Datangkan AstraZeneca Dan Novavax Bio Farma Minta Kemlu Lobi India

PT Bio Farma (Persero) meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melakukan diplomasi dengan India agar tidak menunda pengiriman vaksin AstraZeneca dan Novavax. Langkah itu perlu dilakukan untuk menjaga laju program vaksinasi nasional.

Berdasarkan data yang dipa­parkan Dirut Bio Farma Honesti Basyir, Indonesia direncanakan bakal mendapat vaksin bantuan dari Covax/GAVI sebanyak 54 juta dosis. Saat ini, vaksin ban­tuan yang telah tiba baru 1,1 juta dosis buatan AstraZeneca.

Perseroan juga berencana mendatangkan 50 juta dosis vaksin kerja sama business-to-business dengan AstraZeneca. Adapun dari Novavax, perseroan berencana mendatangkan sekitar 50 juta dosis.

“Kami sedang koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk juga bisa melakukan diplomasi. Bagaimana seandainya suplai ke Indonesia yang sudah terjadwal bisa dilakukan sesuai jadwal,” ujar Honesti dalam ra­pat dengan Komisi VI DPR di Jakarta.

Honesti menjelaskan, lonjakan kasus Covid-19 di India, yang merupakan produsen vaksin terbesar dunia, membuat negara itu memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk dalam negeri.

Padahal, suplai vaksin dari fasilitas Covax-GAVI itu dinilai krusial terhadap pasokan vaksin di Indonesia dan mempengaruhi laju kecepatan vaksinasi.

“Kita tidak mau terganggu karena kecepatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah menun­jukkan kenaikan. Tadinya 100 ribu-200 ribu per hari, sekarang menuju 500 ribu vaksinasi per hari,” jelasnya.

Honesti memastikan, rencana pengiriman vaksin Covid-19 Sinovac dari China akan berjalan sesuai target.

Hingga saat ini, Bio Farma telah mengantongi jadwal keda­tangan 140 juta bulk atau bahan baku vaksin Sinovac hingga Juni mendatang.

Rinciannya, pada minggu per­tama, ketiga dan keempat April, masing-masing ada 10 juta bulk yang masuk.

 

“Kami masih menunggu ke­datangan berikutnya. April ini akan ada kedatangan sekitar 30 juta dosis,” ungkapnya.

Lalu pada minggu pertama Mei sebanyak 19,2 juta bulk. Kemudian, Juni, datang sebanyak 40 juta bulk, dengan rincian 20 juta bulk pada minggu kedua dan 20 juta bulk lagi pada minggu keempat.

Menurut Honesti, selain 140 juta bulk yang telah dikontrak, Frama juga dalam proses negosiasi untuk menambah 120 juta dosis bahan baku berikutnya. Sehingga total ada 260 juta dosis bulk yang didatangkan dari Sinovac.

Sebelumnya, sejak Januari hingga Maret 2021 Bio Farma sudah mendatangkan 53,5 juta bulk vaksin Sinovac.

Selain Sinovac, Honesti menye­but akan mendatangkan vaksin racikan Novavax pada kuartal kedua tahun ini atau April-Juni.

Indonesia mendapat 52 juta dosis untuk vaksin Novavax. Pemerintah sedang dalam proses interlink submission ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk vaksin Novavax.

“Karena di beberapa negara juga uji klinis tahap III sedang proses finalisasi dan akan segera mendapat izin pakai dari BPOM setempat,” terangnya.

Sementara, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, sampai 28 Maret, pemerintah memiliki stok 39,1 juta vaksin.

Rinciannya, vaksin Sinovac jadi 3 juta dan bahan baku sebanyak 35 juta. Lalu, ada vaksin AstraZeneca sebanyak 1,1 juta. [DIR]

]]> PT Bio Farma (Persero) meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melakukan diplomasi dengan India agar tidak menunda pengiriman vaksin AstraZeneca dan Novavax. Langkah itu perlu dilakukan untuk menjaga laju program vaksinasi nasional.

Berdasarkan data yang dipa­parkan Dirut Bio Farma Honesti Basyir, Indonesia direncanakan bakal mendapat vaksin bantuan dari Covax/GAVI sebanyak 54 juta dosis. Saat ini, vaksin ban­tuan yang telah tiba baru 1,1 juta dosis buatan AstraZeneca.

Perseroan juga berencana mendatangkan 50 juta dosis vaksin kerja sama business-to-business dengan AstraZeneca. Adapun dari Novavax, perseroan berencana mendatangkan sekitar 50 juta dosis.

“Kami sedang koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk juga bisa melakukan diplomasi. Bagaimana seandainya suplai ke Indonesia yang sudah terjadwal bisa dilakukan sesuai jadwal,” ujar Honesti dalam ra­pat dengan Komisi VI DPR di Jakarta.

Honesti menjelaskan, lonjakan kasus Covid-19 di India, yang merupakan produsen vaksin terbesar dunia, membuat negara itu memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk dalam negeri.

Padahal, suplai vaksin dari fasilitas Covax-GAVI itu dinilai krusial terhadap pasokan vaksin di Indonesia dan mempengaruhi laju kecepatan vaksinasi.

“Kita tidak mau terganggu karena kecepatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah menun­jukkan kenaikan. Tadinya 100 ribu-200 ribu per hari, sekarang menuju 500 ribu vaksinasi per hari,” jelasnya.

Honesti memastikan, rencana pengiriman vaksin Covid-19 Sinovac dari China akan berjalan sesuai target.

Hingga saat ini, Bio Farma telah mengantongi jadwal keda­tangan 140 juta bulk atau bahan baku vaksin Sinovac hingga Juni mendatang.

Rinciannya, pada minggu per­tama, ketiga dan keempat April, masing-masing ada 10 juta bulk yang masuk.

 

“Kami masih menunggu ke­datangan berikutnya. April ini akan ada kedatangan sekitar 30 juta dosis,” ungkapnya.

Lalu pada minggu pertama Mei sebanyak 19,2 juta bulk. Kemudian, Juni, datang sebanyak 40 juta bulk, dengan rincian 20 juta bulk pada minggu kedua dan 20 juta bulk lagi pada minggu keempat.

Menurut Honesti, selain 140 juta bulk yang telah dikontrak, Frama juga dalam proses negosiasi untuk menambah 120 juta dosis bahan baku berikutnya. Sehingga total ada 260 juta dosis bulk yang didatangkan dari Sinovac.

Sebelumnya, sejak Januari hingga Maret 2021 Bio Farma sudah mendatangkan 53,5 juta bulk vaksin Sinovac.

Selain Sinovac, Honesti menye­but akan mendatangkan vaksin racikan Novavax pada kuartal kedua tahun ini atau April-Juni.

Indonesia mendapat 52 juta dosis untuk vaksin Novavax. Pemerintah sedang dalam proses interlink submission ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk vaksin Novavax.

“Karena di beberapa negara juga uji klinis tahap III sedang proses finalisasi dan akan segera mendapat izin pakai dari BPOM setempat,” terangnya.

Sementara, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, sampai 28 Maret, pemerintah memiliki stok 39,1 juta vaksin.

Rinciannya, vaksin Sinovac jadi 3 juta dan bahan baku sebanyak 35 juta. Lalu, ada vaksin AstraZeneca sebanyak 1,1 juta. [DIR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories