Datang Ke Jakarta Jenderal Myanmar Dijewer Jokowi

Kemarin, seluruh pemimpin negara ASEAN kumpul di Jakarta. Mereka membicarakan kekerasan yang terjadi di Myanmar dalam forum yang dinamai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN itu. Pemimpin junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing yang dianggap biang kerok kekerasan di Myanmar, hadir juga dalam pertemuan ini. Dia tetap tampil santuy meski dijewer Presiden Joko Widodo dan yang lainnya.

Jenderal Min Aung mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sekitar pukul 11.00 WIB, menumpang pesawat Myanmar Airways International.

Dia disambut Duta Besar Myanmar untuk Indonesia Ei Ei Khin Aye dan Kepala Protokol Negara (KPN) Andy Rachmianto.

Jenderal Min Aung mengenakan setelan jas hitam dan dalaman kemeja biru muda, disertai masker putih. Turun dari tangga pesawat, dia langsung menyapa orang-orang yang menunggunya.

Kemudian, Jenderal Min Aung dan rombongannya menjalani PCR swab test dan pengecekan kesehatan. Hal itu sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan. Setelah itu, barulah Jenderal Min Aung bergerak meninggalkan Soetta menuju lokasi ASEAN Leaders’ Meeting (ALM) di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan.

Apa pembahasan KTT kali ini? Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan, pertemuan pemimpin ASEAN ini inisiatif dari Indonesia dan merupakan tindak lanjut dari pembicaraan Presiden Jokowi dengan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah. Pertemuan ini ingin mencari solusi terbaik untuk perdamaian rakyat Myanmar.

Dalam sambutannya, Jokowi menyampaikan tiga pesan khusus untuk Jenderal Min Aung. Pertama, harus menghentikan kekerasan dan mengembalikan demokrasi serta perdamaian di Myanmar. Kedua, meminta junta Myanmar melakukan proses dialog inklusif demi melepaskan tahanan politik.

Ketiga, komitmen pembukaan akses bantuan kemanusiaan dari ASEAN yang dikoordinasikan oleh Sekjen ASEAN. “Indonesia berkomitmen untuk mengawal terus tindak lanjut dari komitmen tersebut agar krisis politik di Myanmar dapat segera diatasi,” tegas mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Di samping itu, Jokowi juga mengungkapkan, konsensus tercapai di antara para pemimpin negara anggota ASEAN terkait penghentian kekerasan di Myanmar oleh militer. “Ada lima butir konsesus. Isinya kurang lebih sama dengan yang saya sampaikan (di KTT),” lanjutnya.

Jokowi menyatakan, konsensus akan disampaikan di konferensi pers terpisah oleh Ketua ASEAN, Sultan Hassanal Bolkiah.

Bagaimana respons Jenderal Min Aung setelah “dijewer” Jokowi Cs ini? Sayang, Jenderal Min Aung belum memberikan komentarnya. Namun, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menyatakan, para pemimpin ASEAN telah menyetujui rencana dengan pimpinan junta Myanmar untuk mengakhiri krisis di Myanmar. Kesepakatan termasuk menghentikan kekerasan terhadap pengunjuk rasa dan menerima bantuan kemanusiaan. “Ini di luar dugaan kami,” kata Muhyiddin Yassin kepada wartawan setelah pertemuan KTT ASEAN, seperti dilansir Reuters, kemarin.

Para pemimpin ASEAN menginginkan komitmen dari Jenderal Min Aung untuk menahan pasukan keamanannya, yang menurut pengamat telah menewaskan 745 orang sejak gerakan pembangkangan sipil massal muncul untuk menantang kudeta 1 Februari terhadap Aung San Suu Kyi. Mereka juga menginginkan pembebasan tahanan politik.

 

“Untung dia (Jenderal Min Aung) tidak menolak apa yang saya dan rekan-rekannya ajukan,” kata Muhyiddin.

“Dia (Jenderal Min Aung) mengatakan dia mendengar kami, dia akan mengambil poin-poin yang dia anggap membantu,” tambah Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, menurut televisi Channel NewsAsia.

“Dia tidak menentang peran konstruktif ASEAN, atau kunjungan delegasi ASEAN, atau bantuan kemanusiaan.”

Namun, Lee menambahkan bahwa prosesnya masih panjang, “Karena ada satu hal yang harus dikatakan bahwa Anda akan menghentikan kekerasan dan membebaskan tahanan politik; adalah hal lain untuk menyelesaikannya.”

Jenderal Min Aung  Ditolak Aktivis WNI

Kedatangan Jenderal Min Aung menyulut emosi rakyat Indonesia. Bahkan penolakan itu sudah lama terjadi. Tepatnya, saat pemerintah diketahui mengundang Jenderal Min Aung, untuk hadir di KTT ASEAN. Pasalnya, sudah banyak korban jiwa sejak junta Militer melakukan kudeta.

Tercatat, ada 13 jaringan organisasi masyarakat sipil yang menolak kehadiran Jenderal Min Aung. Yaitu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), FORUM-ASIA, Amnesty International Indonesia, Asia Justice and Rights (AJAR), Milk Tea Alliance Indonesia.

Kemudian, Serikat Pengajar HAM (SEPAHAM), Human Rights Working Group (HRWG), Migrant CARE, Asia Democracy Network (ADN), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Kurawal Foundation, Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP) dan SAFEnet.

Belum lagi yang menyuarakan penolakannya di hari pelaksanaan KTT. Kelompok orang yang mengatasnamakan Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Urban Poor Consortium (UPC) memprotes ASEAN yang telah mengundang junta militer Myanmar.

Dua organisasi tersebut menggelar demonstrasi di dekat lokasi pertemuan di Kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan, kemarin siang. “Kami menuntut kepada ASEAN supaya tidak mengakui junta militer sebagai pemegang kekuasaan,” ungkap Koordinator Advokasi UPC sekaligus koordinator lapangan saat demo, Gugun Muhammad seperti dikutip dari kantor berita Anadolu Agency, kemarin.

Kemudian, datang massa pesepeda yang berangkat dari LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, sekitar pukul 16.10 WIB menuju lokasi yang sama dengan JRMK dan UPC. [UMM]

]]> Kemarin, seluruh pemimpin negara ASEAN kumpul di Jakarta. Mereka membicarakan kekerasan yang terjadi di Myanmar dalam forum yang dinamai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN itu. Pemimpin junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing yang dianggap biang kerok kekerasan di Myanmar, hadir juga dalam pertemuan ini. Dia tetap tampil santuy meski dijewer Presiden Joko Widodo dan yang lainnya.

Jenderal Min Aung mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sekitar pukul 11.00 WIB, menumpang pesawat Myanmar Airways International.

Dia disambut Duta Besar Myanmar untuk Indonesia Ei Ei Khin Aye dan Kepala Protokol Negara (KPN) Andy Rachmianto.

Jenderal Min Aung mengenakan setelan jas hitam dan dalaman kemeja biru muda, disertai masker putih. Turun dari tangga pesawat, dia langsung menyapa orang-orang yang menunggunya.

Kemudian, Jenderal Min Aung dan rombongannya menjalani PCR swab test dan pengecekan kesehatan. Hal itu sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan. Setelah itu, barulah Jenderal Min Aung bergerak meninggalkan Soetta menuju lokasi ASEAN Leaders’ Meeting (ALM) di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan.

Apa pembahasan KTT kali ini? Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan, pertemuan pemimpin ASEAN ini inisiatif dari Indonesia dan merupakan tindak lanjut dari pembicaraan Presiden Jokowi dengan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah. Pertemuan ini ingin mencari solusi terbaik untuk perdamaian rakyat Myanmar.

Dalam sambutannya, Jokowi menyampaikan tiga pesan khusus untuk Jenderal Min Aung. Pertama, harus menghentikan kekerasan dan mengembalikan demokrasi serta perdamaian di Myanmar. Kedua, meminta junta Myanmar melakukan proses dialog inklusif demi melepaskan tahanan politik.

Ketiga, komitmen pembukaan akses bantuan kemanusiaan dari ASEAN yang dikoordinasikan oleh Sekjen ASEAN. “Indonesia berkomitmen untuk mengawal terus tindak lanjut dari komitmen tersebut agar krisis politik di Myanmar dapat segera diatasi,” tegas mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Di samping itu, Jokowi juga mengungkapkan, konsensus tercapai di antara para pemimpin negara anggota ASEAN terkait penghentian kekerasan di Myanmar oleh militer. “Ada lima butir konsesus. Isinya kurang lebih sama dengan yang saya sampaikan (di KTT),” lanjutnya.

Jokowi menyatakan, konsensus akan disampaikan di konferensi pers terpisah oleh Ketua ASEAN, Sultan Hassanal Bolkiah.

Bagaimana respons Jenderal Min Aung setelah “dijewer” Jokowi Cs ini? Sayang, Jenderal Min Aung belum memberikan komentarnya. Namun, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menyatakan, para pemimpin ASEAN telah menyetujui rencana dengan pimpinan junta Myanmar untuk mengakhiri krisis di Myanmar. Kesepakatan termasuk menghentikan kekerasan terhadap pengunjuk rasa dan menerima bantuan kemanusiaan. “Ini di luar dugaan kami,” kata Muhyiddin Yassin kepada wartawan setelah pertemuan KTT ASEAN, seperti dilansir Reuters, kemarin.

Para pemimpin ASEAN menginginkan komitmen dari Jenderal Min Aung untuk menahan pasukan keamanannya, yang menurut pengamat telah menewaskan 745 orang sejak gerakan pembangkangan sipil massal muncul untuk menantang kudeta 1 Februari terhadap Aung San Suu Kyi. Mereka juga menginginkan pembebasan tahanan politik.

 

“Untung dia (Jenderal Min Aung) tidak menolak apa yang saya dan rekan-rekannya ajukan,” kata Muhyiddin.

“Dia (Jenderal Min Aung) mengatakan dia mendengar kami, dia akan mengambil poin-poin yang dia anggap membantu,” tambah Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, menurut televisi Channel NewsAsia.

“Dia tidak menentang peran konstruktif ASEAN, atau kunjungan delegasi ASEAN, atau bantuan kemanusiaan.”

Namun, Lee menambahkan bahwa prosesnya masih panjang, “Karena ada satu hal yang harus dikatakan bahwa Anda akan menghentikan kekerasan dan membebaskan tahanan politik; adalah hal lain untuk menyelesaikannya.”

Jenderal Min Aung  Ditolak Aktivis WNI

Kedatangan Jenderal Min Aung menyulut emosi rakyat Indonesia. Bahkan penolakan itu sudah lama terjadi. Tepatnya, saat pemerintah diketahui mengundang Jenderal Min Aung, untuk hadir di KTT ASEAN. Pasalnya, sudah banyak korban jiwa sejak junta Militer melakukan kudeta.

Tercatat, ada 13 jaringan organisasi masyarakat sipil yang menolak kehadiran Jenderal Min Aung. Yaitu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), FORUM-ASIA, Amnesty International Indonesia, Asia Justice and Rights (AJAR), Milk Tea Alliance Indonesia.

Kemudian, Serikat Pengajar HAM (SEPAHAM), Human Rights Working Group (HRWG), Migrant CARE, Asia Democracy Network (ADN), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Kurawal Foundation, Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP) dan SAFEnet.

Belum lagi yang menyuarakan penolakannya di hari pelaksanaan KTT. Kelompok orang yang mengatasnamakan Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Urban Poor Consortium (UPC) memprotes ASEAN yang telah mengundang junta militer Myanmar.

Dua organisasi tersebut menggelar demonstrasi di dekat lokasi pertemuan di Kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan, kemarin siang. “Kami menuntut kepada ASEAN supaya tidak mengakui junta militer sebagai pemegang kekuasaan,” ungkap Koordinator Advokasi UPC sekaligus koordinator lapangan saat demo, Gugun Muhammad seperti dikutip dari kantor berita Anadolu Agency, kemarin.

Kemudian, datang massa pesepeda yang berangkat dari LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, sekitar pukul 16.10 WIB menuju lokasi yang sama dengan JRMK dan UPC. [UMM]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories