Dibatasi Maksimal Hanya 2.000 Jemaah Salat Tarawih Boleh Digelar Di Istiqlal…

Masjid Istiqlal akan dibuka untuk pelaksanaan salat tarawih. Tapi, jumlah jemaahnya dibatasi. Hanya 2.000 jemaah yang diperbolehkan mengikuti salat tarawih di masjid terbesar se-Asia Tenggara itu.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasarudin Umar mengatakan, jumlah itu hanya 30 persen dari kapasitas masjid tersebut. Total, Masjid Istiqlal mampu menampung 200 ribu jemaah, dari ruang utama sampai ke selasar. “Jadi masih sangat terbatas,” tuturnya, kemarin.

Nasarudin menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah melalui banyak simulasi dan kajian. Bagaimana kalau jemaah yang datang ke masjid itu lebih dari 2.000 orang? Jemaah akan diminta kembali, atau mengisi di masjid-masjid sekitar Istiqlal yang mungkin masih sepi jemaah.

Nasarudin memastikan, sistem keluar-masuk jemaah sudah diperhitungkan oleh pihak Istiqlal untuk mengatur jemaah agar tidak membludak.

“Pintu yang kami buka tidak semuanya, karena bagian timur itu masih dipakai untuk pembangunan terowongan, persis di samping pintu itu di situ ada penggalian,” ungkap mantan wakil menteri agama (wamenag) ini.

Dia juga memastikan, protokol kesehatan yang akan diterapkan di Masjid Istiqlal sangat ketat. Jarak saf antar jemaah diatur sekitar 1,5 meter. Istiqlal juga telah menyediakan hand sanitizer di sejumlah titik, serta menyiapkan alat pengukur suhu. Jemaah juga akan disuruh pulang pukul 8 malam.

“Kemudian tempat wudhunya juga kami kontrol, tidak boleh berkerumun. Alhamdulillah juga tempat wudhu kita sangat banyak,” jelasnya.

Selain itu, setelah aktivitas shalat tarawih, masjid juga akan disterilkan dengan menyemprotkan desinfektan di seluruh ruangan yang sebelumnya ditempati jemaah. “Jam 8 (malam setelah shalat tarawih) kami langsung kosongkan lagi Istiqlal, untuk disemprot (desinfeksi) lagi semuanya,” bebernya. Selain salat tarawih, Masjid Istiqlal hanya menggelar salat lima waktu dan salat witir. Masjid itu tidak dibuka untuk shalat qiyamullail atau shalat malam. Juga, tidak ada aktivitas buka puasa bersama atau pun sahur bersama di masjid itu.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof Muhadjir Effendy mengatakan, pelaksanaan salat tarawih dan jenis ibadah lainnya yang akan dilakukan di Masjid Istiqlal harus benarbenar diperhatikan. Kalau perlu, setiap jemaah yang akan datang beribadah saling mengenal atau berada dalam satu komunitas dan lingkungan yang sama. Hal itu, bisa meminimalisir penularan Covid-19.

“Istiqlal ini kan sulit ya untuk bisa betul-betul, yang datang juga masyarakat umum,” ujar Muhadjir, saat Rapat Persiapan Pelaksanaan Ibadah Ramadan 1442 Hijriyah/2021 Masehi di Masjid Istiqlal, kemarin. [DIR]

]]> Masjid Istiqlal akan dibuka untuk pelaksanaan salat tarawih. Tapi, jumlah jemaahnya dibatasi. Hanya 2.000 jemaah yang diperbolehkan mengikuti salat tarawih di masjid terbesar se-Asia Tenggara itu.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasarudin Umar mengatakan, jumlah itu hanya 30 persen dari kapasitas masjid tersebut. Total, Masjid Istiqlal mampu menampung 200 ribu jemaah, dari ruang utama sampai ke selasar. “Jadi masih sangat terbatas,” tuturnya, kemarin.

Nasarudin menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah melalui banyak simulasi dan kajian. Bagaimana kalau jemaah yang datang ke masjid itu lebih dari 2.000 orang? Jemaah akan diminta kembali, atau mengisi di masjid-masjid sekitar Istiqlal yang mungkin masih sepi jemaah.

Nasarudin memastikan, sistem keluar-masuk jemaah sudah diperhitungkan oleh pihak Istiqlal untuk mengatur jemaah agar tidak membludak.

“Pintu yang kami buka tidak semuanya, karena bagian timur itu masih dipakai untuk pembangunan terowongan, persis di samping pintu itu di situ ada penggalian,” ungkap mantan wakil menteri agama (wamenag) ini.

Dia juga memastikan, protokol kesehatan yang akan diterapkan di Masjid Istiqlal sangat ketat. Jarak saf antar jemaah diatur sekitar 1,5 meter. Istiqlal juga telah menyediakan hand sanitizer di sejumlah titik, serta menyiapkan alat pengukur suhu. Jemaah juga akan disuruh pulang pukul 8 malam.

“Kemudian tempat wudhunya juga kami kontrol, tidak boleh berkerumun. Alhamdulillah juga tempat wudhu kita sangat banyak,” jelasnya.

Selain itu, setelah aktivitas shalat tarawih, masjid juga akan disterilkan dengan menyemprotkan desinfektan di seluruh ruangan yang sebelumnya ditempati jemaah. “Jam 8 (malam setelah shalat tarawih) kami langsung kosongkan lagi Istiqlal, untuk disemprot (desinfeksi) lagi semuanya,” bebernya. Selain salat tarawih, Masjid Istiqlal hanya menggelar salat lima waktu dan salat witir. Masjid itu tidak dibuka untuk shalat qiyamullail atau shalat malam. Juga, tidak ada aktivitas buka puasa bersama atau pun sahur bersama di masjid itu.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof Muhadjir Effendy mengatakan, pelaksanaan salat tarawih dan jenis ibadah lainnya yang akan dilakukan di Masjid Istiqlal harus benarbenar diperhatikan. Kalau perlu, setiap jemaah yang akan datang beribadah saling mengenal atau berada dalam satu komunitas dan lingkungan yang sama. Hal itu, bisa meminimalisir penularan Covid-19.

“Istiqlal ini kan sulit ya untuk bisa betul-betul, yang datang juga masyarakat umum,” ujar Muhadjir, saat Rapat Persiapan Pelaksanaan Ibadah Ramadan 1442 Hijriyah/2021 Masehi di Masjid Istiqlal, kemarin. [DIR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories