Covid-19 Belum Kelar Disiplin Prokes Warga Ibu Kota Kok Kendor Nih .

Penurunan kasus Covid-19 di Jakarta, diikuti penurunan disiplin mener­apkan protokol kesehatan warganya. Padahal, virus Corona masih ada.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny B. Harmadi mengungkapkan, pe­kan sebelumnya, tingkat kepatuhan warga DKI ter­hadap protokol kesehatan mencapai 85 persen. Namun pekan ini, menurun menjadi 80-81 persen. “Ada penu­runan sedikit,” ujarnya, di Jakarta, kemarin.

Sonny mengingatkan, meski terjadi penurunan kasus penularan harian Covid-19, tapi itu bukan pertanda virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China itu sudah enyah. Ibu Kota yang menjadi salah satu wilayah penyumbang Covid-19 terbesar, mes­tinya bisa meningkatkan disiplin protokol kesehatan untuk menekan virus.

Selain mengimbau masyarakat, dia juga meminta para petugas untuk menin­daklanjuti penurunan ke­patuhan tersebut. Soalnya, bukan tidak mungkin, tingkat kedisiplinan ini bakal kian merosot. “Kami ingatkan Satgas Daerah, Dinkes, BPBD agar bisa memperhatikan perubahan perilaku di masyarakat,” imbau Sonny.

Dia mengatakan, penu­runan kasus selama ini, merupakan hasil kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Jika dilihat secara nasional, dari jumlah tes Covid-19 sudah cukup bagus, dengan capaian 1 persen penduduk dalam 1 minggu.

Selain itu, positivity rate juga turun dari 25-27 pers­en menjadi 11-14 persen. Kasus aktif juga turun. Dari 176 ribu pada Februari lalu, menjadi 108 ribu pada pe­kan ini. Tapi dia mengingat­kan, Indonesia masih dalam pandemi. Apalagi di tengah dunia yang sedang menga­lami gelombang ketiga.

“Ini menunjukkan, set­elah kinerja membaik dan mengalami puncak gelom­bang baru, tidak ada negara yang mampu mengendali­kan virus ini sepenuhnya. Kita harus hati-hati, jangan sampai kendor dan lengah,” tegas Sonny.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengungkap­kan, dalam dua pekan tera­khir kasus harian di Ibu Kota mulai kembali naik. Dikhawatirkan, angkanya terus bergerak naik, jika masyarakat tidak segera meningkatkan kepatuhan terhadap penerapan pro­tokol kesehatan.

“Kasus harian kita seka­rang naik 200-an per hari, ini khawatir angkanya bergerak terus,” ungkap Widyastuti.

Dinkes DKI Jakarta berupaya mempertahankan penurunan kasus dengan memastikan testing dan tracing tetap tinggi. Dalam sepekan sudah dilakukan tes lebih dari 68 ribu. Jumlah tes itu, juga mengalami penurunan. “Kita pernah testing sampai 90.000 dan kapasitas laboratorium kita mampu lebih dari 100.000,” bebernya.

Widyastuti berpesan agar warga tetap berhati-hati. Jangan mudah senang dan puas ketika mendapat hasil tes negatif. Hal ini bisa membuat siapa saja lengah dan menjadi tertular, atau malah menularkan. [JAR]

]]> .
Penurunan kasus Covid-19 di Jakarta, diikuti penurunan disiplin mener­apkan protokol kesehatan warganya. Padahal, virus Corona masih ada.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny B. Harmadi mengungkapkan, pe­kan sebelumnya, tingkat kepatuhan warga DKI ter­hadap protokol kesehatan mencapai 85 persen. Namun pekan ini, menurun menjadi 80-81 persen. “Ada penu­runan sedikit,” ujarnya, di Jakarta, kemarin.

Sonny mengingatkan, meski terjadi penurunan kasus penularan harian Covid-19, tapi itu bukan pertanda virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China itu sudah enyah. Ibu Kota yang menjadi salah satu wilayah penyumbang Covid-19 terbesar, mes­tinya bisa meningkatkan disiplin protokol kesehatan untuk menekan virus.

Selain mengimbau masyarakat, dia juga meminta para petugas untuk menin­daklanjuti penurunan ke­patuhan tersebut. Soalnya, bukan tidak mungkin, tingkat kedisiplinan ini bakal kian merosot. “Kami ingatkan Satgas Daerah, Dinkes, BPBD agar bisa memperhatikan perubahan perilaku di masyarakat,” imbau Sonny.

Dia mengatakan, penu­runan kasus selama ini, merupakan hasil kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Jika dilihat secara nasional, dari jumlah tes Covid-19 sudah cukup bagus, dengan capaian 1 persen penduduk dalam 1 minggu.

Selain itu, positivity rate juga turun dari 25-27 pers­en menjadi 11-14 persen. Kasus aktif juga turun. Dari 176 ribu pada Februari lalu, menjadi 108 ribu pada pe­kan ini. Tapi dia mengingat­kan, Indonesia masih dalam pandemi. Apalagi di tengah dunia yang sedang menga­lami gelombang ketiga.

“Ini menunjukkan, set­elah kinerja membaik dan mengalami puncak gelom­bang baru, tidak ada negara yang mampu mengendali­kan virus ini sepenuhnya. Kita harus hati-hati, jangan sampai kendor dan lengah,” tegas Sonny.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengungkap­kan, dalam dua pekan tera­khir kasus harian di Ibu Kota mulai kembali naik. Dikhawatirkan, angkanya terus bergerak naik, jika masyarakat tidak segera meningkatkan kepatuhan terhadap penerapan pro­tokol kesehatan.

“Kasus harian kita seka­rang naik 200-an per hari, ini khawatir angkanya bergerak terus,” ungkap Widyastuti.

Dinkes DKI Jakarta berupaya mempertahankan penurunan kasus dengan memastikan testing dan tracing tetap tinggi. Dalam sepekan sudah dilakukan tes lebih dari 68 ribu. Jumlah tes itu, juga mengalami penurunan. “Kita pernah testing sampai 90.000 dan kapasitas laboratorium kita mampu lebih dari 100.000,” bebernya.

Widyastuti berpesan agar warga tetap berhati-hati. Jangan mudah senang dan puas ketika mendapat hasil tes negatif. Hal ini bisa membuat siapa saja lengah dan menjadi tertular, atau malah menularkan. [JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories