Dialog Bareng Taretan Se-Dunia, Mahfud Cerita Stereotip Orang Madura

Berbagai stereotip terhadap orang Madura sering muncul dan menjadi bahan candaan dalam perbincangan. Orang Madura sering dikesankan terbelakang, tukang sate, penjual besi tua, dan beberapa anggapan negatif lainnya.

Hal ini menjadi pembuka perbincangan Silaturrahim Virtual Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dengan ‘Taretan’ Madura se-Dunia, Sabtu (28/8).

“Dulu dikesankan kalau orang Madura itu terbelakang, tapi sekarang ini coba dilihat banyak orang hebat-hebat. Ini berkah dari Indonesia Merdeka,” ujar Mahfud MD dalam silaturrahim virtual bertema Nyambung Taresna Masettong Se Tapesa atau Menyambung Silaturrahim Menyatukan Yang Terpisah itu.

Dalam dialog yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu, Mahfud bercerita tentang kesan terhadap orang Madura. Saat menjadi Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur hingga menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), dirinya sering mendengar sebutan tukang sate dan penjual besi tua.

“Waktu saya jadi Menhan, ada gurauan begini Pak Mahfud itu dari mana? Lalu ada yang berteriak di belakang, Sate! Mengesankan kalau orang Madura itu tukang sate. Ada juga yang bilang begini, kalau mau tanya Pak Mahfud orang mana? Lempar saja kaleng bekas di belakangnya, kalau bunyi klontang pasti dia menoleh. Mengesankan orang Madura penjual besi tua,” gurau Mahfud bercerita tentang stereotip terhadap orang Madura.

Mahfud menambahkan, sekolah adalah pintu ilmu. Maka, meskipun orangtua Mahfud mengalami berbagai kesulitan, ayahnya bertekad anak-anaknya harus mengenyam pendidikan yang layak.

“Ayah tidak lulus SD, tetapi ketika Indonesia merdeka, dia katakan anak saya harus sekolah. Nah sekolah itulah yang menjadi pintu ilmu, dalam keadaan serba sulit saya dan saudara-saudara saya sekolah,” tambah Mahfud sembari menegaskan orang Madura harus selalu hadir memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa.

Hal serupa juga ditegaskan budayawan dan penyair asal Madura Zawawi Imron. Menurutnya, orang Madura punya tugas untuk mengharumkan Indonesia. Tidak ada alasan orang Madura tidak cinta Indonesia.

“Kita perlu punya semangat seperti Trunojoyo untuk mengharumkan Madura yaitu dengan memperbagus tatakramanya. Dari Madura untuk Indonesia, orang Madura perlu mengharumkan Indonesia, kita bersujud di bumi Indonesia, bila saatnya kita mati kita akan tidur dalam pelukan bumi Indoensia. Tidak ada alasan orang Madura untuk tidak cinta Indonesia, tidak cinta tanah air,” papar penulis buku Bulan Tertusuk Ilalang ini.

Sementara itu, Chairul Anam Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia yang juga mahasiswa doktoral Universitas Charles di Praha, Republik Ceko menegaskan pentingnya peningkatan sumber daya manusia agar bisa memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa.

“Bapak saya tidak lulus SD, ummi saya tidak sekolah, tapi selalu mendorong putra-putranya sekolah dengan berbagai keterbatasan. Pendidikan paling penting dalam peningkatan sumber daya manusia,” ujar Anam.

Menurut pria asal Bangkalan ini, investasi bidang pendidikan akan mendorang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan produktifitas.

Acara ini selain dihadiri empat bupati di pulau Madura, turut hadir tokoh Madura di pentas nasional, seperti mantan Kapolri Badrodin Haiti, tokoh Madura dari berbagai daerah di Indonesia dan diaspora Madura di berbagai belahan dunia seperti Amerika, Ceko, Mesir, Jerman, Denmark, Belanda, Australia, Jepang, Arab Saudi, Kanada, Tunisia, Kuwait, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. [FAQ]

]]> Berbagai stereotip terhadap orang Madura sering muncul dan menjadi bahan candaan dalam perbincangan. Orang Madura sering dikesankan terbelakang, tukang sate, penjual besi tua, dan beberapa anggapan negatif lainnya.

Hal ini menjadi pembuka perbincangan Silaturrahim Virtual Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dengan ‘Taretan’ Madura se-Dunia, Sabtu (28/8).

“Dulu dikesankan kalau orang Madura itu terbelakang, tapi sekarang ini coba dilihat banyak orang hebat-hebat. Ini berkah dari Indonesia Merdeka,” ujar Mahfud MD dalam silaturrahim virtual bertema Nyambung Taresna Masettong Se Tapesa atau Menyambung Silaturrahim Menyatukan Yang Terpisah itu.

Dalam dialog yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu, Mahfud bercerita tentang kesan terhadap orang Madura. Saat menjadi Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur hingga menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), dirinya sering mendengar sebutan tukang sate dan penjual besi tua.

“Waktu saya jadi Menhan, ada gurauan begini Pak Mahfud itu dari mana? Lalu ada yang berteriak di belakang, Sate! Mengesankan kalau orang Madura itu tukang sate. Ada juga yang bilang begini, kalau mau tanya Pak Mahfud orang mana? Lempar saja kaleng bekas di belakangnya, kalau bunyi klontang pasti dia menoleh. Mengesankan orang Madura penjual besi tua,” gurau Mahfud bercerita tentang stereotip terhadap orang Madura.

Mahfud menambahkan, sekolah adalah pintu ilmu. Maka, meskipun orangtua Mahfud mengalami berbagai kesulitan, ayahnya bertekad anak-anaknya harus mengenyam pendidikan yang layak.

“Ayah tidak lulus SD, tetapi ketika Indonesia merdeka, dia katakan anak saya harus sekolah. Nah sekolah itulah yang menjadi pintu ilmu, dalam keadaan serba sulit saya dan saudara-saudara saya sekolah,” tambah Mahfud sembari menegaskan orang Madura harus selalu hadir memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa.

Hal serupa juga ditegaskan budayawan dan penyair asal Madura Zawawi Imron. Menurutnya, orang Madura punya tugas untuk mengharumkan Indonesia. Tidak ada alasan orang Madura tidak cinta Indonesia.

“Kita perlu punya semangat seperti Trunojoyo untuk mengharumkan Madura yaitu dengan memperbagus tatakramanya. Dari Madura untuk Indonesia, orang Madura perlu mengharumkan Indonesia, kita bersujud di bumi Indonesia, bila saatnya kita mati kita akan tidur dalam pelukan bumi Indoensia. Tidak ada alasan orang Madura untuk tidak cinta Indonesia, tidak cinta tanah air,” papar penulis buku Bulan Tertusuk Ilalang ini.

Sementara itu, Chairul Anam Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia yang juga mahasiswa doktoral Universitas Charles di Praha, Republik Ceko menegaskan pentingnya peningkatan sumber daya manusia agar bisa memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa.

“Bapak saya tidak lulus SD, ummi saya tidak sekolah, tapi selalu mendorong putra-putranya sekolah dengan berbagai keterbatasan. Pendidikan paling penting dalam peningkatan sumber daya manusia,” ujar Anam.

Menurut pria asal Bangkalan ini, investasi bidang pendidikan akan mendorang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan produktifitas.

Acara ini selain dihadiri empat bupati di pulau Madura, turut hadir tokoh Madura di pentas nasional, seperti mantan Kapolri Badrodin Haiti, tokoh Madura dari berbagai daerah di Indonesia dan diaspora Madura di berbagai belahan dunia seperti Amerika, Ceko, Mesir, Jerman, Denmark, Belanda, Australia, Jepang, Arab Saudi, Kanada, Tunisia, Kuwait, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories