Corona Saudi Juga Sudah Jinak Alhamdulillah, Di Mekkah Salat Tidak Berjarak Lagi

Seperti di Indonesia, Pemerintah Arab Saudi mulai melonggarkan sejumlah aturan setelah kasus Corona makin terkendali. Salah satunya, mencabut larangan Salat berjarak, di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dengan keputusan tersebut, salat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sudah bisa merapatkan saf dan terisi dengan kapasitas penuh. Alhamdulillah.

Keputusan tersebut disampaikan Kementerian Dalam Negeri Saudi seperti dilaporkan kantor berita resmi Saudi, Saudi Press Agency (SPA), kemarin. Hanya saja, kebijakan tersebut ditujukan kepada jemaah yang telah menerima dua dosis vaksin Covid-19, sambil mengenakan masker dan menggunakan aplikasi pelacakan Umroh.

Kementerian juga akan mencabut peraturan jarak sosial di tempat-tempat umum, transportasi, restoran, dan bioskop. Berbagai pertemuan telepon seperti resepsi pernikahan pun akan diizinkan kembali dengan kapasitas penuh.

“Pemakaian masker di ruang terbuka tidak lagi wajib untuk orang yang telah divaksinasi penuh. Namun, anggota masyarakat tetap harus memakai masker di ruang tertutup dan area yang tidak dipantau oleh aplikasi pelacakan Tawakkalna,” tulis keterangan Kementerian Dalam Negeri.

Kementerian mengatakan, aturan itu dapat berubah tergantung pada perkembangan pandemi. Saat ini, kasus Corona Saudi memang sudah terjun drastis. Tingkat vaksinasi pun telah meningkat setelah pemberlakuan wajib vaksin untuk memasuki tempat-tempat tertentu. Sekitar 67 persen populasi Saudi telah mendapat dua dosis vaksin Covid-19.

Lalu bagaimana perkembangan umroh jemaah asal Indonesia? Awal pekan lalu, Saudi sudah memberikan lampu hijau bagi umat Islam Indonesia untuk berangkat ke Tanah Suci. Kabar tersebut disampaikan Saudi melalui Nota Diplomatik yang dikirimkan ke Kementerian Luar Negeri.

Namun, kapan pastinya calon jemaah umroh bisa berangkat, masih menunggu persiapan Saudi. Saat ini, teknis pelaksanaan umroh masih dibahas oleh tiga kementerian yaitu, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, dan Kementerian Kesehatan.

 

Pertengahan pekan lalu, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengaku tengah melobi kerajaan Saudi agar calon jemaah umroh Indonesia yang telah disuntik dua dosis vaksin Sinovac dan Sinopharm, bisa jadi persyaratan umroh. Negosiasi itu menyusul pemerintahan Raja Salman yang mengharuskan WNI penerima vaksin Sinovac dan Sinopharm menerima suntikan booster sebelum berangkat umroh. Saudi memang hanya menetapkan empat jenis vaksin sebagai syarat sah bepergian ke negara kerajaan tersebut.

“Jangan sampai vaksin itu keluar dari koridor kesehatan, apalagi koridor politik,” kata Budi.

Eks Dirut Bank Mandiri itu mengatakan, fenomena itu tidak boleh terus berlanjut lantaran kondisi ketersediaan vaksin Covid-19 di dunia masih sangat terbatas. Dia mengatakan, masih banyak negara lain yang bahkan capaian vaksinasinya di bawah 10 persen. “Jadi, selama vaksin itu sudah disetujui oleh WHO, harusnya kan boleh,” imbuhnya.

Sampai mana hasil lobi tersebut? Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengaku belum mendapat kabar terbaru. Namun, kata dia, pihaknya membuka kemungkinan pemberian vaksinasi dosis tiga vaksin Covid-19 untuk calon jemaah haji umroh Indonesia.

Nadia menyampaikan, saat ini baik Kemenkes dan Kemenag masih membahas pengaturan teknis terkait kemungkinan vaksinasi Covid-19 dosis tiga dan proses karantina setibanya tiba di bandara di Arab Saudi, dan sepulangnya kembali ke Indonesia. [BCG]

]]> Seperti di Indonesia, Pemerintah Arab Saudi mulai melonggarkan sejumlah aturan setelah kasus Corona makin terkendali. Salah satunya, mencabut larangan Salat berjarak, di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dengan keputusan tersebut, salat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sudah bisa merapatkan saf dan terisi dengan kapasitas penuh. Alhamdulillah.

Keputusan tersebut disampaikan Kementerian Dalam Negeri Saudi seperti dilaporkan kantor berita resmi Saudi, Saudi Press Agency (SPA), kemarin. Hanya saja, kebijakan tersebut ditujukan kepada jemaah yang telah menerima dua dosis vaksin Covid-19, sambil mengenakan masker dan menggunakan aplikasi pelacakan Umroh.

Kementerian juga akan mencabut peraturan jarak sosial di tempat-tempat umum, transportasi, restoran, dan bioskop. Berbagai pertemuan telepon seperti resepsi pernikahan pun akan diizinkan kembali dengan kapasitas penuh.

“Pemakaian masker di ruang terbuka tidak lagi wajib untuk orang yang telah divaksinasi penuh. Namun, anggota masyarakat tetap harus memakai masker di ruang tertutup dan area yang tidak dipantau oleh aplikasi pelacakan Tawakkalna,” tulis keterangan Kementerian Dalam Negeri.

Kementerian mengatakan, aturan itu dapat berubah tergantung pada perkembangan pandemi. Saat ini, kasus Corona Saudi memang sudah terjun drastis. Tingkat vaksinasi pun telah meningkat setelah pemberlakuan wajib vaksin untuk memasuki tempat-tempat tertentu. Sekitar 67 persen populasi Saudi telah mendapat dua dosis vaksin Covid-19.

Lalu bagaimana perkembangan umroh jemaah asal Indonesia? Awal pekan lalu, Saudi sudah memberikan lampu hijau bagi umat Islam Indonesia untuk berangkat ke Tanah Suci. Kabar tersebut disampaikan Saudi melalui Nota Diplomatik yang dikirimkan ke Kementerian Luar Negeri.

Namun, kapan pastinya calon jemaah umroh bisa berangkat, masih menunggu persiapan Saudi. Saat ini, teknis pelaksanaan umroh masih dibahas oleh tiga kementerian yaitu, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, dan Kementerian Kesehatan.

 

Pertengahan pekan lalu, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengaku tengah melobi kerajaan Saudi agar calon jemaah umroh Indonesia yang telah disuntik dua dosis vaksin Sinovac dan Sinopharm, bisa jadi persyaratan umroh. Negosiasi itu menyusul pemerintahan Raja Salman yang mengharuskan WNI penerima vaksin Sinovac dan Sinopharm menerima suntikan booster sebelum berangkat umroh. Saudi memang hanya menetapkan empat jenis vaksin sebagai syarat sah bepergian ke negara kerajaan tersebut.

“Jangan sampai vaksin itu keluar dari koridor kesehatan, apalagi koridor politik,” kata Budi.

Eks Dirut Bank Mandiri itu mengatakan, fenomena itu tidak boleh terus berlanjut lantaran kondisi ketersediaan vaksin Covid-19 di dunia masih sangat terbatas. Dia mengatakan, masih banyak negara lain yang bahkan capaian vaksinasinya di bawah 10 persen. “Jadi, selama vaksin itu sudah disetujui oleh WHO, harusnya kan boleh,” imbuhnya.

Sampai mana hasil lobi tersebut? Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengaku belum mendapat kabar terbaru. Namun, kata dia, pihaknya membuka kemungkinan pemberian vaksinasi dosis tiga vaksin Covid-19 untuk calon jemaah haji umroh Indonesia.

Nadia menyampaikan, saat ini baik Kemenkes dan Kemenag masih membahas pengaturan teknis terkait kemungkinan vaksinasi Covid-19 dosis tiga dan proses karantina setibanya tiba di bandara di Arab Saudi, dan sepulangnya kembali ke Indonesia. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories