Cegah Penyebaran Corona Liburan Wajib Dibatasi Lho Ya…

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan, pemerintah akan melakukan pengetatan pergerakan massa demi mencegah penularan Covid-19. Salah satunya, dengan membatasi intensitas liburan masyarakat.

Dia mengakui, kebijakan tersebut memang tidak mengenakkan. Tetapi mau tak mau langkah itu harus dilakukan untuk mengurangi angka penyebaran Covid-19 di Tanah Air. “Yang kurang mengenakkan dari kebi­jakan pemerintah, ya liburan. Sekarang liburan terus di­kurangi. Ini tidak lain untuk mengurangi perputaran masyarakat untuk bergerak,” ujar Erick, kemarin.

Upaya pembatasan massa yang dilakukan pemerintah itu dibarengi proses vaksi­nasi nasional. Per Jumat, 16 April 2021, total dosis vaksin Covid-19 yang te­lah disuntikkan mencapai 16.526.130. Jumlah itu ter­diri dari 10.796.184 dosis pada vaksinasi tahap Idan 5.819.946 dosis tahap II.

“Apakah kita happy dengan situasi ini? Tidak. Karena sekarang global re­action saling memproteksi vaksin-vaksin ini. Kita juga menjadi terjepit. Tapi alham­dulillah, kita masih punya sekarang,” imbuhnya.

Pemerintah akan terus mempercepat program vak­sinasi yang menyasar 70 persen dari total penduduk Indonesia, demi memben­tuk herd immunity (keke­balan kelompok). Karena itu, kata Erick, pemerin­tah tidak hanya melaku­kan impor vaksin, tetapi mencari jalan untuk terus memproduksi. Baik vaksin Merah Putih, atau vaksin kerja sama dengan swasta maupun pihak asing.

Secara terpisah, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memper­ingatkan adanya lonjakan tinggi gelombang Covid-19 dunia. Mulai dari negara-negara Eropa, negara Asia seperti India, Filipina, dan Papua Nugini, serta negara Amerika Selatan seperti Brazil dan Chili.

Untuk itu, seluruh masyarakat diharapkan tetap waspada meski program vaksi­nasi sudah dijalankan.

“Perlu saya ingatkan, jangan sampai program vaksinasi Covid-19 ini membuat kita tidak was­pada, terlena,” imbau Budi saat menyambut kedatangan 6 juta bulk vaksin Sinovac, di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, kemarin.

Diingatkan mantan Direktur Bank Mandiri itu, masyarakat harus tetap menjaga protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Lonjakan bisa saja terjadi lagi bila tidak me­matuhi protokol kesehatan secara ketat.

Kalau hal itu terjadi, program vaksinasi yang su­dah berjalan dan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro yang sudah berhasil menurunkan kasus, jadi sia-sia.

“Jangan sampai keras kita selama ini sia-sia, karena kita lupa kurang waspada. Mari kita tetap menjalankan protokol kesehatan, men­cuci tangan dan menjaga jarak. Lalu kita juga vaksinasi, terutama para lansia (lanjut usia -red),” tegas Budi. [JAR]

]]> Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan, pemerintah akan melakukan pengetatan pergerakan massa demi mencegah penularan Covid-19. Salah satunya, dengan membatasi intensitas liburan masyarakat.

Dia mengakui, kebijakan tersebut memang tidak mengenakkan. Tetapi mau tak mau langkah itu harus dilakukan untuk mengurangi angka penyebaran Covid-19 di Tanah Air. “Yang kurang mengenakkan dari kebi­jakan pemerintah, ya liburan. Sekarang liburan terus di­kurangi. Ini tidak lain untuk mengurangi perputaran masyarakat untuk bergerak,” ujar Erick, kemarin.

Upaya pembatasan massa yang dilakukan pemerintah itu dibarengi proses vaksi­nasi nasional. Per Jumat, 16 April 2021, total dosis vaksin Covid-19 yang te­lah disuntikkan mencapai 16.526.130. Jumlah itu ter­diri dari 10.796.184 dosis pada vaksinasi tahap Idan 5.819.946 dosis tahap II.

“Apakah kita happy dengan situasi ini? Tidak. Karena sekarang global re­action saling memproteksi vaksin-vaksin ini. Kita juga menjadi terjepit. Tapi alham­dulillah, kita masih punya sekarang,” imbuhnya.

Pemerintah akan terus mempercepat program vak­sinasi yang menyasar 70 persen dari total penduduk Indonesia, demi memben­tuk herd immunity (keke­balan kelompok). Karena itu, kata Erick, pemerin­tah tidak hanya melaku­kan impor vaksin, tetapi mencari jalan untuk terus memproduksi. Baik vaksin Merah Putih, atau vaksin kerja sama dengan swasta maupun pihak asing.

Secara terpisah, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memper­ingatkan adanya lonjakan tinggi gelombang Covid-19 dunia. Mulai dari negara-negara Eropa, negara Asia seperti India, Filipina, dan Papua Nugini, serta negara Amerika Selatan seperti Brazil dan Chili.

Untuk itu, seluruh masyarakat diharapkan tetap waspada meski program vaksi­nasi sudah dijalankan.

“Perlu saya ingatkan, jangan sampai program vaksinasi Covid-19 ini membuat kita tidak was­pada, terlena,” imbau Budi saat menyambut kedatangan 6 juta bulk vaksin Sinovac, di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, kemarin.

Diingatkan mantan Direktur Bank Mandiri itu, masyarakat harus tetap menjaga protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Lonjakan bisa saja terjadi lagi bila tidak me­matuhi protokol kesehatan secara ketat.

Kalau hal itu terjadi, program vaksinasi yang su­dah berjalan dan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro yang sudah berhasil menurunkan kasus, jadi sia-sia.

“Jangan sampai keras kita selama ini sia-sia, karena kita lupa kurang waspada. Mari kita tetap menjalankan protokol kesehatan, men­cuci tangan dan menjaga jarak. Lalu kita juga vaksinasi, terutama para lansia (lanjut usia -red),” tegas Budi. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories