Dianggap Bakal Laku Dalam Pilpres Mahfud Kecipratan Berkah Kasus Sambo

Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI) dan Poltracking Indonesia merilis hasil surbei nasional tentang preferensi pemilih dan peta elektoral 2024. Dalam surveinya, muncul nama-nama menteri kabinet Jokowi-Ma’ruf yang bukan dari kalangan partai politik.

Mereka dianggap bisa laku dijual sebagai calon presiden dan wakil presiden. ASI misalnya, membagi klaster tokoh per tokoh yang paling potensial sebagai capres-cawapres.

Seperti dari klaster menteri kabinet Jokowi-Ma’ruf yang bukan dari partai politik. Ada tiga nama teratas dari klaster ini. Yakni, Menteri BUMN, Erick Thohir; Menparekraf, Sandiaga Uno, dan Menko Polhukam, Mahfud MD.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah melihat, ada satu nama yang jarang masuk terekam lembaga survei, yakni Mahfud MD.

“Kalau Pak Erick dan Pak Sandi sering muncul di bursa Pilpres. Keduanya klaster utama cawapres. Malah juga sudah banyak relawannya. Yang Mahfud ini perlu dicer- mati kemunculannya,” kata Dedi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dikatakan, Mahfud sebenarnya punya modal politik cukup besar. Sebagai tokoh berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU), plus kiprahnya yang panjang hingga saat ini menjabat Menko Polhukam.

Tapi, selama ini namanya tidak muncul di pusaran Pilpres 2024 dan tertinggal dari tokoh lain, karena Mahfud tidak pernah mendeclare akan bermain di pemilu mendatang.

Namun demikian, nama mantan Presidium Korps Alumni Mahasiswa Islam Indonesia (KAHMI) ini sebenarnya sudah terekam di benak publik. Sehingga ketika ada peristiwa yang memunculkan namanya dalam penanganan kasus Ferdy Sambo, nama Mahfud bisa lang- sung melejit.

“Saya menilai, ada pening katan kesadaran publik terkait nama Mahfud lantaran intensitasnya di media yang juga meningkat. Terlebih dalam kasus kriminal yang diduga dilakukan Ferdy Sambo yang ramai ini,” tutur Dedi.

Diyakini, komentar dan keterlibatan Mahfud dalam kasus Ferdy Sambo tersebut sangat mungkin menyumbang persepsi positif publik. Apalagi opini publik mengarah bahwa Mahfud dianggap sebagai pejabat yang mendobrak kekakuan hukum sehingga rekayasa kasus Sambo terbongkar.

Yang lebih menarik, di tengah persepsi publik terhadap lembaga penegak hukum rendah, nama Mahfud sebagai pejabat yang mengkoordinasi instansi penegak hukum, lebih positif.

“Artinya secara modal ketokohan sudah ada. Apakah nama ini akan bertahan? Jawabannya adalah momentum. Hingga 2024, masih ada nggak momentum dan peristiwa yang Mahfud bisa kembali mendapatkan berkahnya,” tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif ASI, Ali Rif’an mengata- kan, dari hasil survei yang di- rilis Rabu (31/8), ada sejumlah temuan yang menarik. Secara keseluruhan, dalam simulasi 14 nama, elektabilitas Ganjar Pranowo berada di posisi teratas (17,6 persen).

Disusul Pra- bowo Subianto (16,0 persen), Anies Baswedan (14,0 persen), Ridwan Kamil (7,3 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (6,4 persen), Sandiaga Uno (5,6 persen), dan Erick Thohir (4,3 persen). Kemudian Muhaimin Iskandar (3,1 persen), Khofifah Indar Parawansa (3,0 persen), Airlangga Hartarto (2,4 persen), Puan Maharani (2,1 persen), Mahfud MD (1,9 persen), Andika Perkasa (1,8 persen), dan Zulkifli Hasan (1,0 persen). Adapun 13,3 persen mengaku tidak tahu/tidak jawab.

Analisis temuan survei simulasi 14 nama jika dilihat dalam perspektif klaster, maka elektabilitas tertinggi pada klaster kepala daerah ditempati Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

“Ganjar Pranowo 25,9 persen, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 22,9 persen, dan Ridwan Kamil 17,2 persen tiga besar bakal capres-cawapres paling potensial dari klaster kepala daerah,” papar Ali.

Yang menarik, masuk nama Menko Polhukam Mahfud MD yang selama ini jarang terekam lembaga survei. Memang, belakangan ini, nama Mahfud mencuat positif karena kinerjanya membongkar dan mengawal kasus Ferdy Sambo dan berhasil memecah kebuntuan berbagai persoalan hukum.

“Menteri BUMN erick Thohir 22,2 persen, Menparekraf Sandiaga Uno 20,1 persen, dan Menko Polhukam Mahfud MD 16,3 persen merupakan tiga besar bakal capres-cawapres paling potensial dari klaster menteri,” ungkap Ali. ■

]]> Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI) dan Poltracking Indonesia merilis hasil surbei nasional tentang preferensi pemilih dan peta elektoral 2024. Dalam surveinya, muncul nama-nama menteri kabinet Jokowi-Ma’ruf yang bukan dari kalangan partai politik.

Mereka dianggap bisa laku dijual sebagai calon presiden dan wakil presiden. ASI misalnya, membagi klaster tokoh per tokoh yang paling potensial sebagai capres-cawapres.

Seperti dari klaster menteri kabinet Jokowi-Ma’ruf yang bukan dari partai politik. Ada tiga nama teratas dari klaster ini. Yakni, Menteri BUMN, Erick Thohir; Menparekraf, Sandiaga Uno, dan Menko Polhukam, Mahfud MD.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah melihat, ada satu nama yang jarang masuk terekam lembaga survei, yakni Mahfud MD.

“Kalau Pak Erick dan Pak Sandi sering muncul di bursa Pilpres. Keduanya klaster utama cawapres. Malah juga sudah banyak relawannya. Yang Mahfud ini perlu dicer- mati kemunculannya,” kata Dedi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dikatakan, Mahfud sebenarnya punya modal politik cukup besar. Sebagai tokoh berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU), plus kiprahnya yang panjang hingga saat ini menjabat Menko Polhukam.

Tapi, selama ini namanya tidak muncul di pusaran Pilpres 2024 dan tertinggal dari tokoh lain, karena Mahfud tidak pernah mendeclare akan bermain di pemilu mendatang.

Namun demikian, nama mantan Presidium Korps Alumni Mahasiswa Islam Indonesia (KAHMI) ini sebenarnya sudah terekam di benak publik. Sehingga ketika ada peristiwa yang memunculkan namanya dalam penanganan kasus Ferdy Sambo, nama Mahfud bisa lang- sung melejit.

“Saya menilai, ada pening katan kesadaran publik terkait nama Mahfud lantaran intensitasnya di media yang juga meningkat. Terlebih dalam kasus kriminal yang diduga dilakukan Ferdy Sambo yang ramai ini,” tutur Dedi.

Diyakini, komentar dan keterlibatan Mahfud dalam kasus Ferdy Sambo tersebut sangat mungkin menyumbang persepsi positif publik. Apalagi opini publik mengarah bahwa Mahfud dianggap sebagai pejabat yang mendobrak kekakuan hukum sehingga rekayasa kasus Sambo terbongkar.

Yang lebih menarik, di tengah persepsi publik terhadap lembaga penegak hukum rendah, nama Mahfud sebagai pejabat yang mengkoordinasi instansi penegak hukum, lebih positif.

“Artinya secara modal ketokohan sudah ada. Apakah nama ini akan bertahan? Jawabannya adalah momentum. Hingga 2024, masih ada nggak momentum dan peristiwa yang Mahfud bisa kembali mendapatkan berkahnya,” tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif ASI, Ali Rif’an mengata- kan, dari hasil survei yang di- rilis Rabu (31/8), ada sejumlah temuan yang menarik. Secara keseluruhan, dalam simulasi 14 nama, elektabilitas Ganjar Pranowo berada di posisi teratas (17,6 persen).

Disusul Pra- bowo Subianto (16,0 persen), Anies Baswedan (14,0 persen), Ridwan Kamil (7,3 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (6,4 persen), Sandiaga Uno (5,6 persen), dan Erick Thohir (4,3 persen). Kemudian Muhaimin Iskandar (3,1 persen), Khofifah Indar Parawansa (3,0 persen), Airlangga Hartarto (2,4 persen), Puan Maharani (2,1 persen), Mahfud MD (1,9 persen), Andika Perkasa (1,8 persen), dan Zulkifli Hasan (1,0 persen). Adapun 13,3 persen mengaku tidak tahu/tidak jawab.

Analisis temuan survei simulasi 14 nama jika dilihat dalam perspektif klaster, maka elektabilitas tertinggi pada klaster kepala daerah ditempati Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

“Ganjar Pranowo 25,9 persen, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 22,9 persen, dan Ridwan Kamil 17,2 persen tiga besar bakal capres-cawapres paling potensial dari klaster kepala daerah,” papar Ali.

Yang menarik, masuk nama Menko Polhukam Mahfud MD yang selama ini jarang terekam lembaga survei. Memang, belakangan ini, nama Mahfud mencuat positif karena kinerjanya membongkar dan mengawal kasus Ferdy Sambo dan berhasil memecah kebuntuan berbagai persoalan hukum.

“Menteri BUMN erick Thohir 22,2 persen, Menparekraf Sandiaga Uno 20,1 persen, dan Menko Polhukam Mahfud MD 16,3 persen merupakan tiga besar bakal capres-cawapres paling potensial dari klaster menteri,” ungkap Ali. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories