Di Tengah Gelombang Pandemi Terburuk Duka Pasien Covid Di India, Mulai Dari Sulit Masuk RS Hingga Beli Obat Di Black Market .

Akhilesh Mishra, awalnya mengira hanya mengalami flu biasa. Kamis (9/4) pekan lalu, ia demam dan batuk-batuk.

Namun, ia dag dig dug keesokan harinya, lantaran sang ayah yang bernama Yogendra mengalami gejala serupa. Mereka pun berinisiatif tes PCR, dengan mem-booking layanan via online. Tapi sayang, tak bisa cepat. Tiga hari berselang, baru tersedia.

Akhirnya, Akhilesh dan ayahnya menjalani tes PCR pada Minggu (11/4). Yogendra sudah panas tinggi. Dokter menyarankan untuk rawat inap. Namun, penuhnya rumah sakit membuat Yogendra terlunta-lunta. Mereka ditolak oleh banyak rumah sakit swasta. Sebelum akhirnya mendapat tempat di New Delhi.

“Saya sangat stres. Saya takut ayah saya meninggal tanpa pengobatan. Tak ada seorang anak pun yang ingin mengalami apa yang saya rasakan. Setiap orang mestinya punya akses layanan kesehatan yang sama,” keluhnya.

Ini hanyalah secuil kisah dari berita tentang lonjakan Covid yang menggila di India. Berdasarkan catatan Johns Hopkins University, India kini berada di peringkat kedua negara yang paling terdampak Covid, dengan total kasus terkonfirmasi berjumlah 14.291.917. Di bawah Amerika Serikat yang membukukan angka 31.495.652, dan menyalip Brazil yang kini bertengger di peringkat tiga dengan angka 13.746.681.

Masih ada kisah-kisah lain yang membuat kita prihatin. Seperti sulitnya mencari obat Covid, hingga harus berjuang ke pasar gelap alias black market, sulit mendapatkan tabung oksigen, layanan rontgen, dan antrean panjang krematorium yang memilukan.

Di sejumlah kota, warga India mesti menunggu beberapa jam untuk menjalani tes di laboratorium Covid. Tak terkecuali, Delhi. Hasilnya datang antara 48-72 jam.

“Saya sudah bergejala selama 3 hari, tapi saya harus menunggu 2-3 hari untuk mendapatkan hasil,” ungkap seorang pria berusia 35 tahun, seperti dikutip BBC, Jumat (16/4).

 

Berburu Obat Di Black Market

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial di India dipenuhi permintaan bantuan warga yang putus asa menemukan obat Remdesivir dan Tocilizumab.

Meski perdebatan tentang obat ini seolah tak ada habisnya, namun beberapa negara – termasuk India – telah memberikan otorisasi penggunaan darurat kepada kedua jenis obat tersebut.

Di India, obat anti virus Remdesivir diresepkan oleh dokter di seluruh negeri. Permintaannya tinggi.

India telah melarang ekspor, tetapi produsen juga kewalahan memenuhi permintaan.

Dalam 3 minggu terakhir, setiap hari, India telah melaporkan lebih dari 150 ribu kasus Covid. Tocilizumab, obat yang biasanya digunakan untuk mengobati radang sendi, telah terbukti menyelamatkan nyawa dalam beberapa uji klinis. Namun nyaris hilang di pasaran India.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Ahli Kimia dan Ahli Obat Seluruh India, Rajiv Singhal mengatakan, teleponnya berdering sepanjang hari. Menerima panggilan orang-orang yang memintanya membantu menemukan obat tersebut.

“Situasinya sangat buruk. Saya bahkan tidak bisa mendapatkan obat untuk anggota keluarga saya sendiri,” katanya.

“Kami mencoba menindak tegas pelaku pasar gelap. Tapi saya akui, ada kebocoran dalam sistem,” sambung Rajiv.

Sulit Cari Tabung Oksigen Dan Layanan Rontgen

Permintaan oksigen medis juga melonjak di beberapa negara bagian di India. Beberapa rumah sakit terpaksa menolak pasien, karena kekurangan pasokan tabung oksigen.

Kepala Menteri negara bagian Maharashtra Uddhav Thackeray meminta pemerintah federal untuk mengirim tabung oksigen dengan pesawat militer, karena jalan darat membutuhkan waktu yang terlalu lama.

Di kota-kota kecil, situasinya jauh lebih buruk. Jika pasien tidak dapat menemukan tempat tidur rumah sakit, dokter menyarankan mereka untuk menggunakan tabung oksigen di rumah.

 

Kisah ini dialami Nabeel Ahmed di sebuah kota kecil di India Utara. Sang ayah didiagnosis positif Covid pada Jumat (9/4). Lima hari kemudian, mulai sulit bernapas. Dokter pun menyarankan Nabeel untuk membeli tabung oksigen, untuk pemakaian di rumah.

Demi mendapatkan satu tabung oksigen, Nabeel berkendara selama 4 jam ke kota lain.

“Saya butuh 8 jam perjalanan pulang pergi untuk mendapatkan tabung silinder  itu,” tutur Nabeel.

Masalah besar lainnya yang dihadapi pasien di kota-kota kecil adalah penolakan laboratorium swasta untuk melakukan rontgen dada dan CT scan. Dokter sering meminta tes ini untuk menilai perkembangan penyakit.

Yogesh Kumar, yang tinggal di Kota Utara Allahabad mengatakan, satu-satunya cara agar bisa di-rontgen adalah dengan dirawat di rumah sakit. Atau menjalani tes di rumah sakit yang dikelola pemerintah, yang daftar tunggunya panjang. 

“Sungguh luar biasa, saya tidak dapat melakukan rontgen untuk pasien saya. Kami hanya mengandalkan laporan darah, untuk menilai penyakit dalam beberapa kasus, yang tentunya tidak ideal,” ujar seorang dokter di Allahabad.

Krematorium Luar Biasa Sibuk

Krematorium di banyak kota di India, terkena dampak parah. Situasi ini berlangsung siang dan malam.

Dalam beberapa kasus, keluarga harus menunggu beberapa jam untuk mengkremasi jenazah. 

Laporan teranyar menyebutkan, struktur logam tungku di dalam krematorium di kota Surat,  wilayah barat India mulai meleleh karena beroperasi siang dan malam tanpa jeda.

Sebuah video pendek yang menunjukkan lusinan pembakaran kayu di pemakaman di kota utara Lucknow pada tengah malam, viral belum lama ini. Banyak anggota staf di krematorium bekerja tanpa istirahat. Mereka mulai lelah.

Kebanyakan orang sibuk bertanya, apakah situasi ini dapat dihindari.

“Kami tidak belajar dari gelombang pertama. Kami menyadari gelombang kedua akan datang. Tetapi, kami tidak berencana untuk menghindari kejadian yang tidak menguntungkan seperti kekurangan obat-obatan, tempat tidur dan oksigen,” kata Ahli Epidemiologi Dr Lalit Kant.

“Kami bahkan tidak belajar dari negara lain yang menghadapi keadaan serupa,” tandasnya. [HES]

]]> .
Akhilesh Mishra, awalnya mengira hanya mengalami flu biasa. Kamis (9/4) pekan lalu, ia demam dan batuk-batuk.

Namun, ia dag dig dug keesokan harinya, lantaran sang ayah yang bernama Yogendra mengalami gejala serupa. Mereka pun berinisiatif tes PCR, dengan mem-booking layanan via online. Tapi sayang, tak bisa cepat. Tiga hari berselang, baru tersedia.

Akhirnya, Akhilesh dan ayahnya menjalani tes PCR pada Minggu (11/4). Yogendra sudah panas tinggi. Dokter menyarankan untuk rawat inap. Namun, penuhnya rumah sakit membuat Yogendra terlunta-lunta. Mereka ditolak oleh banyak rumah sakit swasta. Sebelum akhirnya mendapat tempat di New Delhi.

“Saya sangat stres. Saya takut ayah saya meninggal tanpa pengobatan. Tak ada seorang anak pun yang ingin mengalami apa yang saya rasakan. Setiap orang mestinya punya akses layanan kesehatan yang sama,” keluhnya.

Ini hanyalah secuil kisah dari berita tentang lonjakan Covid yang menggila di India. Berdasarkan catatan Johns Hopkins University, India kini berada di peringkat kedua negara yang paling terdampak Covid, dengan total kasus terkonfirmasi berjumlah 14.291.917. Di bawah Amerika Serikat yang membukukan angka 31.495.652, dan menyalip Brazil yang kini bertengger di peringkat tiga dengan angka 13.746.681.

Masih ada kisah-kisah lain yang membuat kita prihatin. Seperti sulitnya mencari obat Covid, hingga harus berjuang ke pasar gelap alias black market, sulit mendapatkan tabung oksigen, layanan rontgen, dan antrean panjang krematorium yang memilukan.

Di sejumlah kota, warga India mesti menunggu beberapa jam untuk menjalani tes di laboratorium Covid. Tak terkecuali, Delhi. Hasilnya datang antara 48-72 jam.

“Saya sudah bergejala selama 3 hari, tapi saya harus menunggu 2-3 hari untuk mendapatkan hasil,” ungkap seorang pria berusia 35 tahun, seperti dikutip BBC, Jumat (16/4).

 

Berburu Obat Di Black Market

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial di India dipenuhi permintaan bantuan warga yang putus asa menemukan obat Remdesivir dan Tocilizumab.

Meski perdebatan tentang obat ini seolah tak ada habisnya, namun beberapa negara – termasuk India – telah memberikan otorisasi penggunaan darurat kepada kedua jenis obat tersebut.

Di India, obat anti virus Remdesivir diresepkan oleh dokter di seluruh negeri. Permintaannya tinggi.

India telah melarang ekspor, tetapi produsen juga kewalahan memenuhi permintaan.

Dalam 3 minggu terakhir, setiap hari, India telah melaporkan lebih dari 150 ribu kasus Covid. Tocilizumab, obat yang biasanya digunakan untuk mengobati radang sendi, telah terbukti menyelamatkan nyawa dalam beberapa uji klinis. Namun nyaris hilang di pasaran India.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Ahli Kimia dan Ahli Obat Seluruh India, Rajiv Singhal mengatakan, teleponnya berdering sepanjang hari. Menerima panggilan orang-orang yang memintanya membantu menemukan obat tersebut.

“Situasinya sangat buruk. Saya bahkan tidak bisa mendapatkan obat untuk anggota keluarga saya sendiri,” katanya.

“Kami mencoba menindak tegas pelaku pasar gelap. Tapi saya akui, ada kebocoran dalam sistem,” sambung Rajiv.

Sulit Cari Tabung Oksigen Dan Layanan Rontgen

Permintaan oksigen medis juga melonjak di beberapa negara bagian di India. Beberapa rumah sakit terpaksa menolak pasien, karena kekurangan pasokan tabung oksigen.

Kepala Menteri negara bagian Maharashtra Uddhav Thackeray meminta pemerintah federal untuk mengirim tabung oksigen dengan pesawat militer, karena jalan darat membutuhkan waktu yang terlalu lama.

Di kota-kota kecil, situasinya jauh lebih buruk. Jika pasien tidak dapat menemukan tempat tidur rumah sakit, dokter menyarankan mereka untuk menggunakan tabung oksigen di rumah.

 

Kisah ini dialami Nabeel Ahmed di sebuah kota kecil di India Utara. Sang ayah didiagnosis positif Covid pada Jumat (9/4). Lima hari kemudian, mulai sulit bernapas. Dokter pun menyarankan Nabeel untuk membeli tabung oksigen, untuk pemakaian di rumah.

Demi mendapatkan satu tabung oksigen, Nabeel berkendara selama 4 jam ke kota lain.

“Saya butuh 8 jam perjalanan pulang pergi untuk mendapatkan tabung silinder  itu,” tutur Nabeel.

Masalah besar lainnya yang dihadapi pasien di kota-kota kecil adalah penolakan laboratorium swasta untuk melakukan rontgen dada dan CT scan. Dokter sering meminta tes ini untuk menilai perkembangan penyakit.

Yogesh Kumar, yang tinggal di Kota Utara Allahabad mengatakan, satu-satunya cara agar bisa di-rontgen adalah dengan dirawat di rumah sakit. Atau menjalani tes di rumah sakit yang dikelola pemerintah, yang daftar tunggunya panjang. 

“Sungguh luar biasa, saya tidak dapat melakukan rontgen untuk pasien saya. Kami hanya mengandalkan laporan darah, untuk menilai penyakit dalam beberapa kasus, yang tentunya tidak ideal,” ujar seorang dokter di Allahabad.

Krematorium Luar Biasa Sibuk

Krematorium di banyak kota di India, terkena dampak parah. Situasi ini berlangsung siang dan malam.

Dalam beberapa kasus, keluarga harus menunggu beberapa jam untuk mengkremasi jenazah. 

Laporan teranyar menyebutkan, struktur logam tungku di dalam krematorium di kota Surat,  wilayah barat India mulai meleleh karena beroperasi siang dan malam tanpa jeda.

Sebuah video pendek yang menunjukkan lusinan pembakaran kayu di pemakaman di kota utara Lucknow pada tengah malam, viral belum lama ini. Banyak anggota staf di krematorium bekerja tanpa istirahat. Mereka mulai lelah.

Kebanyakan orang sibuk bertanya, apakah situasi ini dapat dihindari.

“Kami tidak belajar dari gelombang pertama. Kami menyadari gelombang kedua akan datang. Tetapi, kami tidak berencana untuk menghindari kejadian yang tidak menguntungkan seperti kekurangan obat-obatan, tempat tidur dan oksigen,” kata Ahli Epidemiologi Dr Lalit Kant.

“Kami bahkan tidak belajar dari negara lain yang menghadapi keadaan serupa,” tandasnya. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories