Dengarkan Rekomendasi 5 Organisasi Profesi Dokter Gantikan Oseltamivir, Menkes Putuskan Favipiravir Sebagai Obat Anti Virus Covid-19 .

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengumumkan rencana penggantian obat Oseltamivir, yang merupakan golongan obat anti virus, dengan Favipiravir. Menyusul rekomendasi 5 organisasi profesi kedokteran di Tanah Air, dalam Revisi Protokol Tata Laksana Covid-19.

“Para dokter dari 5 organisasi profesi kedokteran di Indonesia sudah mengkaji dampaknya terhadap mutasi varian Delta. Mereka menganjurkan untuk menggunakan Favipiravir sebagai anti virus,” jelas menteri yang akrab disapa BGS, dalam konferensi pers yang disiarakn langsung via kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (27/6).

Saat ini, total stok Favipiravir di seluruh Indonesia ada 6 juta. Jumlah stok Favipiravir ini dipastikan akan terus bertambah, seiring menguatnya komitmen industri dan upaya impor. 

Kimia Farma, misalnya. BUMN Farmasi itu siap memproduksi 2 juta Favipiravir per hari. Dexa Medica siap mengimpor 15 juta di bulan Agustus. Selain itu, juga ada rencana impor 9,2 juta Favipiravir dari beberapa negara, mulai Agustus mendatang.

“Rencananya, juga akan ada pabrik baru, yang akan memproduksi Favipiravir hingga 1 juta per hari,” ujar BGS.

 

Lonjakan Permintaan Obat

BGS menyebut, sejak 1 Juni sampai saat ini, telah terjadi lonjakan permintaan obat yang luar biasa, yang besarnya mencapai 12 kali lipat.

Merespon hal itu, BGS mengaku, pihaknya telah bergerak cepat untuk melakukan komunikasi dengan Gabungan Pengusaha Farmasi, mengimpor bahan baku obat, meningkatkan kapasitas produksi, dan menyiapkan distribusinya.

“Tapi memang dibutuhkan waktu, antara 4 sampai 6 minggu, agar kapasitas obat dalam negeri kita bisa memenuhi permintaan obat-obatan sebanyak 12 kali lipat,” tutur BGS.

“Mudah-mudahan, awal Agustus nanti, obat-obatan yang paling sering dicari masyarakat seperti Azythromicin, Oseltamivir, maupun Favipiravir sudah bisa masuk ke pasar secara lebih signifikan,” papar BGS.

Stok Azythromicin secara nasional, saat ini berjumlah 11,4 juta.  Total ada 20 pabrik lokal yang memproduksi obat ini.

“Jadi, sebenarnya, kapasitas produksinya mencukupi. Memang, ada sedikit hambatan distribusi, dan itu sudah kita bicarakan untuk solusinya,” tandas BGS. [HES]

]]> .
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengumumkan rencana penggantian obat Oseltamivir, yang merupakan golongan obat anti virus, dengan Favipiravir. Menyusul rekomendasi 5 organisasi profesi kedokteran di Tanah Air, dalam Revisi Protokol Tata Laksana Covid-19.

“Para dokter dari 5 organisasi profesi kedokteran di Indonesia sudah mengkaji dampaknya terhadap mutasi varian Delta. Mereka menganjurkan untuk menggunakan Favipiravir sebagai anti virus,” jelas menteri yang akrab disapa BGS, dalam konferensi pers yang disiarakn langsung via kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (27/6).

Saat ini, total stok Favipiravir di seluruh Indonesia ada 6 juta. Jumlah stok Favipiravir ini dipastikan akan terus bertambah, seiring menguatnya komitmen industri dan upaya impor. 

Kimia Farma, misalnya. BUMN Farmasi itu siap memproduksi 2 juta Favipiravir per hari. Dexa Medica siap mengimpor 15 juta di bulan Agustus. Selain itu, juga ada rencana impor 9,2 juta Favipiravir dari beberapa negara, mulai Agustus mendatang.

“Rencananya, juga akan ada pabrik baru, yang akan memproduksi Favipiravir hingga 1 juta per hari,” ujar BGS.

 

Lonjakan Permintaan Obat

BGS menyebut, sejak 1 Juni sampai saat ini, telah terjadi lonjakan permintaan obat yang luar biasa, yang besarnya mencapai 12 kali lipat.

Merespon hal itu, BGS mengaku, pihaknya telah bergerak cepat untuk melakukan komunikasi dengan Gabungan Pengusaha Farmasi, mengimpor bahan baku obat, meningkatkan kapasitas produksi, dan menyiapkan distribusinya.

“Tapi memang dibutuhkan waktu, antara 4 sampai 6 minggu, agar kapasitas obat dalam negeri kita bisa memenuhi permintaan obat-obatan sebanyak 12 kali lipat,” tutur BGS.

“Mudah-mudahan, awal Agustus nanti, obat-obatan yang paling sering dicari masyarakat seperti Azythromicin, Oseltamivir, maupun Favipiravir sudah bisa masuk ke pasar secara lebih signifikan,” papar BGS.

Stok Azythromicin secara nasional, saat ini berjumlah 11,4 juta.  Total ada 20 pabrik lokal yang memproduksi obat ini.

“Jadi, sebenarnya, kapasitas produksinya mencukupi. Memang, ada sedikit hambatan distribusi, dan itu sudah kita bicarakan untuk solusinya,” tandas BGS. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories