Demokrat: Tangkap Dan Seret Pelaku Tes Swab Antigen Bekas Ke Meja Hijau

Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin mengaku, perihatin terjadinya kasus  tes swab antigen bekas di Bandara Internasional Kualanamu. 

Ia mengatakan, kasus dugaan korupsi tes swab antigen bekas yang muncul di tengah pandemi Covid-19 sangat menyedihkan dan menjijikkan. Di mana dalam kasus ini, alat swab antigen bekas digunakan berkali-kali kepada pihak lain yang hendak swab.“Sungguh sedih dan menjijikan. Betapa murah dan tidak beradabnya para pelaku,” kata Didi di Jakarta, Kamis (29/4).

Menurutnya, kasus ini adalah kriminal besar yang harus diusut tuntas. Termasuk motif dan kemungkinan adanya jejaring modus serupa. Kasus ini dinilai, meresahkan karena terjadi di-counter resmi bandara dan melibatkan BUMN.

“Siapapun tidak boleh mengambil keuntungan ekonomi atas pandemi corona. Aparat harus segera menindak tegas para pelaku kriminal swab bekas ini,” pintah Didi.

Politisi Partai Berlambang Mercy ini mengingatkan, semua aparatur pemerintah sekecil apapun jangan pernah ada komersialisasi dan jangan pernah berbisnis dengan rakyat dalam mitigasi pandemi Covid-19.

“Baginya, kesehatan dan keselamatan rakyat mutlak harus dijaga dan dilindungi. Rakyat jangan pernah dirugikan, dijadikan obyek tipuan,” tegasnya.

Kasus swab bekas ini, katanya tidak beda dengan korupsi bansos, korupsi apapun yang terkait penanganan pandemi adalah kejahatan besar, apalagi Indonesia tengah berjuang melindungi ratusan juta nyawa rakyat Indonesia.

Sebelumnya, ada kasus masker palsu, kasus mafia karantina WNA yang masuk Indonesia dan sekarang kasus swab test antigen bekas.

“Jangan sampai gara-gara ini timbul krisis kepercayaan masyarakat akan test perjalanan. Apalagi banyak masyarakat yang menggunakan tes ini karena salah satu syarat wajib perjalanan,” ujarnya.

Lebih dari itu, tambah Didi, kasus ini sangat berbahaya untuk akurasi hasil testing sebagai tahap awal 3T. Jika hasil testingnya tidak akurat, maka untuk tracing dan treatment bisa terjadi salah langkah. 

Karena itu, Pemerintah harus hadir di tengah rakyat yang masih menderita dan terpuruk karena Covid-19, di mana kemiskinan, pengangguran masih terus meningkat. 

“Tangkap dan seret pelaku ke meja hijau. Jangan pernah terjadi lagi korupsi memalukan macam test antigen, masker palsu, karantina fiktif hingga korupsi bantuan sosial yang sangat tidak beradab<” tandasnya. [MFA]

 

]]> Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin mengaku, perihatin terjadinya kasus  tes swab antigen bekas di Bandara Internasional Kualanamu. 

Ia mengatakan, kasus dugaan korupsi tes swab antigen bekas yang muncul di tengah pandemi Covid-19 sangat menyedihkan dan menjijikkan. Di mana dalam kasus ini, alat swab antigen bekas digunakan berkali-kali kepada pihak lain yang hendak swab.“Sungguh sedih dan menjijikan. Betapa murah dan tidak beradabnya para pelaku,” kata Didi di Jakarta, Kamis (29/4).

Menurutnya, kasus ini adalah kriminal besar yang harus diusut tuntas. Termasuk motif dan kemungkinan adanya jejaring modus serupa. Kasus ini dinilai, meresahkan karena terjadi di-counter resmi bandara dan melibatkan BUMN.

“Siapapun tidak boleh mengambil keuntungan ekonomi atas pandemi corona. Aparat harus segera menindak tegas para pelaku kriminal swab bekas ini,” pintah Didi.

Politisi Partai Berlambang Mercy ini mengingatkan, semua aparatur pemerintah sekecil apapun jangan pernah ada komersialisasi dan jangan pernah berbisnis dengan rakyat dalam mitigasi pandemi Covid-19.

“Baginya, kesehatan dan keselamatan rakyat mutlak harus dijaga dan dilindungi. Rakyat jangan pernah dirugikan, dijadikan obyek tipuan,” tegasnya.

Kasus swab bekas ini, katanya tidak beda dengan korupsi bansos, korupsi apapun yang terkait penanganan pandemi adalah kejahatan besar, apalagi Indonesia tengah berjuang melindungi ratusan juta nyawa rakyat Indonesia.

Sebelumnya, ada kasus masker palsu, kasus mafia karantina WNA yang masuk Indonesia dan sekarang kasus swab test antigen bekas.

“Jangan sampai gara-gara ini timbul krisis kepercayaan masyarakat akan test perjalanan. Apalagi banyak masyarakat yang menggunakan tes ini karena salah satu syarat wajib perjalanan,” ujarnya.

Lebih dari itu, tambah Didi, kasus ini sangat berbahaya untuk akurasi hasil testing sebagai tahap awal 3T. Jika hasil testingnya tidak akurat, maka untuk tracing dan treatment bisa terjadi salah langkah. 

Karena itu, Pemerintah harus hadir di tengah rakyat yang masih menderita dan terpuruk karena Covid-19, di mana kemiskinan, pengangguran masih terus meningkat. 

“Tangkap dan seret pelaku ke meja hijau. Jangan pernah terjadi lagi korupsi memalukan macam test antigen, masker palsu, karantina fiktif hingga korupsi bantuan sosial yang sangat tidak beradab<” tandasnya. [MFA]

 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories