Di Australia Penduduk Tak Wajib Pakai Masker, Tapi Prokesnya Ketat .

Australia menjadi salah satu negara yang mampu mengendalikan Covid-19 meski pemerintah negeri kanguru tidak mewajibkan penggunaan masker. Kok bisa sih? 

Hal itu diungkapkan Epidemiolog Dicky Budiman. Yang mencolok kalau di sini (Australia) tidak diwajibkan memakai masker. Sejak awal pandemi memang tidak diwajibkan,” ujarnya dalam Talk Show virtual bertajuk “Cerita Lebaran Dari Negeri Kanguru” yang digelar RM.id, Jumat (14/5).

Tapi ditegaskannya, kebijakan itu tak diputuskan sembarangan. Hal itu didasarkan pada pertimbangan matang Kementerian Kesehatan Australia. Di negeri kanguru, tidak ditemukan klaster Covid-19. Lalu community transmission juga tidak ada. “Sehingga disini pede bisa menjamin. Ya kecil banget ada orang membawa virus,” ucapnya.

Meski tidak mewajibkan memakai masker, pemerintah Australia mewajibkan jaga jarak yang ketat. “Benar-benar yang namanya menjaga jarak fokus sekali. Kemudian pembatasan untuk kapasitas ruang sangat luar biasa ketatnya, dan ventilasi udara di dalam ruang sangat diperhatikan dan diatur,” paparnya.

Sejak awal pandemi, pemerintah negeri kanguru memang menitikberatkan penanganan pada pembatasan mobilitas dan jaga jarak. Australia menerapkan lockdown total selama hampir dua bulan.

Setelah itu, tiga bulan berikutnya secara bertahap melonggarkan aktivitas menuju normal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Mereka juga sigap. Ketika pada awal Januari 2021 ditemukan satu kasus Corona, pemerintah langsung melakukan lockdown selama tiga hari. Mereka langsung menggenjot testing dan tracing.

“Bayangkan hanya ada satu kasus tetapi yang testing dan tracing itu sampai 19 ribu orang. Setelah sangat ketat, lalu hasilnya aman dan biasa lagi,” beber Dicky.

Kemudian, pada awal Maret ketika 4 kasus Covid-19 teridentifikasi di rumah sakit, lockdown selama tiga hari kembali dilakukan.

Yang menarik, meski berkali-kali lockdown, Dicky menyebut, warga Australia mendukung kebijakan pemerintahnya.

“Ketika di-lockdown itu tidak ada support dari pemerintah buat masyarakat. Tidak ada bantuan. Jangan dibayangkan ketika Australia melakukan lockdown itu ada bantuan dikasih uang tidak ada. Tapi kalau yang awal (hampir dua bulan) itu ada support bantuan dari pemerintah,” ucap Dicky.

Kekompakan pemerintah dan warga menjadikan Australia berhasil mengontrol pandemi. Mereka kini bisa hidup relatif normal tanpa perlu memakai masker.

Tapi diingatkan Dicky, Indonesia tidak bisa menerapkan kebijakan tidak mewajibkan masker. Sebab, kondisi dan indikatornya berbeda.

“Strateginya hampir sama dengan Indonesia. Namun demikian untuk Indonesia tidak dianjurkan untuk lockdown apalagi sampai lepas masker,” tandas dosen Griffith University ini. [JAR]

]]> .
Australia menjadi salah satu negara yang mampu mengendalikan Covid-19 meski pemerintah negeri kanguru tidak mewajibkan penggunaan masker. Kok bisa sih? 

Hal itu diungkapkan Epidemiolog Dicky Budiman. Yang mencolok kalau di sini (Australia) tidak diwajibkan memakai masker. Sejak awal pandemi memang tidak diwajibkan,” ujarnya dalam Talk Show virtual bertajuk “Cerita Lebaran Dari Negeri Kanguru” yang digelar RM.id, Jumat (14/5).

Tapi ditegaskannya, kebijakan itu tak diputuskan sembarangan. Hal itu didasarkan pada pertimbangan matang Kementerian Kesehatan Australia. Di negeri kanguru, tidak ditemukan klaster Covid-19. Lalu community transmission juga tidak ada. “Sehingga disini pede bisa menjamin. Ya kecil banget ada orang membawa virus,” ucapnya.

Meski tidak mewajibkan memakai masker, pemerintah Australia mewajibkan jaga jarak yang ketat. “Benar-benar yang namanya menjaga jarak fokus sekali. Kemudian pembatasan untuk kapasitas ruang sangat luar biasa ketatnya, dan ventilasi udara di dalam ruang sangat diperhatikan dan diatur,” paparnya.

Sejak awal pandemi, pemerintah negeri kanguru memang menitikberatkan penanganan pada pembatasan mobilitas dan jaga jarak. Australia menerapkan lockdown total selama hampir dua bulan.

Setelah itu, tiga bulan berikutnya secara bertahap melonggarkan aktivitas menuju normal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Mereka juga sigap. Ketika pada awal Januari 2021 ditemukan satu kasus Corona, pemerintah langsung melakukan lockdown selama tiga hari. Mereka langsung menggenjot testing dan tracing.

“Bayangkan hanya ada satu kasus tetapi yang testing dan tracing itu sampai 19 ribu orang. Setelah sangat ketat, lalu hasilnya aman dan biasa lagi,” beber Dicky.

Kemudian, pada awal Maret ketika 4 kasus Covid-19 teridentifikasi di rumah sakit, lockdown selama tiga hari kembali dilakukan.

Yang menarik, meski berkali-kali lockdown, Dicky menyebut, warga Australia mendukung kebijakan pemerintahnya.

“Ketika di-lockdown itu tidak ada support dari pemerintah buat masyarakat. Tidak ada bantuan. Jangan dibayangkan ketika Australia melakukan lockdown itu ada bantuan dikasih uang tidak ada. Tapi kalau yang awal (hampir dua bulan) itu ada support bantuan dari pemerintah,” ucap Dicky.

Kekompakan pemerintah dan warga menjadikan Australia berhasil mengontrol pandemi. Mereka kini bisa hidup relatif normal tanpa perlu memakai masker.

Tapi diingatkan Dicky, Indonesia tidak bisa menerapkan kebijakan tidak mewajibkan masker. Sebab, kondisi dan indikatornya berbeda.

“Strateginya hampir sama dengan Indonesia. Namun demikian untuk Indonesia tidak dianjurkan untuk lockdown apalagi sampai lepas masker,” tandas dosen Griffith University ini. [JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories