Di Tengah Pandemi, Ekonomi Indonesia Mulai Tumbuh

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi kabar baik tentang ekonomi nasional. Meski masih dinaungi Covid-19, ekonomi Indonesia berangsur-angsur membaik. Airlangga pun memprediksi, perekonomian di kuartal kedua tahun ini akan terus naik.

“Kita lihat di kuartal pertama minus 0,74, tapi sekarang kita lihat lainnya ekonomi kita mulai tumbuh,” ujar Airlangga dalam konferensi pers pertama usai Lebaran Idul Fitri, yang digelar virtual, Sabtu (15/5).

Bahkan Airlangga menyatakan, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa berada di atas 6 persen. Dia menyebut beberapa indikatornya, antara lain dari segi aktivitas indeks keyakinan konsumen yang sudah mendekati ke angka normal 90-an, menuju 100.

“Kami berharap bisa masuk ke jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen. Kami lihat ekspor dan impor sudah kembali dan juga belanja pemerintah dalam jalur positif,” tuturnya.

Indikator lainnya adalah perkembangan bisnis di sektor informasi, komunikasi, jasa kesehatan, dan pertanian yang makin pesat.

Dia juga mengungkapkan, bisnis di sektor properti maupun industri lainnya secara pelan tapi pasti mulai mengalami peningkatan. Hal itu tak lepas dari kebijakan Penjualan Atas Barang Mewah (PPNBM) yang ditanggung pemerintah.

“Itu sudah mendorong ke arah positif. ada kenaikan yang cukup tinggi. Kami melihat sudah ada perbaikan di mana Sumatera sudah minus 0,86 persen sudah mendekati titik 0. Kemudian di Jawa 0,83, persen Kalimantan minus 2,3 persen lalu di Sulawesi sudah positif positif 1, 2 persen. Bahkan Maluku dan Papua sudah 8,97 persen,” papar Airlangga.

Selain karena kebijakan pemerintah, pertumbuhan tersebut juga dipicu berbagai kegiatan, harga komoditas baik itu sawit, karet, nikel, batubara dan lainnya,” sebutnya.

Mantan Menteri Perindustrian ini mengajak seluruh masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus Corona. Menurutnya pertumbuhan ini tak lepas dari kepercayaan masyarakat dan keberanian untuk berbelanja di tengah pandemi Covid-19.

Diingatkannya, bila lonjakan kasus terjadi, maka pembatasan ketat akan kembali diberlakukan. Jika itu terjadi, otomatis akan berdampak kembali pada perekonomian.

“Maka yang harus kita lakukan ke depan adalah mencegah agar tidak terjadi lonjakan mobilitas masyarakat. Terutama pasca mudik ini,” imbau Airlangga.

Pemerintah sendiri sudah mengambil beberapa langkah untuk mengantisipasi lonjakan kasus di nuansa Lebaran. Di antaranya, melakukan pemeriksaan atau tes Covid-19 di beberapa titik menuju Jakarta.

“Seperti dari Sumatera menuju Jakarta dengan mandatory PCR maupun antigen di 21 lokasi di provinsi Jawa menuju ke Jakarta dan juga pemeriksaan di Bakaheuni,” tandas Airlangga. [JAR]

]]> Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi kabar baik tentang ekonomi nasional. Meski masih dinaungi Covid-19, ekonomi Indonesia berangsur-angsur membaik. Airlangga pun memprediksi, perekonomian di kuartal kedua tahun ini akan terus naik.

“Kita lihat di kuartal pertama minus 0,74, tapi sekarang kita lihat lainnya ekonomi kita mulai tumbuh,” ujar Airlangga dalam konferensi pers pertama usai Lebaran Idul Fitri, yang digelar virtual, Sabtu (15/5).

Bahkan Airlangga menyatakan, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa berada di atas 6 persen. Dia menyebut beberapa indikatornya, antara lain dari segi aktivitas indeks keyakinan konsumen yang sudah mendekati ke angka normal 90-an, menuju 100.

“Kami berharap bisa masuk ke jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen. Kami lihat ekspor dan impor sudah kembali dan juga belanja pemerintah dalam jalur positif,” tuturnya.

Indikator lainnya adalah perkembangan bisnis di sektor informasi, komunikasi, jasa kesehatan, dan pertanian yang makin pesat.

Dia juga mengungkapkan, bisnis di sektor properti maupun industri lainnya secara pelan tapi pasti mulai mengalami peningkatan. Hal itu tak lepas dari kebijakan Penjualan Atas Barang Mewah (PPNBM) yang ditanggung pemerintah.

“Itu sudah mendorong ke arah positif. ada kenaikan yang cukup tinggi. Kami melihat sudah ada perbaikan di mana Sumatera sudah minus 0,86 persen sudah mendekati titik 0. Kemudian di Jawa 0,83, persen Kalimantan minus 2,3 persen lalu di Sulawesi sudah positif positif 1, 2 persen. Bahkan Maluku dan Papua sudah 8,97 persen,” papar Airlangga.

Selain karena kebijakan pemerintah, pertumbuhan tersebut juga dipicu berbagai kegiatan, harga komoditas baik itu sawit, karet, nikel, batubara dan lainnya,” sebutnya.

Mantan Menteri Perindustrian ini mengajak seluruh masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus Corona. Menurutnya pertumbuhan ini tak lepas dari kepercayaan masyarakat dan keberanian untuk berbelanja di tengah pandemi Covid-19.

Diingatkannya, bila lonjakan kasus terjadi, maka pembatasan ketat akan kembali diberlakukan. Jika itu terjadi, otomatis akan berdampak kembali pada perekonomian.

“Maka yang harus kita lakukan ke depan adalah mencegah agar tidak terjadi lonjakan mobilitas masyarakat. Terutama pasca mudik ini,” imbau Airlangga.

Pemerintah sendiri sudah mengambil beberapa langkah untuk mengantisipasi lonjakan kasus di nuansa Lebaran. Di antaranya, melakukan pemeriksaan atau tes Covid-19 di beberapa titik menuju Jakarta.

“Seperti dari Sumatera menuju Jakarta dengan mandatory PCR maupun antigen di 21 lokasi di provinsi Jawa menuju ke Jakarta dan juga pemeriksaan di Bakaheuni,” tandas Airlangga. [JAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories