Dibantu KKP, Nelayan Sukabumi Kini Punya Ikan Melimpah .

Aktivitas nelayan yang tergabung dalam Koperasi Nelayan Berdaulat di pesisir selatan Sukabumi kini tak lagi bergantung pada musim. Sebelumnya mereka terpaksa mendatangkan ikan dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pelabuhan Ratu atau bahkan dari Jakarta untuk kebutuhan lokal saat musim paceklik. 

Ketua Koperasi Nelayan Berdaulat Atin Irawan mengatakan, dengan bantuan cold storage atau gudang beku dan Air Blast Freezer (ABF) dari Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), ikan hasil tangkapan nelayan pada saat cuaca baik dapat dibekukan serta disimpan.

“Jadi kesegaran mutu ikan tetap terjaga dan kapasitas jual beli ikan bisa diatur menyesuaikan kondisi permintaan dan harga pasar tanpa terpengaruh adanya musim,” katanya dalam keterangan resminya, Kamis (25/2).

Manfaat lain bantuan tersebut, kata Atin, efisiensi biaya operasional bisnis koperasi dan adanya multiplier effect. Bahkan, Atin memastikan, mulai dari para nelayan, kelompok pemasar, pengolah ikan, pemilik moda transportasi dan konsumen lainnya yang terlibat dalam rantai bisnis perikanan merasakan dampak langsung dari bantuan tersebut. 

“Karena mereka lebih terjamin mendapatkan manfaat karena meningkatnya kelancaran bisnis Poklahsar setelah mendapatkan bantuan gudang beku,” ujarnya.

Atin menggambarkan, Koperasi Nelayan Berdaulat merupakan UMKM di wilayah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ciwaru yang beranggotakan 20 orang. Mereka bergerak di bidang usaha penangkapan, pengolahan dan distribusi ikan segar.

Adapun lokasi gudang beku berada di jalan Ciwaru-Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.  “Sudah pasti koperasi membutuhkan gudang beku dan ABF untuk bahan baku pengolahan dimasa paceklik. Jadi bantuan ini sangat tepat,” tegasnya.

Hal ini sejalan dengan harapan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Dengan adanya bantuan gudang beku terjadi stabilitas pasokan dan harga ikan baik hasil tangkapan laut maupun hasil budidaya. Trenggono juga meminta bantuan dari pemerintah tepat sasaran sehingga menjadi penyemangat bagi para pelaku usaha perikanan untuk lebih giat berbisnis dan lebih memperhatikan aspek mutu dan keamanan pangan ikan agar tercipta nilai tambah terhadap produk perikanan.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Artati Widiarti mengungkapkan, penyaluran bantuan gudang beku portable berkapasitas 20 ton dan ABF berkapasitas 1 ton per hari tak lepas dari potensi perikanan tangkap di TPI Ciwaru.

Selama 2019, kata Artati, total produksinya sebesar 296.046 ton yang terdiri dari ikan tongkol, layur, layang, udang dan teri sebaga komoditas dominan. Jumlah armada TPI Ciwaru sekira 200 kapal dengan kapasitas tampung 500 kg per kapal.  Adapun produksi koperasi sebesar 94,634 ton atau 31,7 persen dari total produksi TPI Ciwaru. 

“Pengolahan yang berkembang di Ciwaru adalah ikan asin dengan bahan baku ikan teri, rebon, dan layur kecil serta pemindangan dengan bahan baku ikan tongkol, salem, banjar, etem, cakalang,” ungkapnya.

Artati berharap bantuan ini membuat ikan produksi nelayan tak hanya dipasarkan untuk kebutuhan lokal melainkan bisa didistribusikan ke Sukabumi atau luar daerah. Terlebih dengan gudang beku dan ABF bisa digunakan untuk menjaga kesegaran dan mutu ikan. [KPJ]

]]> .
Aktivitas nelayan yang tergabung dalam Koperasi Nelayan Berdaulat di pesisir selatan Sukabumi kini tak lagi bergantung pada musim. Sebelumnya mereka terpaksa mendatangkan ikan dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pelabuhan Ratu atau bahkan dari Jakarta untuk kebutuhan lokal saat musim paceklik. 

Ketua Koperasi Nelayan Berdaulat Atin Irawan mengatakan, dengan bantuan cold storage atau gudang beku dan Air Blast Freezer (ABF) dari Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), ikan hasil tangkapan nelayan pada saat cuaca baik dapat dibekukan serta disimpan.

“Jadi kesegaran mutu ikan tetap terjaga dan kapasitas jual beli ikan bisa diatur menyesuaikan kondisi permintaan dan harga pasar tanpa terpengaruh adanya musim,” katanya dalam keterangan resminya, Kamis (25/2).

Manfaat lain bantuan tersebut, kata Atin, efisiensi biaya operasional bisnis koperasi dan adanya multiplier effect. Bahkan, Atin memastikan, mulai dari para nelayan, kelompok pemasar, pengolah ikan, pemilik moda transportasi dan konsumen lainnya yang terlibat dalam rantai bisnis perikanan merasakan dampak langsung dari bantuan tersebut. 

“Karena mereka lebih terjamin mendapatkan manfaat karena meningkatnya kelancaran bisnis Poklahsar setelah mendapatkan bantuan gudang beku,” ujarnya.

Atin menggambarkan, Koperasi Nelayan Berdaulat merupakan UMKM di wilayah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ciwaru yang beranggotakan 20 orang. Mereka bergerak di bidang usaha penangkapan, pengolahan dan distribusi ikan segar.

Adapun lokasi gudang beku berada di jalan Ciwaru-Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.  “Sudah pasti koperasi membutuhkan gudang beku dan ABF untuk bahan baku pengolahan dimasa paceklik. Jadi bantuan ini sangat tepat,” tegasnya.

Hal ini sejalan dengan harapan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Dengan adanya bantuan gudang beku terjadi stabilitas pasokan dan harga ikan baik hasil tangkapan laut maupun hasil budidaya. Trenggono juga meminta bantuan dari pemerintah tepat sasaran sehingga menjadi penyemangat bagi para pelaku usaha perikanan untuk lebih giat berbisnis dan lebih memperhatikan aspek mutu dan keamanan pangan ikan agar tercipta nilai tambah terhadap produk perikanan.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Artati Widiarti mengungkapkan, penyaluran bantuan gudang beku portable berkapasitas 20 ton dan ABF berkapasitas 1 ton per hari tak lepas dari potensi perikanan tangkap di TPI Ciwaru.

Selama 2019, kata Artati, total produksinya sebesar 296.046 ton yang terdiri dari ikan tongkol, layur, layang, udang dan teri sebaga komoditas dominan. Jumlah armada TPI Ciwaru sekira 200 kapal dengan kapasitas tampung 500 kg per kapal.  Adapun produksi koperasi sebesar 94,634 ton atau 31,7 persen dari total produksi TPI Ciwaru. 

“Pengolahan yang berkembang di Ciwaru adalah ikan asin dengan bahan baku ikan teri, rebon, dan layur kecil serta pemindangan dengan bahan baku ikan tongkol, salem, banjar, etem, cakalang,” ungkapnya.

Artati berharap bantuan ini membuat ikan produksi nelayan tak hanya dipasarkan untuk kebutuhan lokal melainkan bisa didistribusikan ke Sukabumi atau luar daerah. Terlebih dengan gudang beku dan ABF bisa digunakan untuk menjaga kesegaran dan mutu ikan. [KPJ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories