Cetak Pelajar Pancasila, Kemendikbud Harus Geber Sosialisasi

Anggota Komisi X DPR, Andreas Hugo Pareira menyarankan, kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim agar gencar mensosialisasikan Program Sekolah Penggerak. Dengan begitu, keinginan Nadiem mencetak Pelajar Pancasila bisa berjalan mulus. 

Awal Februari lalu, Nadiem meluncurkan Program Sekolah Penggerak. Tujuan program ialah menghasilkan Pelajar Pancasila. Sejak diluncurkan, sejumlah sekolah mulai mendaftar mengikuti. 

Anggota Komisi X DPR, Andreas Hugo Pareira memaklumi, kalau belum banyak sekolah yang mengikuti program tersebut. Kata dia, dari hasil rapat dengan Kemendikbud baru-baru ini, ada banyak sekolah dan kepala daerah yang tidak mengetahui detail program tersebut. Akibatnya, banyak kepala daerah tidak mengikuti program tersebut. 

Menurut dia, banyak sekolah tidak mengikuti karena tidak memahami kriteria atau syarat yang diperlukan mengikuti program tersebut. Karena itu, ini pekerjaan rumah bagi Mas Menteri agar memassifkan sosialisasi.

“Kementerian harus gencar melakukan sosialisasi. Bagaimana kriteria sekolah yang diperlukan, dan sebagainya. Sehingga sekolah mengetahui dan memahami betul bagaimana prosedur dan mekanisme dan apa konsekuensinya ketika mendaftar,” kata Andreas, saat berbincang dengan wartawan Selasa (30/3). 

Dengan sosialisasi yang massif, sekolah dan pemerintah daerah lebih paham mengenai konsekuensi program tersebut. Dia yakin, jika sudah paham program ini akan banyak diikuti. Karena tujuan akhir program tersebut adalah membangun karakteristik Pelajar Pancasila, yang salah satunya adalah beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. 

Politisi PDIP asal Nusa Tenggara Timur ini memahami kalau belum banyak sekolah mengikuti program ini. Dia bilang, saat ini banyak program baru yang diluncurkan Kemendikbud. “Kita beri waktu untuk mensosialisasikan,” ujarnya. 

Wakil Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian mengungkapkan, Sekolah Penggerak memang baru dibuka di 111 Kab/Kota, di 34 provinsi. Hal ini didasarkan pada sejumlah kriteria dan kesanggupan Pemda untuk memberikan dukungan dalam pelaksanaannya.

“Tahun ini baru 2500 sekolah sebagai piloting, dan tahun depan akan bertambah sekitar 10.000 sekolah, demikian seterusnya dilakukan bertahap, sampai seluruh kabupaten/kota tercakup semuanya,” kata Hetifah, kepada wartawan.

Politikus asal Golkar ini berjanji akan terus memantau progres dan pelaksanaannya di lapangan. Jika ada masalah akan dicari solusi dan dijadikan bahan untuk penyempurnaan.

Sementara itu, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo berharap dengan keberadaan Sekolah Penggerak itu para guru makin massif menggaungkan pembiasaan nilai Pancasila kepada seluruh peserta didik. Dengan begitu, bisa menjadi habituasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Benny mengatakan, kekhawatiran sama juga dialami para tenaga pendidik. Yaitu tingkat intoleransi dan kekerasan akibat isu identitas yang berkembang ke arah yang makin memprihatinkan. Karena itu, Benny menanggap, perlu adanya perubahan paradigma pendidikan karakter.

 

Yakni dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila yang lebih menitikberatkan pada praktik dan tidak hanya terpaku pada hapalan. “Proses ini mesti terus digaungkan dengan bantuan pendekatan budaya hingga kemajuan teknologi,” tutup Benny yang juga rohaniwan Katolik ini. 

Sekadar latar saja, Mendikbud meluncurkan Program Sekolah Penggerak untuk menghasilkan Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila yang pertama adalah yang memiliki spiritualitas atau keimanan, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Menurut Nadiem, nilai-nilai ini adalah bentuk spiritualitas dan moralitas.

Nilai kedua dari profil Pelajar Pancasila adalah ke-bhinekaan global yakni sosok yang mencintai keberagaman dan mempunyai berbagai macam sudut pandang. Serta mencintai perbedaan pendapat dan punya perspektif global. Gambaran Pelajar Pancasila yang ketiga adalah bergotong royong, yakni kemampuan bekerja dalam tim, kemampuan saling membantu, kemampuan berempati.

Nadiem mengakui setiap aktivitas di masa depan pasti membutuhkan kerjasama yang kolaboratif dan produktif. Sehingga nilai gotong royong sangat dibutuhkan. “Yang keempat adalah kreativitas atau kemampuan berpikir dengan perspektif perspektif berbeda. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang mungkin belum pernah terlihat, dan kemampuan, serta keberanian menemukan inovasi,” ungkap Nadiem.

Lalu nilai yang kelima adalah bernalar kritis.Kemampuan memecahkan masalah yang belum diselesaikan. Ini adalah kemampuan bernalar kritis, kemampuan memproses informasi secara kritis. Sementara nilai Pelajar Pancasila yang terakhir adalah kemandirian. Para pelajar diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. [BCG]

]]> Anggota Komisi X DPR, Andreas Hugo Pareira menyarankan, kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim agar gencar mensosialisasikan Program Sekolah Penggerak. Dengan begitu, keinginan Nadiem mencetak Pelajar Pancasila bisa berjalan mulus. 

Awal Februari lalu, Nadiem meluncurkan Program Sekolah Penggerak. Tujuan program ialah menghasilkan Pelajar Pancasila. Sejak diluncurkan, sejumlah sekolah mulai mendaftar mengikuti. 

Anggota Komisi X DPR, Andreas Hugo Pareira memaklumi, kalau belum banyak sekolah yang mengikuti program tersebut. Kata dia, dari hasil rapat dengan Kemendikbud baru-baru ini, ada banyak sekolah dan kepala daerah yang tidak mengetahui detail program tersebut. Akibatnya, banyak kepala daerah tidak mengikuti program tersebut. 

Menurut dia, banyak sekolah tidak mengikuti karena tidak memahami kriteria atau syarat yang diperlukan mengikuti program tersebut. Karena itu, ini pekerjaan rumah bagi Mas Menteri agar memassifkan sosialisasi.

“Kementerian harus gencar melakukan sosialisasi. Bagaimana kriteria sekolah yang diperlukan, dan sebagainya. Sehingga sekolah mengetahui dan memahami betul bagaimana prosedur dan mekanisme dan apa konsekuensinya ketika mendaftar,” kata Andreas, saat berbincang dengan wartawan Selasa (30/3). 

Dengan sosialisasi yang massif, sekolah dan pemerintah daerah lebih paham mengenai konsekuensi program tersebut. Dia yakin, jika sudah paham program ini akan banyak diikuti. Karena tujuan akhir program tersebut adalah membangun karakteristik Pelajar Pancasila, yang salah satunya adalah beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. 

Politisi PDIP asal Nusa Tenggara Timur ini memahami kalau belum banyak sekolah mengikuti program ini. Dia bilang, saat ini banyak program baru yang diluncurkan Kemendikbud. “Kita beri waktu untuk mensosialisasikan,” ujarnya. 

Wakil Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian mengungkapkan, Sekolah Penggerak memang baru dibuka di 111 Kab/Kota, di 34 provinsi. Hal ini didasarkan pada sejumlah kriteria dan kesanggupan Pemda untuk memberikan dukungan dalam pelaksanaannya.

“Tahun ini baru 2500 sekolah sebagai piloting, dan tahun depan akan bertambah sekitar 10.000 sekolah, demikian seterusnya dilakukan bertahap, sampai seluruh kabupaten/kota tercakup semuanya,” kata Hetifah, kepada wartawan.

Politikus asal Golkar ini berjanji akan terus memantau progres dan pelaksanaannya di lapangan. Jika ada masalah akan dicari solusi dan dijadikan bahan untuk penyempurnaan.

Sementara itu, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo berharap dengan keberadaan Sekolah Penggerak itu para guru makin massif menggaungkan pembiasaan nilai Pancasila kepada seluruh peserta didik. Dengan begitu, bisa menjadi habituasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Benny mengatakan, kekhawatiran sama juga dialami para tenaga pendidik. Yaitu tingkat intoleransi dan kekerasan akibat isu identitas yang berkembang ke arah yang makin memprihatinkan. Karena itu, Benny menanggap, perlu adanya perubahan paradigma pendidikan karakter.

 

Yakni dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila yang lebih menitikberatkan pada praktik dan tidak hanya terpaku pada hapalan. “Proses ini mesti terus digaungkan dengan bantuan pendekatan budaya hingga kemajuan teknologi,” tutup Benny yang juga rohaniwan Katolik ini. 

Sekadar latar saja, Mendikbud meluncurkan Program Sekolah Penggerak untuk menghasilkan Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila yang pertama adalah yang memiliki spiritualitas atau keimanan, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Menurut Nadiem, nilai-nilai ini adalah bentuk spiritualitas dan moralitas.

Nilai kedua dari profil Pelajar Pancasila adalah ke-bhinekaan global yakni sosok yang mencintai keberagaman dan mempunyai berbagai macam sudut pandang. Serta mencintai perbedaan pendapat dan punya perspektif global. Gambaran Pelajar Pancasila yang ketiga adalah bergotong royong, yakni kemampuan bekerja dalam tim, kemampuan saling membantu, kemampuan berempati.

Nadiem mengakui setiap aktivitas di masa depan pasti membutuhkan kerjasama yang kolaboratif dan produktif. Sehingga nilai gotong royong sangat dibutuhkan. “Yang keempat adalah kreativitas atau kemampuan berpikir dengan perspektif perspektif berbeda. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang mungkin belum pernah terlihat, dan kemampuan, serta keberanian menemukan inovasi,” ungkap Nadiem.

Lalu nilai yang kelima adalah bernalar kritis.Kemampuan memecahkan masalah yang belum diselesaikan. Ini adalah kemampuan bernalar kritis, kemampuan memproses informasi secara kritis. Sementara nilai Pelajar Pancasila yang terakhir adalah kemandirian. Para pelajar diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories