Di Forum JProf Lemhanas Optimis Sawit BisaBantu Pengentasan Kemiskinan .

Industri sawit memiliki kaitan erat dengan ketahanan nasional. Apalagi, dalam kondisi pandemi Covid-19. Hal itu disampaikan Deputi Pengkajian Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Prof Reni Mayerni, dalam dalam Webinar Nasional yang digelar Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa (JProf).

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand) Padang ini meyakini, industri sawit mampu berkontribusi membantu negara mengentaskan kemiskinan. Roda perekonomian yang digerakkan sawit berdampak luar biasa terhadap ekonomi Indonesia. Soalnya, hasil olahan sawit sangat dibutuhkan masyarakat.

“Sawit membantu pemerintah dalam upaya mengentaskan kemiskinan,” ujar Reni dalam webinar bertajuk Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit Secara Berkelanjutan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Dalam Rangka Ketahanan Nasional, Kamis (11/2).

Jika industri sawit terganggu, maka bukan tidak mungkin akan berdampak pada ketahanan di dalam negeri. Reni memandang, di pelosok desa, sawit mampu memberikan dampak yang positif bagi masyarakat.

Perkebunan sawit yang dikembangkan di desa mampu mempekerjakan banyak warga. “Di perkebunan tanaman sawit itu menjadi perkebunan utama yang mampu menyerap banyak sumber daya manusia sampai hari ini,” bebernya. 

Kapa sawit umumnya dikenal hanya sebagai bahan baku minyak goreng. Namun, menurut Reni, sawit memiliki potensi yang luar biasa di bidang energi. Dia menyebut dua potensi energi yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit, yakni biodiesel dan Bio Power. Biodiesel dihasilkan dari pengolahan lebih lanjut dari minyak kelapa sawit.

“Sementara biopower dihasilkan melalui penggunaan residu pengolahan tandan buah segar atau TBS sebagai bahan bakar bagi pembangkit listrik,” terang Reni.

Selain itu minyak sawit juga dianggap sebagai produk pertanian yang paling siap menjadi sumber energi terbarukan. “Kita melihat minyak sawit menjadi biodiesel ini sangat strategis untuk mendukung upaya pemerintah juga dakan mengantisipasi krisis energi di masa depan,” tandasnya.

Dalam diskusi yang sama, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurachman optimis, ekonomi Indonesia akan lebih cepat pulih di tahun ini.

Kebijakan pemerintah melanjutkan Program Pemulihan Ekonomi atau PEN di APBN, serta implementasi UU Cipta Kerja dan pelaksanaan vaksinasi, akan dapat mendorong aktivitas ekonomi, peningkatan konsumsi dan investasi, sehingga ekonomi akan pulih di tahun 2021. Kebijakan tersebut turut membantu industri sawit.

“Lalu faktor lainnya seperti percepatan reformasi dan sumbangan sektor industri sawit dan energi sangat berpengaruh,” katanya.

Lebih jauh dia menyebut, implementasi program Mandatory B30 harus terus dipertahankan selama pandemi akan membantu pemulihan ekonomi. [JAR]

]]> .
Industri sawit memiliki kaitan erat dengan ketahanan nasional. Apalagi, dalam kondisi pandemi Covid-19. Hal itu disampaikan Deputi Pengkajian Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Prof Reni Mayerni, dalam dalam Webinar Nasional yang digelar Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa (JProf).

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand) Padang ini meyakini, industri sawit mampu berkontribusi membantu negara mengentaskan kemiskinan. Roda perekonomian yang digerakkan sawit berdampak luar biasa terhadap ekonomi Indonesia. Soalnya, hasil olahan sawit sangat dibutuhkan masyarakat.

“Sawit membantu pemerintah dalam upaya mengentaskan kemiskinan,” ujar Reni dalam webinar bertajuk Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit Secara Berkelanjutan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Dalam Rangka Ketahanan Nasional, Kamis (11/2).

Jika industri sawit terganggu, maka bukan tidak mungkin akan berdampak pada ketahanan di dalam negeri. Reni memandang, di pelosok desa, sawit mampu memberikan dampak yang positif bagi masyarakat.

Perkebunan sawit yang dikembangkan di desa mampu mempekerjakan banyak warga. “Di perkebunan tanaman sawit itu menjadi perkebunan utama yang mampu menyerap banyak sumber daya manusia sampai hari ini,” bebernya. 

Kapa sawit umumnya dikenal hanya sebagai bahan baku minyak goreng. Namun, menurut Reni, sawit memiliki potensi yang luar biasa di bidang energi. Dia menyebut dua potensi energi yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit, yakni biodiesel dan Bio Power. Biodiesel dihasilkan dari pengolahan lebih lanjut dari minyak kelapa sawit.

“Sementara biopower dihasilkan melalui penggunaan residu pengolahan tandan buah segar atau TBS sebagai bahan bakar bagi pembangkit listrik,” terang Reni.

Selain itu minyak sawit juga dianggap sebagai produk pertanian yang paling siap menjadi sumber energi terbarukan. “Kita melihat minyak sawit menjadi biodiesel ini sangat strategis untuk mendukung upaya pemerintah juga dakan mengantisipasi krisis energi di masa depan,” tandasnya.

Dalam diskusi yang sama, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurachman optimis, ekonomi Indonesia akan lebih cepat pulih di tahun ini.

Kebijakan pemerintah melanjutkan Program Pemulihan Ekonomi atau PEN di APBN, serta implementasi UU Cipta Kerja dan pelaksanaan vaksinasi, akan dapat mendorong aktivitas ekonomi, peningkatan konsumsi dan investasi, sehingga ekonomi akan pulih di tahun 2021. Kebijakan tersebut turut membantu industri sawit.

“Lalu faktor lainnya seperti percepatan reformasi dan sumbangan sektor industri sawit dan energi sangat berpengaruh,” katanya.

Lebih jauh dia menyebut, implementasi program Mandatory B30 harus terus dipertahankan selama pandemi akan membantu pemulihan ekonomi. [JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories