Data Layanan Rusak, Ongkos Logistik Terancam Membengkak

Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mengeluhkan ratusan dokumen importasi tidak bisa terproses karena gangguan Sistem Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kerusakan ini sudah terjadi sejak Kamis pekan lalu sampai dengan saat ini dan belum kembali normal.

Ketua Bidang Logistik dan Perhubungan BPP GINSI Erwin Taufan mengatakan, sudah lima hari sistem CEISA mengalami trouble dan berimbas pada layanan ekspor impor secara nasional. Baik yang melalui pelabuhan maupun bandar udara.

Menurutnya, kondisi ini jika dibiarkan terus menerus akan menyebabkan biaya logistik nasional membengkak.

“Banyak pengaduan dan laporan perusahaan importir anggota GINSI karena kegiatan importasinya tidak bisa terproses dan tersendat akibat CEISA yang sistemnya mengalami gangguan,” katanya di Jakarta, Senin (12/7).

Untuk diketahui, CEISA merupakan sistem informasi kepabeanan dan cukai yang merupakan program khusus milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang di ralamnya terdiri dari berbagai aplikasi digunakan untuk proses administrasi, pelayanan, dan pengawasan.

Taufan mendesak Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu dapat segera menyelesaikan masalah itu. Apalagi kejadian seperti ini juga seringkali terulang.

Saat ini, kata Erwin, untuk yang ekspor sudah mulai bisa dilayani dokumennya secara manual. Tapi, yang untuk impor belum bisa.

Planning perusahaan importir jadi berantakan. Ini jelas sangat merugikan para importir. Kerugiannya bisa mencapai ratusan milliar karena barang terlambat keluar dan harus terkena beban biaya tambahan berupa storage, demurage dan lainnya di pelabuhan,” ujarnya.

Taufan menegaskan, sebelum melakukan upgrade sistem CEISA ke model terbaru 4.0, seharusnya dapat disiapkan terlebih dahulu backup sistemnya, sehingga saat terjadi trouble tidak mengganggu pada seluruh proses bisnis ekspor impor.

“Apalagi sistem itu terkoneksi dengan sistem layanan ekspor impor di instansi terkait lainnya. Harusnya kalau belum siap untuk upgrade sistem CEISA itu janganlah dipaksakan,” jelasnya.

Ia menuturkan, gangguan pada sistem CIESA menyebabkan layanan kepabeanan seperti pengajuan dokumen impor barang (PIB), billing, pengurusan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB), nota pelayanan ekspor (NPE) secara online tidak bisa terproses.

“Kalau dilayani manual dan harus datang ke loket itu kan sama halnya menciptakan kerumunan. Padahal sekarang ini masih diberlakukan PPKM,” tegasnya.

Berdasarkan informasi dari CEISA Command Center, menyebutkan, sehubungan dengan masih berjalannya proses pemindahan data dari DC ke DRC yang masih memerlukan waktu lebih lama, aplikasi belum dapat diakses hingga proses pemindahan data tersebut selesai. Adapun estimasi waktu dapat diaksesnya kembali aplikasi diperkirakan pada hari Selasa (13/7) dini hari. [KPJ]

]]> Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mengeluhkan ratusan dokumen importasi tidak bisa terproses karena gangguan Sistem Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kerusakan ini sudah terjadi sejak Kamis pekan lalu sampai dengan saat ini dan belum kembali normal.

Ketua Bidang Logistik dan Perhubungan BPP GINSI Erwin Taufan mengatakan, sudah lima hari sistem CEISA mengalami trouble dan berimbas pada layanan ekspor impor secara nasional. Baik yang melalui pelabuhan maupun bandar udara.

Menurutnya, kondisi ini jika dibiarkan terus menerus akan menyebabkan biaya logistik nasional membengkak.

“Banyak pengaduan dan laporan perusahaan importir anggota GINSI karena kegiatan importasinya tidak bisa terproses dan tersendat akibat CEISA yang sistemnya mengalami gangguan,” katanya di Jakarta, Senin (12/7).

Untuk diketahui, CEISA merupakan sistem informasi kepabeanan dan cukai yang merupakan program khusus milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang di ralamnya terdiri dari berbagai aplikasi digunakan untuk proses administrasi, pelayanan, dan pengawasan.

Taufan mendesak Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu dapat segera menyelesaikan masalah itu. Apalagi kejadian seperti ini juga seringkali terulang.

Saat ini, kata Erwin, untuk yang ekspor sudah mulai bisa dilayani dokumennya secara manual. Tapi, yang untuk impor belum bisa.

“Planning perusahaan importir jadi berantakan. Ini jelas sangat merugikan para importir. Kerugiannya bisa mencapai ratusan milliar karena barang terlambat keluar dan harus terkena beban biaya tambahan berupa storage, demurage dan lainnya di pelabuhan,” ujarnya.

Taufan menegaskan, sebelum melakukan upgrade sistem CEISA ke model terbaru 4.0, seharusnya dapat disiapkan terlebih dahulu backup sistemnya, sehingga saat terjadi trouble tidak mengganggu pada seluruh proses bisnis ekspor impor.

“Apalagi sistem itu terkoneksi dengan sistem layanan ekspor impor di instansi terkait lainnya. Harusnya kalau belum siap untuk upgrade sistem CEISA itu janganlah dipaksakan,” jelasnya.

Ia menuturkan, gangguan pada sistem CIESA menyebabkan layanan kepabeanan seperti pengajuan dokumen impor barang (PIB), billing, pengurusan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB), nota pelayanan ekspor (NPE) secara online tidak bisa terproses.

“Kalau dilayani manual dan harus datang ke loket itu kan sama halnya menciptakan kerumunan. Padahal sekarang ini masih diberlakukan PPKM,” tegasnya.

Berdasarkan informasi dari CEISA Command Center, menyebutkan, sehubungan dengan masih berjalannya proses pemindahan data dari DC ke DRC yang masih memerlukan waktu lebih lama, aplikasi belum dapat diakses hingga proses pemindahan data tersebut selesai. Adapun estimasi waktu dapat diaksesnya kembali aplikasi diperkirakan pada hari Selasa (13/7) dini hari. [KPJ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories