Cekal Orang Dekat Azis Syamsuddin KPK Buka Lagi Kasus Suap Pengurusan DAK Lamteng .

Kasus suap penyidik AKP Stepanus Robin Pattuju seperti membuka kotak pandora. Perkara ini menjadi pintu masuk bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dalam kasus rasuah lainnya.

Untuk keperluan penyidikan, KPK ikut mencekal Aliza Gunado Ladony yang diduga orang dekat Azis.

“Agar pada saat diperlukan untuk dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan pihak-pihak tersebut tetap berada di wilayah Indonesia,” kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri.

Ali masih enggan membeberkan keterkaitan Aliza. Ia berdalih penyidikan masih berjalan. Namun diduga terkait dengan kasus pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) yang pernah diusut lembaga antirasuah.

Hubungan antara Aliza dan Azis terungkap dalam sidang perkara korupsi dengan terdakwa mantan Bupati Lamteng, Mustafa pada 11 Februari 2021.

Dalam sidang itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menghadirkan mantan Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum (PU) Lamteng, Taufik Rahman sebagai saksi.

Taufik menyebut ada fee sebesar Rp 2,5 miliar untuk pengu­rusan DAKtahun 2017 melalui Aliza. Uang itu untuk diteruskan kepada Azis.

Taufik mengungkapkan, dia diberitahu Aliza merupakan orang dekat Azis yang kala itu menjabat Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR. Aliza bisa membantu meningkatkan DAK Lamteng dari Rp 23 miliar menjadi Rp 100 miliar.

Kesaksian Taufik dibenarkan Mustafa. Mustafa mengungkapkan pernah mendatangi rumah Azis. Menurutnya, Azis meminta fee 8 persen untuk mengusulkan DAK bagi Kabupaten Lampung Tengah.

Mustafa lalu menyuruh Kepala Dinas Bina Marga, Taufik Rahman untuk berkoordinasi dengan Azis guna pengurusan DAK.

Azis membantah meminta fee dalam pengurusan DAK Lampung Tengah tahun 2017. “Tidak benar,” katanya.

Meski begitu, dia menghargai proses hukum yang berjalan. Hanya saja dia berharap tidak ada politisasi yang mengarah kepada pembunuhan karakter.

 

Nama Azis kembali muncul dalam penyidikan yang dilakukan KPK. Masih soal rasuah pengurusan DAK. Tapi untuk tahun 2018. Kasus ini menjerat anggota Komisi XI saat itu, Amin Santono. Azis pun ikut diperiksa.

Selang dua tahun, KPK mengumumkan keterlibatan Azis dalam kasus suap penyidik AKP Stepanus Robin Pattuju.

Berawal ketika Syahrial menemui Azis di rumah dinasnya pada Oktober 2020. Syahrial menyampaikan penyelidikan yang sedang dilakukan KPK di wilayahnya.

Syahrial meminta Azis membantunya. Azis lalu memerintahkan ajudannya menghubungi Stepanus agar datang. Stepanus meluncur ke rumah dinas Azis.

Azis memperkenalkan Syahrial dengan Stepanus. Syahril pun mengutarakan keinginan agar perkara yang melibatkan dirinya tidak naik ke penyidikan.

“MS meminta agar SRP (Stepanus) dapat membantu supaya nanti permasalahan penyelidikan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK,” ungkap Ketua KPK Komisaris Jenderal Firli Bahuri.

Untuk menindaklanjuti permintaan itu, Stepanus memperkenalkan Syahrial dengan pengacara Maskur Husain. Disepakati biaya Rp 1,5 miliar untuk menyetop pengusutan KPK di Tanjungbalai.

Syahrial kemudian mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali ke rekening milik Riefka Amalia, teman Stepanus. Rekening ini sudah disiapkan untuk menampung rasuah. Total, Stepanus sudah menerima Rp 1,3 miliar. Stepanus membaginya Rp 325 juta dan Rp 200 juta untuk Maskur.

Kasus rasuah ini terbongkar. Stepanus dan Maskur ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya sudah lebih dulu mendekam di sel KPK. Stepanus ditahan di Rutan Gedung Merah Putih. Maskur di Rutan Pomdam Jaya Guntur.

Firli menegaskan agar mengusut keterlibatan Azis daam kasus ini. “Nanti kita akan terus melakukan upaya-upaya untuk mengungkap seterang-terangnya perkara dan apa yang dilakukan Saudara AZ (Azis Syamsuddin) sebagai Wakil Ketua DPR,” ujarnya.

Dia memastikan pengusutan perkara jual beli jabatan di Pemerintah Kota Tanjungbalai tidak akan terganggu dengan adanya kasus Stepanus. “Perkara itu tetap berjalan,” tuntasnya.

Rakyat Merdeka mencoba meminta konfirmasi dari Azis Syamsuddin mengenai keterlibatan di kasus ini. Ia hanya menjawab pesan dengan singkat, “Bismillah alfatihah.” [BYU]

]]> .
Kasus suap penyidik AKP Stepanus Robin Pattuju seperti membuka kotak pandora. Perkara ini menjadi pintu masuk bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dalam kasus rasuah lainnya.

Untuk keperluan penyidikan, KPK ikut mencekal Aliza Gunado Ladony yang diduga orang dekat Azis.

“Agar pada saat diperlukan untuk dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan pihak-pihak tersebut tetap berada di wilayah Indonesia,” kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri.

Ali masih enggan membeberkan keterkaitan Aliza. Ia berdalih penyidikan masih berjalan. Namun diduga terkait dengan kasus pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) yang pernah diusut lembaga antirasuah.

Hubungan antara Aliza dan Azis terungkap dalam sidang perkara korupsi dengan terdakwa mantan Bupati Lamteng, Mustafa pada 11 Februari 2021.

Dalam sidang itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menghadirkan mantan Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum (PU) Lamteng, Taufik Rahman sebagai saksi.

Taufik menyebut ada fee sebesar Rp 2,5 miliar untuk pengu­rusan DAKtahun 2017 melalui Aliza. Uang itu untuk diteruskan kepada Azis.

Taufik mengungkapkan, dia diberitahu Aliza merupakan orang dekat Azis yang kala itu menjabat Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR. Aliza bisa membantu meningkatkan DAK Lamteng dari Rp 23 miliar menjadi Rp 100 miliar.

Kesaksian Taufik dibenarkan Mustafa. Mustafa mengungkapkan pernah mendatangi rumah Azis. Menurutnya, Azis meminta fee 8 persen untuk mengusulkan DAK bagi Kabupaten Lampung Tengah.

Mustafa lalu menyuruh Kepala Dinas Bina Marga, Taufik Rahman untuk berkoordinasi dengan Azis guna pengurusan DAK.

Azis membantah meminta fee dalam pengurusan DAK Lampung Tengah tahun 2017. “Tidak benar,” katanya.

Meski begitu, dia menghargai proses hukum yang berjalan. Hanya saja dia berharap tidak ada politisasi yang mengarah kepada pembunuhan karakter.

 

Nama Azis kembali muncul dalam penyidikan yang dilakukan KPK. Masih soal rasuah pengurusan DAK. Tapi untuk tahun 2018. Kasus ini menjerat anggota Komisi XI saat itu, Amin Santono. Azis pun ikut diperiksa.

Selang dua tahun, KPK mengumumkan keterlibatan Azis dalam kasus suap penyidik AKP Stepanus Robin Pattuju.

Berawal ketika Syahrial menemui Azis di rumah dinasnya pada Oktober 2020. Syahrial menyampaikan penyelidikan yang sedang dilakukan KPK di wilayahnya.

Syahrial meminta Azis membantunya. Azis lalu memerintahkan ajudannya menghubungi Stepanus agar datang. Stepanus meluncur ke rumah dinas Azis.

Azis memperkenalkan Syahrial dengan Stepanus. Syahril pun mengutarakan keinginan agar perkara yang melibatkan dirinya tidak naik ke penyidikan.

“MS meminta agar SRP (Stepanus) dapat membantu supaya nanti permasalahan penyelidikan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK,” ungkap Ketua KPK Komisaris Jenderal Firli Bahuri.

Untuk menindaklanjuti permintaan itu, Stepanus memperkenalkan Syahrial dengan pengacara Maskur Husain. Disepakati biaya Rp 1,5 miliar untuk menyetop pengusutan KPK di Tanjungbalai.

Syahrial kemudian mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali ke rekening milik Riefka Amalia, teman Stepanus. Rekening ini sudah disiapkan untuk menampung rasuah. Total, Stepanus sudah menerima Rp 1,3 miliar. Stepanus membaginya Rp 325 juta dan Rp 200 juta untuk Maskur.

Kasus rasuah ini terbongkar. Stepanus dan Maskur ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya sudah lebih dulu mendekam di sel KPK. Stepanus ditahan di Rutan Gedung Merah Putih. Maskur di Rutan Pomdam Jaya Guntur.

Firli menegaskan agar mengusut keterlibatan Azis daam kasus ini. “Nanti kita akan terus melakukan upaya-upaya untuk mengungkap seterang-terangnya perkara dan apa yang dilakukan Saudara AZ (Azis Syamsuddin) sebagai Wakil Ketua DPR,” ujarnya.

Dia memastikan pengusutan perkara jual beli jabatan di Pemerintah Kota Tanjungbalai tidak akan terganggu dengan adanya kasus Stepanus. “Perkara itu tetap berjalan,” tuntasnya.

Rakyat Merdeka mencoba meminta konfirmasi dari Azis Syamsuddin mengenai keterlibatan di kasus ini. Ia hanya menjawab pesan dengan singkat, “Bismillah alfatihah.” [BYU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories