Cegah Penularan Corona Penumpang Angkutan Umum Masih Dibatasi

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) masih memberlakukan pembatasan kapa­sitas pada layanan angku­tan umum. Pembatasan ini bagian dari protokol kesehatan untuk transportasi umum perkotaan.

Kepala BPTJ Polana B. Pramesti menjelaskan, selain mencegah penularan Covid-19, penerapan protokol kesehatan juga bermanfaat untuk menjaga kepercayaan publik. Soalnya, di tengah pandemi seperti sekarang banyak orang was-was bepergian lantaran khawatir terpapar virus.

“Kami masih terus men­jaga kepercayaan masyarakat menggunakan transportasi publik selama pandemi ini,” ujar Polana dalam webi­nar bertema “Bermobilitas Harian Dengan Transportasi Publik, Siapa Takut”, ke­marin.

Hadir juga dalam Webinar tersebut artis dan Pegiat Lingkungan Hidup, Nadine Chandrawinata, serta Founder & Chairman Junior Doctor Network Indonesia dr. Andi Khomeini Takdir, SpPD. BPTJ juga berkoor­dinasi dengan pihak terkait, demi memastikan transpor­tasi umum selamat, aman, nyaman, sehat dan ramah lingkungan, serta ketat mene­gakkan protokol kesehatan.

Pembatasan kapasitas di­anggap penting untuk penegakan protokol kesehatan pada masa pandemi. BPTJ juga mengintruksikan agar layanan seperti kereta api, bus, dan lainnya tetap mem­batasi jumlah penumpang­nya. “Ini bagian upaya kami membangun kepercayaan publik terhadap angkutan umum massal, agar tidak terjadi penularan Covid-19 di angkutan umum massal,” tutur Polana.

Protokol kesehatan juga diterapkan di stasiun atau terminal. Di beberapa ti­tik, dipasang hand sanitizer. Ada juga pengecekan suhu tubuh, hingga tes Covid-19 bagi penumpang kereta jarak jauh.

Supaya implementasi protokol kesehatan makin dirasakan manfaatnya oleh publik, BPTJ juga melibatkan lembaga kompeten seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Ombudsman. Dua lembaga ini memantau protokol kesehatan pada layanan angkutan umum massal perkotaan di wilayah Jabodetabek.

“Pembatasan kapasitas memang dampaknya terasa sekali bagi perusahaan angkutan, karena penurunan jumlah penumpang. Namun kami berharap kepercayaan masyarakat terhadap layanan angkutan umum massal tetap terjaga,” harapnya. [JAR]

]]> Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) masih memberlakukan pembatasan kapa­sitas pada layanan angku­tan umum. Pembatasan ini bagian dari protokol kesehatan untuk transportasi umum perkotaan.

Kepala BPTJ Polana B. Pramesti menjelaskan, selain mencegah penularan Covid-19, penerapan protokol kesehatan juga bermanfaat untuk menjaga kepercayaan publik. Soalnya, di tengah pandemi seperti sekarang banyak orang was-was bepergian lantaran khawatir terpapar virus.

“Kami masih terus men­jaga kepercayaan masyarakat menggunakan transportasi publik selama pandemi ini,” ujar Polana dalam webi­nar bertema “Bermobilitas Harian Dengan Transportasi Publik, Siapa Takut”, ke­marin.

Hadir juga dalam Webinar tersebut artis dan Pegiat Lingkungan Hidup, Nadine Chandrawinata, serta Founder & Chairman Junior Doctor Network Indonesia dr. Andi Khomeini Takdir, SpPD. BPTJ juga berkoor­dinasi dengan pihak terkait, demi memastikan transpor­tasi umum selamat, aman, nyaman, sehat dan ramah lingkungan, serta ketat mene­gakkan protokol kesehatan.

Pembatasan kapasitas di­anggap penting untuk penegakan protokol kesehatan pada masa pandemi. BPTJ juga mengintruksikan agar layanan seperti kereta api, bus, dan lainnya tetap mem­batasi jumlah penumpang­nya. “Ini bagian upaya kami membangun kepercayaan publik terhadap angkutan umum massal, agar tidak terjadi penularan Covid-19 di angkutan umum massal,” tutur Polana.

Protokol kesehatan juga diterapkan di stasiun atau terminal. Di beberapa ti­tik, dipasang hand sanitizer. Ada juga pengecekan suhu tubuh, hingga tes Covid-19 bagi penumpang kereta jarak jauh.

Supaya implementasi protokol kesehatan makin dirasakan manfaatnya oleh publik, BPTJ juga melibatkan lembaga kompeten seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Ombudsman. Dua lembaga ini memantau protokol kesehatan pada layanan angkutan umum massal perkotaan di wilayah Jabodetabek.

“Pembatasan kapasitas memang dampaknya terasa sekali bagi perusahaan angkutan, karena penurunan jumlah penumpang. Namun kami berharap kepercayaan masyarakat terhadap layanan angkutan umum massal tetap terjaga,” harapnya. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories