Datangi Karawang, Mentan Tinjau Komoditas Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo melakukan kunjungan kerja di  Kabupaten Karawang. Di sana Mentan menyaksikan keunggulan laboratorium uji mutu buah-buahan untuk ekspor dibawah Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT).

Menurutnya, komoditas pertanian yang berorientasi ekspor harus memiliki kualitas standar tinggi yang berlaku di negara tujuan.

“Inilah fungsinya tempat (BBPOPT-red) ini. Memastikan bagaimana produk pertanian kita memiliki standar internasional,” kata Mentan, Kamis (16/12).

Ke depan, konsumsi makanan sehat menurut Mentan akan menjadi tren dan kebutuhan dunia global. Kenyang saja menurutnya, tidak cukup, tapi makanan yang terserap harus sehat.

Oleh karena itu, peningkatan produksi juga harus disertai dengan peningkatan mutu, di antaranya dengan mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan dan menerapkan pola pertanian organik.

“Besok, 50 tahun lagi, penduduk Indonesia diperkirakan di atas 300 juta orang. Sementara lahan di Jawa Barat ini setiap tahun menyusut, nanti anak-cucumu mau dikasih makan apa?. Tiga bulan lagi saya akan ke sini. Apakah hasilnya sesuai dengan penggunaan teknlogi yang dipakai,” tegasnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menyampaikan bahwa pihaknya siap menindaklanjuti dan mewujudkannya di lapangan semua arahan dan perintah Menteri.

“Bahkan tadi dikasih waktu tiga bulan untuk segera terlihat hasilnya yang signifikan, harus menghasilkan yang unggulan dan menjadi percontohan bagi yang lain. Ini akan dipantau terus oleh Menteri,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BBPOPT, Eni Tauruslina Amarullah dalam laporannya menyampaikan bahwa BBPOPT didirikan dilatarbelakangi karena masih rendahnya produksi. 

“Untuk itu, kami menerapkan pengelolaan pertanian modern yang terintegrasi antara lain menerapkan teknologi budidaya tanaman yang dimulai dari hulu, on farm dan sampai hilirisasi kemudian mengintegrasikan teknologi mekanisasi pertanian dalam budidaya tanaman menyangkut perlindungan tanaman,” imbuh Eni.

Seperti diketahui, ekspor pertanian sendiri mengalami peningkatan pada bulan November 2021.  Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat nilainya mencapai 22,84 miliar  dolar AS, atau naik 3,69 persen dibandingkan Oktober 2021. 

BPS dalam laporannya menyebutkan bahwa sektor pertanian tumbuh sebesar 4,18 persen atau 0,43 miliar dolar AS bila dibandingan dengan bulan sebelumnya (M-to-M).  [KAL]

 

]]> Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo melakukan kunjungan kerja di  Kabupaten Karawang. Di sana Mentan menyaksikan keunggulan laboratorium uji mutu buah-buahan untuk ekspor dibawah Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT).

Menurutnya, komoditas pertanian yang berorientasi ekspor harus memiliki kualitas standar tinggi yang berlaku di negara tujuan.

“Inilah fungsinya tempat (BBPOPT-red) ini. Memastikan bagaimana produk pertanian kita memiliki standar internasional,” kata Mentan, Kamis (16/12).

Ke depan, konsumsi makanan sehat menurut Mentan akan menjadi tren dan kebutuhan dunia global. Kenyang saja menurutnya, tidak cukup, tapi makanan yang terserap harus sehat.

Oleh karena itu, peningkatan produksi juga harus disertai dengan peningkatan mutu, di antaranya dengan mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan dan menerapkan pola pertanian organik.

“Besok, 50 tahun lagi, penduduk Indonesia diperkirakan di atas 300 juta orang. Sementara lahan di Jawa Barat ini setiap tahun menyusut, nanti anak-cucumu mau dikasih makan apa?. Tiga bulan lagi saya akan ke sini. Apakah hasilnya sesuai dengan penggunaan teknlogi yang dipakai,” tegasnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menyampaikan bahwa pihaknya siap menindaklanjuti dan mewujudkannya di lapangan semua arahan dan perintah Menteri.

“Bahkan tadi dikasih waktu tiga bulan untuk segera terlihat hasilnya yang signifikan, harus menghasilkan yang unggulan dan menjadi percontohan bagi yang lain. Ini akan dipantau terus oleh Menteri,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BBPOPT, Eni Tauruslina Amarullah dalam laporannya menyampaikan bahwa BBPOPT didirikan dilatarbelakangi karena masih rendahnya produksi. 

“Untuk itu, kami menerapkan pengelolaan pertanian modern yang terintegrasi antara lain menerapkan teknologi budidaya tanaman yang dimulai dari hulu, on farm dan sampai hilirisasi kemudian mengintegrasikan teknologi mekanisasi pertanian dalam budidaya tanaman menyangkut perlindungan tanaman,” imbuh Eni.

Seperti diketahui, ekspor pertanian sendiri mengalami peningkatan pada bulan November 2021.  Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat nilainya mencapai 22,84 miliar  dolar AS, atau naik 3,69 persen dibandingkan Oktober 2021. 

BPS dalam laporannya menyebutkan bahwa sektor pertanian tumbuh sebesar 4,18 persen atau 0,43 miliar dolar AS bila dibandingan dengan bulan sebelumnya (M-to-M).  [KAL]

 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories