Di Saat Corona Menggila, Sibuk Urusan Copres-Capres Politisi Kita Nyebelin Ya…

Tiga pekan setelah Lebaran, kasus Corona melesat. Klaster penyebarannya juga mengkhawatirkan. Di tengah kondisi darurat seperti ini, para politisi kita malah sibuk urusan copras-capres, nyebelin ya.

Dampak warga nekat mudik dan libur Lebaran terhadap peningkatan kasus positif Covid-19 mulai terlihat dalam tiga pekan terakhir. Penyebaran virus asal China itu tak hanya terjadi di tingkat keluarga, tapi juga dalam skala RT, sampai perkantoran. 

Di Jakarta misalnya, muncul klaster RT di beberapa kecamatan seperti di Cipayung, Cilangkap, Jagakarsa, dan Cilincing. Puluhan warga dalam 1 RT terpapar Covid sehingga diberlakukan micro-lockdown. Warga yang berada di area lockdown dilarang keluar masuk. Klaster tingkat RT ini juga muncul di Tangerang, Bogor, dan Yogyakarta. 

Klaster perkantoran juga bermunculan lagi. Di Bandung, Gedung Sate terpaksa tutup selama satu pekan gara-gara ada 32 pegawai yang terpapar Covid-19. Di Jakarta, kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga ditutup sementara karena ada 23 karyawan yang reaktif saat dites. 

Paling mengerikan lagi, lonjakan kasus terjadi di Kudus. Peningkatan kasus hampir 30 kali lipat. Puluhan desa kena, angka kematian pun meninggi.

Satgas Covid-19 menyebut, peningkatan kasus positif Covid-19 hampir menyebar di seluruh daerah. Dalam sepekan ini, kenaikannya hampir 15 persen. Seharian kemarin, ada penambahan 6.486 kasus baru. Dengan penambahan itu, total kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 1.843.612 orang, dengan kasus aktif sebanyak 94.773 kasus, dan 74.774 orang yang berstatus suspek. Jumlah pasien yang meninggal pun terus bertambah. Pada periode 3-4 Juni 2021, ada 201 pasien Covid-19 meninggal. Sehingga, angka kematian mencapai 51.296 orang. 

“Kenaikan kasus positif pada periode ini sudah dapat diklaim sebagai dampak libur Idul Fitri,” kata Jubir Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, saat konferensi pers, kemarin. Wiku menjelaskan, kenaikan kasus paling banyak disumbang lima provinsi yaitu Jawa Tengah yang naik 1.181 kasus, Riau naik 1.550  kasus, Kepulauan Riau naik 781 kasus, Aceh naik 692 kasus, dan DKI Jakarta naik 523 kasus.

Sayangnya, kasus Corona yang menggila ini sepertinya kurang jadi perhatian para politisi kita. Mereka tampaknya lebih sibuk ngurusin copras-capres. Meski Pemilu masih tiga tahun lagi, hampir tiap hari omongan soal Pilpres keluar dari mulut para politisi. Ada yang deklarasi relawan capres, ada yang sibuk cari teman koalisi, ada yang anjangsana, dan sebagainya. 

Gara-gara ini, pertemuan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, di Bandung, kemarin, jadi gunjingan warganet. Padahal keduanya sudah membantah pertemuan itu membahas soal pilpres. 

Warganet tampaknya mulai kesal melihat kesibukan politisi soal pilpres. Akun @SamLovelna misalnya, geregetan melihat banyak berita online soal capres yang berseliweran. “Copras-capres mulu, kayak mau ada pilpres 2021 atau 2022,” ujarnya, mengomentari berita soal rencana koalisi parpol. “Hai politisi, stop dulu urusan copras-capres. Pikirkan soal corona yang mulai menggila lagi,” kicau @alsnugraha. 

Penulis asal Yogyakarta Puthut EA berharap, semua pihak lebih serius ke penanganan Corona. Pasalnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memprediksi ada 8 kabupaten yang berpotensi terjadi seperti di Kudus. “Ngeri banget ini,” kicaunya di akun @puthutea. 

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, penanganan pandemi Covid-19 yang berkaitan dengan sektor kesehatan harus menjadi prioritas semua pihak. Kata dia, urusan kesehatan saat ini harus di atas urusan ekonomi dan politik. Apalagi saat ini, kasus Covid-19 mengalami tren peningkatan. Ia khawatir, kalau tidak segera mendapat perhatian semua pihak, akan terjadi ledakan kasus Covid seperti di India. 

Dicky mengatakan, sebelumnya angka keterisian kamar rumah sakit sempat berada di titik terendah, yakni sekitar 20 ribu. Pada 31 Mei 2021, jumlah itu naik menjadi sekitar 25 persen. Memang masih ada cukup kapasitas yang tersedia. Namun, kalau lonjakan kasus seperti di Kudus terjadi di sejumlah daerah, rumah sakit bisa saja collapse. Apalagi tenaga kesehatan yang sudah divaksin pun masih terpapar. 

“Kasus infeksi di fasilitas kesehatan adalah refleksi sangat serius dari laju  penyebaran Covid-19 di masyarakat. Karena, berarti yang datang ke rumah sakit itu banyak sekali, dan sangat infeksius,” kata Dicky, saat dikontak, tadi malam. [BCG]
]]> Tiga pekan setelah Lebaran, kasus Corona melesat. Klaster penyebarannya juga mengkhawatirkan. Di tengah kondisi darurat seperti ini, para politisi kita malah sibuk urusan copras-capres, nyebelin ya.
Dampak warga nekat mudik dan libur Lebaran terhadap peningkatan kasus positif Covid-19 mulai terlihat dalam tiga pekan terakhir. Penyebaran virus asal China itu tak hanya terjadi di tingkat keluarga, tapi juga dalam skala RT, sampai perkantoran. 
Di Jakarta misalnya, muncul klaster RT di beberapa kecamatan seperti di Cipayung, Cilangkap, Jagakarsa, dan Cilincing. Puluhan warga dalam 1 RT terpapar Covid sehingga diberlakukan micro-lockdown. Warga yang berada di area lockdown dilarang keluar masuk. Klaster tingkat RT ini juga muncul di Tangerang, Bogor, dan Yogyakarta. 
Klaster perkantoran juga bermunculan lagi. Di Bandung, Gedung Sate terpaksa tutup selama satu pekan gara-gara ada 32 pegawai yang terpapar Covid-19. Di Jakarta, kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga ditutup sementara karena ada 23 karyawan yang reaktif saat dites. 
Paling mengerikan lagi, lonjakan kasus terjadi di Kudus. Peningkatan kasus hampir 30 kali lipat. Puluhan desa kena, angka kematian pun meninggi.
Satgas Covid-19 menyebut, peningkatan kasus positif Covid-19 hampir menyebar di seluruh daerah. Dalam sepekan ini, kenaikannya hampir 15 persen. Seharian kemarin, ada penambahan 6.486 kasus baru. Dengan penambahan itu, total kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 1.843.612 orang, dengan kasus aktif sebanyak 94.773 kasus, dan 74.774 orang yang berstatus suspek. Jumlah pasien yang meninggal pun terus bertambah. Pada periode 3-4 Juni 2021, ada 201 pasien Covid-19 meninggal. Sehingga, angka kematian mencapai 51.296 orang. 
“Kenaikan kasus positif pada periode ini sudah dapat diklaim sebagai dampak libur Idul Fitri,” kata Jubir Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, saat konferensi pers, kemarin. Wiku menjelaskan, kenaikan kasus paling banyak disumbang lima provinsi yaitu Jawa Tengah yang naik 1.181 kasus, Riau naik 1.550  kasus, Kepulauan Riau naik 781 kasus, Aceh naik 692 kasus, dan DKI Jakarta naik 523 kasus.
Sayangnya, kasus Corona yang menggila ini sepertinya kurang jadi perhatian para politisi kita. Mereka tampaknya lebih sibuk ngurusin copras-capres. Meski Pemilu masih tiga tahun lagi, hampir tiap hari omongan soal Pilpres keluar dari mulut para politisi. Ada yang deklarasi relawan capres, ada yang sibuk cari teman koalisi, ada yang anjangsana, dan sebagainya. 
Gara-gara ini, pertemuan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, di Bandung, kemarin, jadi gunjingan warganet. Padahal keduanya sudah membantah pertemuan itu membahas soal pilpres. 
Warganet tampaknya mulai kesal melihat kesibukan politisi soal pilpres. Akun @SamLovelna misalnya, geregetan melihat banyak berita online soal capres yang berseliweran. “Copras-capres mulu, kayak mau ada pilpres 2021 atau 2022,” ujarnya, mengomentari berita soal rencana koalisi parpol. “Hai politisi, stop dulu urusan copras-capres. Pikirkan soal corona yang mulai menggila lagi,” kicau @alsnugraha. 
Penulis asal Yogyakarta Puthut EA berharap, semua pihak lebih serius ke penanganan Corona. Pasalnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memprediksi ada 8 kabupaten yang berpotensi terjadi seperti di Kudus. “Ngeri banget ini,” kicaunya di akun @puthutea. 
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, penanganan pandemi Covid-19 yang berkaitan dengan sektor kesehatan harus menjadi prioritas semua pihak. Kata dia, urusan kesehatan saat ini harus di atas urusan ekonomi dan politik. Apalagi saat ini, kasus Covid-19 mengalami tren peningkatan. Ia khawatir, kalau tidak segera mendapat perhatian semua pihak, akan terjadi ledakan kasus Covid seperti di India. 
Dicky mengatakan, sebelumnya angka keterisian kamar rumah sakit sempat berada di titik terendah, yakni sekitar 20 ribu. Pada 31 Mei 2021, jumlah itu naik menjadi sekitar 25 persen. Memang masih ada cukup kapasitas yang tersedia. Namun, kalau lonjakan kasus seperti di Kudus terjadi di sejumlah daerah, rumah sakit bisa saja collapse. Apalagi tenaga kesehatan yang sudah divaksin pun masih terpapar. 
“Kasus infeksi di fasilitas kesehatan adalah refleksi sangat serius dari laju  penyebaran Covid-19 di masyarakat. Karena, berarti yang datang ke rumah sakit itu banyak sekali, dan sangat infeksius,” kata Dicky, saat dikontak, tadi malam. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories