Crazy Rich Dimiskinkan, Koruptor Kok Masih Rich

Hari-hari ini, lagi rame berita dua crazy rich: Indra Kenz dan Doni Salmanan, yang dijadikan tersangka kasus penipuan investasi. Setelah mendekam di penjara, konglomerat dadakan itu, terus dimiskinkan. Seluruh asetnya disita, seluruh rekeningnya diblokir, seluruh aliran uangnya diusut. Banyak yang mendukung langkah Polisi mengusut dua “sultan” ini, tapi ada juga yang nyindir: kok para koruptor nggak dimiskinkan seperti ini ya? Kok para koruptor tetap dibiarkan kaya (rich) ya…

Setelah disangkakan melanggar UU ITE dan Pencucian Uang, Indra dan Doni hanya bisa tertunduk lesu saat semua hartanya yang bernilai miliaran rupiah itu, disita Polisi.

Polisi telah menyita aset Indra Kenz senilai Rp 43,5 miliar dari total Rp 57,2 miliar. Aset-aset tersebut terdiri dari empat unit mobil mewah, empat unit rumah, dan satu apartemen. Sisanya, seperti sembilan rekening bank atas nama Indra, lima unit kendaraan mewah, dua jam tangan, sejumlah perusahaan, serta satu akun Indra Kenz akan diblokir dan juga disita.

Sementara aset Doni Salmanan yang disita Polisi tembus Rp 64 miliar. Aset tersebut antara lain uang tunai Rp 3,3 miliar, rumah di Chandra Asri, Kota Bandung, rumah di Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, tanah seluas 500 meter persegi di Chandra Asri, tanah seluas 400 meter persegi di Kota Baru Parahyangan. Lalu, mobil Porsche 911 Carrera 4s, mobil Lamborghini Huracan, mobil BMW M4, sebelas baju bermerk mewah seperti Off-White, Bepe, Balenciaga, celana bermerk mewah, topi bermerk mewah, tas bermerk mewah, hingga 20 buku terkait trading.

Warganet pun mengapresiasi langkah tegas Polisi ini. Mereka meminta aparat penegak hukum juga tegas kepada para koruptor dengan memiskinkannya.

“Senang dengar kabar Crazy Rich yang menipu publik pakai trading ditangkap. Cepat banget dipenjara dan dimiskinkan. Menunggu hal sama dilakukan ke koruptor. Cepat dipenjara, dimiskinkan, dipermalukan. Biar nggak liat lagi mereka dadah-dadah pede ke kamera, padahal nyedot darah rakyat,” tulis @iimfahima.

“Perlu lah para koruptor itu dimiskinkan. Masa hanya Indra Kenz & Doni Salmanan saja, ya harus sampai ke kasus korupsi juga,” cecar @SonyTriYantoH1.

@Leonita_Lesatari menunggu ketegasan KPK menindak koruptor. “Aset-aset Crazy Rich tersangka penipu sudah mulai ditarik (potensinya bakal dimiskinkan) dan ancaman hukuman 20 tahun. Kapan giliran yang sama untuk koruptor perampok uang negara?” tanyanya.

 

Menurut @erikaaaanjim, Doni salmanan ngambil duit rakyat elit, koruptor ngambil duit rakyat jelata kayak gue, tapi nggak pernah tuh gembar-gembor di media “koruptor di miskinkan”. “malah dengernya sel koruptor kayak hotel,” kesalnya. “Masih menjadi misteri. Ada yang bisa bantu jawab?” cuit @kemalpalevi.

Bagaimana tanggapan pengamat soal beda nasib dua crazy rich dan koruptor ini? Pengamat Hukum dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mendukung, saran netizen agar KPK meniru gaya kepolisian. Jangan ada perlakuan berbeda terhadap tersangka maling duit rakyat.

“Perlakuan pada pihak yang melanggar hukum seharusnya standar saja, tidak dibedakan. Masa yang satu dimiskinkan, tapi yang satu lagi tetap kaya. Toh, menindak kejahatan itu tujuannya agar menimbulkan efek jera,” tukas Fickar.

Mantan Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif mengatakan, perampasan aset kekayaan pelaku korupsi menjadi salah satu prioritas dalam kelompok kerjanya untuk dibawa ke dalam forum G20. Sejauh ini, kata dia, upaya pemberantasan korupsi tanpa perampasan aset belum dapat memberikan efek jera kepada para koruptor.

Terkait dengan perampasan aset, Syarif mengatakan, Indonesia dan negara-negara anggota G20 masih memiliki beragam hambatan untuk mengimplementasikan tindakan tersebut. “Hukum tentang perampasan aset belum lengkap. Ini menyebabkan aparat penegak hukum tidak dapat merampas aset-aset tersebut,” katanya.

Lalu, dalam skala lintas negara saat koruptor menyimpan asetnya di negara lain, perampasan aset masih kerap menghadapi sejumlah hambatan, meskipun ada beberapa kerja sama yang lahir dari antarorganisasi lintas negara.

Ia mengungkapkan, hambatan dari perampasan aset adalah landasan hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, ia menilai hukum kerahasiaan bank juga menyulitkan aparat penegak hukum untuk merampas aset koruptor.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD menekankan bahwa pemulihan aset hasil tindak pidana korupsi perlu dioptimalkan. Sebab, menurut Mahfud, sebagian besar koruptor cenderung lebih takut dimiskinkan daripada dihukum dengan kurungan penjara. [UMM]

]]> Hari-hari ini, lagi rame berita dua crazy rich: Indra Kenz dan Doni Salmanan, yang dijadikan tersangka kasus penipuan investasi. Setelah mendekam di penjara, konglomerat dadakan itu, terus dimiskinkan. Seluruh asetnya disita, seluruh rekeningnya diblokir, seluruh aliran uangnya diusut. Banyak yang mendukung langkah Polisi mengusut dua “sultan” ini, tapi ada juga yang nyindir: kok para koruptor nggak dimiskinkan seperti ini ya? Kok para koruptor tetap dibiarkan kaya (rich) ya…

Setelah disangkakan melanggar UU ITE dan Pencucian Uang, Indra dan Doni hanya bisa tertunduk lesu saat semua hartanya yang bernilai miliaran rupiah itu, disita Polisi.

Polisi telah menyita aset Indra Kenz senilai Rp 43,5 miliar dari total Rp 57,2 miliar. Aset-aset tersebut terdiri dari empat unit mobil mewah, empat unit rumah, dan satu apartemen. Sisanya, seperti sembilan rekening bank atas nama Indra, lima unit kendaraan mewah, dua jam tangan, sejumlah perusahaan, serta satu akun Indra Kenz akan diblokir dan juga disita.

Sementara aset Doni Salmanan yang disita Polisi tembus Rp 64 miliar. Aset tersebut antara lain uang tunai Rp 3,3 miliar, rumah di Chandra Asri, Kota Bandung, rumah di Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, tanah seluas 500 meter persegi di Chandra Asri, tanah seluas 400 meter persegi di Kota Baru Parahyangan. Lalu, mobil Porsche 911 Carrera 4s, mobil Lamborghini Huracan, mobil BMW M4, sebelas baju bermerk mewah seperti Off-White, Bepe, Balenciaga, celana bermerk mewah, topi bermerk mewah, tas bermerk mewah, hingga 20 buku terkait trading.

Warganet pun mengapresiasi langkah tegas Polisi ini. Mereka meminta aparat penegak hukum juga tegas kepada para koruptor dengan memiskinkannya.

“Senang dengar kabar Crazy Rich yang menipu publik pakai trading ditangkap. Cepat banget dipenjara dan dimiskinkan. Menunggu hal sama dilakukan ke koruptor. Cepat dipenjara, dimiskinkan, dipermalukan. Biar nggak liat lagi mereka dadah-dadah pede ke kamera, padahal nyedot darah rakyat,” tulis @iimfahima.

“Perlu lah para koruptor itu dimiskinkan. Masa hanya Indra Kenz & Doni Salmanan saja, ya harus sampai ke kasus korupsi juga,” cecar @SonyTriYantoH1.

@Leonita_Lesatari menunggu ketegasan KPK menindak koruptor. “Aset-aset Crazy Rich tersangka penipu sudah mulai ditarik (potensinya bakal dimiskinkan) dan ancaman hukuman 20 tahun. Kapan giliran yang sama untuk koruptor perampok uang negara?” tanyanya.

 

Menurut @erikaaaanjim, Doni salmanan ngambil duit rakyat elit, koruptor ngambil duit rakyat jelata kayak gue, tapi nggak pernah tuh gembar-gembor di media “koruptor di miskinkan”. “malah dengernya sel koruptor kayak hotel,” kesalnya. “Masih menjadi misteri. Ada yang bisa bantu jawab?” cuit @kemalpalevi.

Bagaimana tanggapan pengamat soal beda nasib dua crazy rich dan koruptor ini? Pengamat Hukum dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mendukung, saran netizen agar KPK meniru gaya kepolisian. Jangan ada perlakuan berbeda terhadap tersangka maling duit rakyat.

“Perlakuan pada pihak yang melanggar hukum seharusnya standar saja, tidak dibedakan. Masa yang satu dimiskinkan, tapi yang satu lagi tetap kaya. Toh, menindak kejahatan itu tujuannya agar menimbulkan efek jera,” tukas Fickar.

Mantan Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif mengatakan, perampasan aset kekayaan pelaku korupsi menjadi salah satu prioritas dalam kelompok kerjanya untuk dibawa ke dalam forum G20. Sejauh ini, kata dia, upaya pemberantasan korupsi tanpa perampasan aset belum dapat memberikan efek jera kepada para koruptor.

Terkait dengan perampasan aset, Syarif mengatakan, Indonesia dan negara-negara anggota G20 masih memiliki beragam hambatan untuk mengimplementasikan tindakan tersebut. “Hukum tentang perampasan aset belum lengkap. Ini menyebabkan aparat penegak hukum tidak dapat merampas aset-aset tersebut,” katanya.

Lalu, dalam skala lintas negara saat koruptor menyimpan asetnya di negara lain, perampasan aset masih kerap menghadapi sejumlah hambatan, meskipun ada beberapa kerja sama yang lahir dari antarorganisasi lintas negara.

Ia mengungkapkan, hambatan dari perampasan aset adalah landasan hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, ia menilai hukum kerahasiaan bank juga menyulitkan aparat penegak hukum untuk merampas aset koruptor.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD menekankan bahwa pemulihan aset hasil tindak pidana korupsi perlu dioptimalkan. Sebab, menurut Mahfud, sebagian besar koruptor cenderung lebih takut dimiskinkan daripada dihukum dengan kurungan penjara. [UMM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories