Mereka hanya ingin mendalami aksi teror yang terjadi di Mabes Polri. Seperi asal senjata dan isi map kuning yang dibawa ZA.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyatakan, aparat kepolisian masih mendalami dari mana ZA mendapatkan pistol airgun berkaliber 4,5 mm. “Asal senjata masih diselidiki,” katanya, kemarin.

 

Polisi juga menyelidiki map kuning yang sempat disinggung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat konferensi pers beberapa jam setelah kejadian. “Iya, itu dia masih didalami oleh Densus,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Rusdi Hartono, enggan merinci isi tulisannya.

Sementara itu, analis militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati melihat, ada kemiripan rekruitmen dalam kasus penyerangan di Mabes Polri dan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Yaitu, para pelaku yang masih muda.

Nuning, sapaan akrab Susaningtyas, menerangkan, ZA masih berusia 26 tahun. Pelaku bom Makassar juga masih berusia 26 tahun. Generasi muda ini merupakan sasaran utama perekrutan teroris.

Menurut Nuning, para milenial ini merupakan korban dari penetrasi ideologi kekerasan global yang masuk ke Indonesia. “Milenial kebanyakan masih mencari jati diri dan mengikuti arah pihak yang paling berpengaruh,” ujarnya, dalam webinar bertajuk “The Indonesia Intelligence Institute”.

Menurut Nuning, pola rekruitmen saat ini berkembang menjadi lebih terbuka menggunakan ruang publik seperti sekolah, kampus, dan perkumpulan kegiatan kegiatan keagamaan. “Karena itu, pemerintah juga harus melibatkan milenial sebagai upaya melakukan pencegahan agar tidak ada perekrutan baru,” ujar doktor bidang komunikasi intelijen Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut.

Nuning menjelaskan, dalam menganalisa kejadian terorisme, harus holistik. Kejadian bom bunuh diri di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri merupakan sinyal bahwa mereka ingin menunjukkan eksistensinya. “Oleh karena itu, harus dikenali embrio terorisme di Indonesia itu apa saja,” ujarnya, dalam diskusi yang juga disiarkan melalui Channel YouTube Ridlwan Djogja itu.

Selain melibatkan milenial, pemerintah juga diharapkan melibatkan tokoh-tokoh publik. “Rekruitmen terorisme selain dilakukan tertutup, juga ada ruang publik yang dipakai dalam proses penjaringan seperti di media sosial,” terang Nuning. [MEN]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories